Plan memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya di rumah sakit yang sama dengan Mean. Ia kemudian menerima tawaran Antoine dan bekerja bersamanya selama hampir tujuh tahun ke berbagai negara konflik, miskin, terbelakang, dan lain-lain yang ditunjuk PBB.
Setelah tujuh tahun berkeliling, ia menetap di Cannes, Prancis selama dua tahun, bekerja di sebuah klinik khusus perempuan dan anak sebelum akhirnya ia menerima tawaran bekerja di Jepang sebagai dokter dan pengajar di sebuah universitas negeri di jurusan medis dan sebagai peneliti serta dokter anak juga di rumah sakit yang juga dimiliki oleh unibersitas itu.
Saat ini ia menetap di Jepang dan memilih menikmati kehidupannya sendiri. Ia menolak lamaran Antoine meski mereka sempat menjalin hubungan selama beberapa waktu selama bekerja di PBB itu. Plan trauma. Antoine dan Mean tipe yang sama. Para pejantan tangguh yang selalu dikelilingi wanita. Meski Antoine lebih jelas memiliki perasaan kepadanya, ia tak sanggup mengatakan iya saat Antoine mengajaknya menikah. Alasannya, ia sangat khawatir Antoine akan membuangnya sama seperti Mean yang mengabaikannya dulu.
Plan lebih memilih menutup perasaannya dan berkonsentrasi pada pekerjaannya saja. Bangun, bekerja, pulang, tidur. Itu adalah bagian dari rutinitas sehari-harinya. Kadang-kadang minum jika ada undangan dari teman atau jika mau saja.
Sementara itu, Mean masih pada pekerjaannya. Kariernya semakin cemerlang. Begitu pula kehidupan cintanya. Ia menikahi Dream, kekasihnya, seperti yang ia bilang kepada Plan dulu dan tinggal di sebuah apartemen mewah di pusat kota Bangkok.
Kehidupannya berjalan sangat lancar. Kedua suami istri ini sangat sibuk dengan pekerjaannya masing-masing sebab keduanya memang gila kerja dan ambisius. Menginjak usia tiga tahun pernikahan, keretaka itu mulai terjadi. Dan semuanya bermuara pada satu maasalah, yaitu anak.
Orang tua Mean yang masih memegang prinsip orang tua konvesional itu, terus-menerus mendorong Dream untuk memiliki anak. Dream mengiyakan. Bukan karena ia juga memimpikan kehadiran sang bayi di antara mereka, melainkan karena ia bosan diceramahi mertuanya terus-menerus.
Dream beberapa kali hamil, sayangnya selalu keguguran karena memang ia sendiri selalu memadati otaknya dengan pekerjaan. Tidak ada waktu untuk memikirkan kesehatan sang jabang bayi yang bersarang di perutnya itu. Pertengkaran mulai menjadi-jadi adi antara pasangan itu dan puncaknya Mean dan Dream akhirnya memilih untuk bercerai.
Mean tahu ini karma dirinya karena ia sudah pernah menyakiti seseorang dan ia pun menerima dan pasrah pada kenyataan itu. Ia masih menjalani kehidupannya seperti biasa. Semua yang ia rasakan ia pendam sendiri dan setelah berlalu dengan Dream, ia sempat berkencan dengan beberapa perempuan, tapi tak serius.
Sudah dua tahun sejak ia bercerai dengan Dream dan suatu hari, ia mendapat undangan pernikahan dari Yacht, yang akhirnya menikahi Sammy. Mereka akan menikah di Ayutthaya sebab keduanya sudah lama pindah ke sana dan bekerja di di rumah sakit yang sama.
Pernikahan mereka akan diadakan di sebuah kapal pesiar. Oleh karena itu, Mean tak boleh terlambat atua ia akan ditinggalkan berlayar. Mean terbang dua hari sebelum pernikahan dan menyewa sebuah kamar hotel berbintang lima di sana.
Ia sangat terkejut saat ia keluar dari lift untuk makan siang, ia melihat Plan tengah cek-in di bagian resepsionis di hotel yang sama dengannya. Mean meneguk ludah beberapa kali. Meski jaraknya cukup jauh, ia bisa pastikan bahwa perempuan yang pernah ia sakiti itu terlihat semakin menawan. Dan ia sendirian pula. O, atau Antoine mungkin akan menyusulnya nanti. Begitu pikir Mean.
Mean menundukkan kepalanya, berharap agar tak berapapasan dengannya untuk saat itu sebab ia bingung apa yang akan dia katakna jika mereka harus bertemu muka. Ia sendiri seharusnya sudah bisa memprediksi bahwa Plan juga akan datang ke Ayutthaya sebab Sammy adalah sahabatnya.
Mean berhasil menghindari Pkan siang itu, tapi tak bisa menahan dirinya saat ia berjalan di tepi pantai pads malam harinya dan menemukan Plan tengah berjalan di hadapannya menuju ke arahnya sambil sepasang sepatunya di tangannya.
Rambutnya yang panjang tertiup angin dan beberapa kali, ia mencoba menyibakkannya dengan tangan yang satunya lagi dan tersenyum sendiri saat berhasil menyibakkan rambutnya dan roknya yang kini hampir terbang. Mean tertawa melihat reaksi Plan yang seolah kewalahan melawan angin yang tengah menggodanya.
Kali ini Mean tak menghindar. Mereka berdiri berhadapan dengan reaksi yang berbeda pada kedua wajah. Yang lelaki tersenyum sementara yang perempuan menganga.
"Apa kabar? " tanya Mean setelah mereka berhadapan dengan jarak yang dekat.
"Baik," ujar Plan sambil menyunggingkan senyuman.
"Kau sendirian?" Keduanya bertanya bersamaan.
Keduanya tergelak.
"Ah, begitu! Jadi sekarang kau di Jepang," ujar Mean. Mereka duduk di restoran hotel, berhadapan.
"Uhm," gumam Plan sambil meneguk martininya.
"Meskipun aku tak menyukaimu, tapi aku tak pernah berdoa kehidupanmu akan buruk seperti sekarang. Semoga kau menemukan seseorang yang bisa membuatmu bahagia," ujar Plan lagi.
Mereka saling berbicara tentang kehidupan mereka masing-masing dan itulah komentar mereka satu sama lain.
"Berapa lama kau akna tinggal di Ayutthaya?" tanya Mean.
"O, sampai selesai pernikahan. Aku tak bisa meninggalkan perkerjaanku lama-lama," sahut Plan lagi.
"Iya, aku paham," ujar Mean.
Mereka memilih tak bicara setelah itu dan lebih banyak diam dan minum dan menikmati alunan musik yang menjadi latar restoran malam itu.
"Aku harus istirahat. Kepalaku agak pusing," ujar Plan sambil beranjak dan ia berusah menahan dirinya yang tak seimbang.
"Jetlag?" Mean tersenyum.
"Mai, Martininya benar-benar menendang," sahut Plan sambil tersenyum.
"Bye," ujar Plan. Ia berjalan dengan agak sempoyongan menuju kasir.
"Aku yang bayar," ujar Mean. Tiba-tiba ia sudah ada di belakangnya.
"Tidak perlu," sahut Plan, tapi Mean sudah memberikan kartu kreditnya kepada kasir dan kasir menerimanya lalu memprosesnya.
"Ok, terima kasih," ujar Plan. Mereka berjalan bersama menuju lift, menunggu sebentar dan kemudian memasukinya bersama.
"Lantai berapa?" sahut Mean.
"Tujuh," jawab Plan sambil bersender pada dinding lift dan memegang pelipisnya.
"Oke," ujar Mean. Ia kemudian menekan tombol angka 7 dan kemudian 5.
Lift membuka di lantai 5.
"Aku duluan!" ujar Mean sambil berjalan ke luar.
"Uhm," gumam Plan yang masih pada posisinya.
"Sampai jumpa besok," ujar Mean lagi.
"Uhm," gumam Plan lagi. Dan lift menutup. Mean berjalan menuju kamarnya tapj belum sampai ia ke kamarnya. Ia berlari kembali ke lift dan menekan-nekan tombol dan lama tak membuka. Ia memutuskan menggunakan tangga darurat naik ke lantai tujuh dan kemudian ia berlari ke depan lift sambil terengah-engah.
Lift membuka dan Plan menganga. Mean sudah ada di depannya. Ia mengerjapkan matanya dan ia pikir mungkin hanya orang lain yang ia pikir Mean sebab ia memang agak mabuk. Ia menganggukkan kepalanya kepada Mean yang ia pikir orang lain dan berjalan melewati Mean.
Mean mengikuti Plan dan saat di depan kamar Plan dan Plan tengah membukanya, ia memeluk Plan dari belakang. Plan kaget. Ia hapal bau tubuh itu dan ia menoleh ke belakang. Plan tak sempat berkata apapun sebab bibir Mean sudah mendarat di bibir Plan dan menggamitnya kuat.
Bersambung
