Mean dan Noon kembar. Mereka berbeda dua detik dan Noon lahir duluan. Ini menjadikan Noon adalah kakak Mean dan Mean tentunya adiknya. Si kembar ini sudah sangat terkenal di sekolahnya sejak mereka masih TK. Keduanya selalu menjadi idola sekolah. Pasalnya, mereka cantik, tampan, dan cerdas dan semakin mereka tumbuh semakin kentara keistimewaan mereka itu.
Anak dari pasangan dokter ahli bedah dan arsitek ini sekarang sudah duduk di bangku SMA. Pamor mereka semakin menjadi. Mereka bak selebritis yang dikagumi berbagai kalangan masyarakat. Tidak salah juga sebenarnya sebab beberapa agensi memang sudah pernah menawari mereka untuk gabung dan menjadi model. Sayangnya keduanya harus menolak sebab orang tua mereka tak menyetujui.
Di sekolahnya, Mean tengah menjalin hubungan dengan Neena. Pasangan ini jadian sejak mereka duduk di kelas satu dan semuanya sangat tahu bahwa mereka adalah pasangan legendaris. Tak ada yang bisa menggoyahkan hubungan mereka. Setidaknya itu kata banyak siswa yang mengamati hubungan mereka dan khususnya juga karena Neena sudah mendapatkan lampu hijau dari orang tua Mean dan ia bersahabat baik dengan Noon.
Memasuki kelas dua SMA, Noon dan Mean berpisah kelas. Itu kali pertama dalam hidup mereka berpisah satu sama lain. Namun, mereka juga tak ada masalah sebab kelas mereka masih bertetangga alias bersebelahan.
Di kelas baru itu, Noon sebangku dengan Plan. Nama lengkapnya Plan Rathavit. Ia salah satu atlet Voli di sekolahnya dan sangat pendiam. Kehidupannya sangat berkebalikan dengan Noon dan Mean yang datang dan lahir dari keluarga ideal.
Plan tinggal dengan neneknya. Ibu dan ayahnya bercerai sejak ia berusia tiga tahun dan masing-masing menjalani kehidupan dengan keluarga barunya di negara yang berbeda. Sejak kecil tak ada satu pun dari orang tuanya yang menginginkan dia sehingga ia tumbuh dengan pribadi yang agak kompleks. Ia tidak pernah percaya cinta dan terkesan sering mempermainkan perasaan lelaki.
Dia cantik dan mungil dan memang tak akan kalah jika dideretkan dengan banyak model di luar sana. Sayangnya, dia agak dingin dan tertutup, dan ini pastinya ada kaitannya dengan latar belakang hidupnya tadi.
Mungkin itulah alasan ia mengambil ekstrakurikuler Voli sebab dengan begitu ia bisa meluapkan kemarahannya pada bola dengan cara memukulnya dengan keras dan mengalahkan lawan-lawannya.
Sejak pertama berkenalan dengan Plan, Noon merasa Planntak seperti yang dikatakan Neena. Setidaknya, Neena menjelaskan tentang Plan sebagai seorang pribadi yang kompleks tadi. Si Pematah hati lelaki, murahan, sok cantik, sok alim dengan latar belakang keluarga yang tak jelas.
Bagi Noon, Plan sosok yang diam dan tenang. Dia jarang menampakkan kemarahan. Sebaliknya, ia sering tersenyum dan fokus pada pelajaran. Setahu Noon, Plan juga tengah jalan dengan sekrang lelaki, teman kelas mereka juga yang bernama Perth Tanappon. Lelaki ini juga memiliki vibe yang sama dengan Plan dan digosipkan sama buruknya dengan Plan. Ia selalu membawa gitar meski ia bukan anggota klub musik.
Setelah sebulan bersama dalam kelas, Noon bisa mengamati dengan jelas bahwa Plan dan Perth selalu bersama saat istirahat. Tak jarang juga Noon mendapati Perth duduk di luar gym, menunggu Plan latihan. Noon bisa menyimpulkan bahwa Plan dan Perth tak seburuk yang orang pikir. Setidaknya, itu kesimpulan awal dia. Ia masih harus berhati-hati. Mean saja khawatir sampai-sampai selalu bertanya tentang keadaannya.
Noon tentu saja menjelaskan tentang keadaan dirinya dan juga penilaian dia tentang Plan. Mean percaya yang dikatakan Noon sebab Noon adalag saudara kembarnya dan yang ia rasakan, Mean juga merasakan.
Sejauh ini, Mean tak pernah berinteraksi langsung dengan Plan. Ia selalu mendengarnya dari Noon. Mereka juga sering mengamati Plan dari kejauhan. Dan saat itu Plan pasti selalu dengan Perth berjalan menuju taman dan duduk bersebelahan bermesraan layaknya orang pacaran.
"Ini," sahut Noon. Suatu hari ia memberikan surat undangan uoang tahun kepada Plan. Mereka duduk bersebelahan dan baru saja selesai dengan pelajaran matematika.
Plan terkejut. Ia melirik ke arah Noon dengan sorot mata mempertanyakan tentang undangan.
"Aku berulang tahun. Aku mengundang semua temanku di kelas. Kuharap kau datang juga," ujar Noon sambil tersenyum.
"O, terima kasih," sahut Plan ramah.
Ia membuka undangan, memastikan bahwa tanggalnya tak bentrok dengan tanggal latihan. Untunglah, tidak sama. Jadi, ia bisa hadir ke acara itu. Sayangnya Perth tak bisa. Itu hari dia manggung di kafe, sebagai pekerjaan sampingan.
Plan datang ke pesta sendirian. Ia menghadiri acara itu setelah ia latihan. Ia memakai baju yang rapi dan cukup sederhana. Memang ia memakai dress dan sedikit riasan, bentuk penghargaan kepada tuan rumah yang sudah mengundangnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Selamat ulang tahun, Noon, Khun Mean. Ini hadiah dari aku dan Perth. Semoga kalian suka," ujar Plan sambil memberikan hadiah itu kepada mereka, lalu Plan menyelamati Noon dan Mean.
"Terima kasih," ujar Mean sambil menatap Plan tak berhenti. Itu pertama kali mereka berbicara dengan jarak dekat dan saat ia menerima tangan Plan yang mungil lalu menjabatnya, ia merasakan sesuatu yang aneh, seperti aliran listrik menjalar ke tubuhnya dan membuat jantungnya berdebar kencang.
Noon yang melihat ini, menyenggol lengan Mean dan kemudian memintanya untuk lebih tenang. Terlebih Neena menghampiri mereka. Saudara kembar bisa saling merasakan. Dengan cepat Mean melepaskan tangan Plan dan Noon menyembunyikan hadiah dari Plan dengan menumpuknya bersama hadiah lain agar Neena tak banyak bertanya.
"Silakan nikmati pestanya, Plan!" sahut Noon dan secara tak langsung memintanya pergi. Plan yang paham langsung meninggalkan mereka. Bukan satu atau dua kali ia mendengar Neena berbicara sinis kepadanya sehingga ia mengerti bahwa menghindari mereka dan tidak bergaul dekat dengan mereka adalah yang terbaik.
Plan berbaur dengan yang lainnya. Mereka mengobrol dan bercanda dan ia bahkan tak sadar sepasang mata sipit yang tak bisa lepas mencari keberadaan dirinya sekarang tengah mengamatinya dari kejauhan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mean juga tak sadar bahwa Noon juga mengamatinya. Setelag selama pesta itu, Mean tak hentinya mengamati Plan, akhirnya ia perlu mengambil tindakan. Ia tahu Mean tak akan bisa dikendalikan, tapi ia juga paham bahwa ia bisa bicara dengan Plan.
Noon mendekati Plan. Ia mengajaknya ke sebuah tempat untuk berbicara. Ia mulai membahas kekhawatirannya dan pada akhirnya meminta Plan untuk tak mengganggu Mean atau tak menanggapi Mean jika suatu hari ia menggodanya.
Plan tersinggung sebenarnya saat Noon bicara tentang ini. Ia pikir Noon tak berpikir sama dengan orang lain yang menganggap dirinya perempuan penggoda dan murahan. Namun, ia masih bisa menahannya dan ia menyanggupi permintaan Noon untuj tak mengganggu Mean.