ALWAYS AND FOREVER

600 48 9
                                        

"Halo, kau lucu sekali!" ujar Plan yanh baru berusia delapan tahun kepada Mean yang baru saja berusia tiga tahun. Itu adalah pertama kali mereka bertemu saat ayah Mean memutuskan untuk menikah dengan ibu Plan.

Sejak pertama melihatnya, Mean yang awalnya sangat pemalu menjadi lebih riang dan manja kepada kakaknya, Plan. Ketika kecil, Mean selalu setia menunggu kakaknya pulang dari sekolah di halaman rumahnya dan saat mobil jemputan datang ia akam berdiri dan dengan cepat berlari menuju gerbang. Plan sudah hapal dengan kebiasaan itu.

Bahkan ketika mereka sudah dewasa. Mean yang berada di SMA kelas tiga dan Plan tengah di tingkat akhir kuliah, Mean masih sering menjemputnya dan menunggui kakaknya itu dengan setia.

Selama di universitas, Plan tak pernah punya pacar. Dia mahasiswi berprestasi dan sangat mandiri. Dia menyelesaikan kuliah S1 nya dalam waktu tiga tahun dan S2 nya selama satu tahun setengah. Setelah lulus, ia kemudian bekerja di sebuah perusahaan properti yang sangat besar dan terkenal di Thailand.

Hal yang sama juga terjadi kepada Mean. Ia mengikuti jejak kakaknya. Plan telah berhasil menjadi teladan bagi Mean dan kedua anaknya ini tentu saja telah membuat orang tua mereka bangga.

Saat Plan sudah bekerja di perusahaan selama hampir tiga tahun, Mean sedang berada di universitas program pasca sarjana mengambil program S2. Berbeda dengan Plan, Mean lebih tertarik pada IT daripada bisnis.

Pada saat di perusahaan inilah, Plan bertemu dengan Blue dan mereka menjalin kasih. Plan memperkenalkan Blue kepada keluarganya dan ini membuat Mean kaget. Pasalnya, selama ini, Mean diam-diam menyukai Plan bukan sebagai kakak, melainkan sebagai seorang wanita.

Plan tak pernah tahu bahwa alasan Mean menolak semua perempuan yang menaruh hati padanya itu karena dirinya, karena ia mencintai kakaknya layaknya ia mencintai seorang wanita.

Plan mungkin tak pernah sadar bahwa hampir setiap malam saat Mean bermain solo di kamarny, ia akan membayangkan kakaknya dalam keadaan telanjang dan menggodanya. Oleh karena itu, saat Blue diperkenalkan kepada keluarganya, Mean marah. Ia memasuki kamarnya, membanting pintu dan menguncinya.

Semuanya kaget. Tapi Plan kemudian memberitahu bahwa itu karena Mean besar bersamanya dan Mean pasti cemburu karena kakaknya akan bersama dengan yang lain. Orang tua Mean dan Plan juga mengatakan hal yang sama. Blue tentu saja paham. Mean hanya perlu waktu agar bisa menerimanya.

Malam itu, Plan mengetuk pintu kamarnya. Mean tak mau membukanya. Plan berpikir bahwa Mean masih marah kepadanya. Jadi, ia membiarkannya.

Plan kembali mengetuk pintu keesokan harinya. Kamarnya tak dikunci tapi penghuninya sudah pergi. Plan hanya bisa mengembuskan napasnya. Ia kemudian kembali ke kamarnya dan bersiap bekerja.

Mean pulang pada saat makan malam. Plan sudah menunggunya. Sayangnya Mean masih tak mau bicara hingga selesai makan malam, ia memberitahu semuanya bahwa ia akan tinggal di apartemen. Ia sudah menyewanya dan ia akan mulai tinggal di sana keesokan harinya.

Orang tuanya sangat kaget. Terlebih Plan. Oke, Mean memang marah karena Blue, tapi pindah apartemen karena hal itu agak keterlaluan. Meskipun demikian, orang tuanya tak bisa berbuat apa-apa. Mean membayar apartemen sendiri sebab ia juga sekarang bekerja sebagai asisten pengajar di kampus. Uangnya sangat besar dan cukup untuk menghidupi diri sendiri.

Plan tak bisa tinggal diam. Ia tak mau hubungan dirinya dengan Mean rusak. Oleh karena itu, ia akan bicara dengan Mean dengan cara apapun.

Plan mengambil kesempatan ini saat Mean baru saja keluar dari kamar mandi. Dengan cepat ia menarik Mean ke kamarnya dan membantingnya ke ranjang.

"Kau kenapa? Phi tak suka kalau kau begini," sahut Plan lagi.

"Phi, aku tak mau bicara dengan Phi. Aku marah. Kau akan meninggalkanku. Kau pasti akan menikah dengannya. Aku tak mau itu. Pada akhirnya aku sendirian," sahut Mean dengan kesal.

"Astagaa! Meaan, suatu hari kau juga akan menemukan seseorang yang kau cintai dan kau pasti akan menghabiskan hidupmu bersamanya," ujar Plan sambil menatapnya lembut. Nada bicaranya sama sekali tak marah.

"Phi salah besar! Aku tak mau menikaho siapapun. Aku akan selamanya dengan Phi," ujar Mean lagi.

"Hah! Kau tak boleh melakukan itu, Mean. Kau harus menikah dan berkeluarga," sahut Plan lagi.

"Benar. Aku akan menikah denganmu. Aku akan menjagamu sampai aku mati, aku janji," jawab Mean.

"Astagaa! Kita bukan anak kecil lagi. Aku ingat kau mengatakan itu sewaktu kecil. Sekarang kita sudah dewasa. Kau tak perlu melakukannya," sahut Plan.

"Phi, kau tak mengerti. Aku mencintaimu seperti aku mencintai seorang perempuan, bukan seperti saudara. Selalu dam selamanya. Kau pasti terkejut, bukan? Karena itu, biarkan aku mengambil langkah ini. Aku tak akan sanggup melihatmu bahagia dengan yang lain," sahut Mean. Ia berjalan melewati Plan yang tengah termangu karena kaget.

"Jangan pergi!" sahut Plan. Ia memegang lengan Mean.

"Phi! Kau tak paham," ujar Mean. Ia melepaskan lengannya dari pegangan tangan Plan dan berhasil.

"Kunci pintunya. Jangan keluar," sahut Plan lagi. Mean terkejut. Ia menghentikan langkahnya. Ia membalikkan tubuhnya dan melihat Plan menanggalkan pakaiannya.

"Phi Plan!" Mean kaget, tapi ia berbicara pelan. Plan menatap Mean sambil tersenyum.

"Bukan hanya kau yang menahan perasaan, Mean," lirih Plan sambil membuka tali branya dan Mean membelalakkan matanya.

Dengan cepat ia mengunci pintu dan menanggalkan pakaianya juga. Keduanya sama-sama telanjang. Mereka berdiri di depan cermin yang seukuran dengan tubuh mereka dan menatap tubuh masing-masing melalui refleksinya.

Mean memeluk Plan dari belakang dan mulai menciuminya.

"Astagaaaa! Phi Plan. Aku benar-benar menyentuhmu," desah Mean. Mean membalikkan tubuh Plan dan mereka berciuman. Perlahan, Mean membawa Plan ke ranjang dan mereka berciuman dan bercumbu sangat lama.

"Ooo, Astaga Mean," desah Plan.

"Oooo, Phi Plan. Aku mencintai Phi Plan," desah Mean.

Mereka berciuman lagi. Dan tak lama kemudian Mean memasukkan naganya ke dalam nona Plan.

"O, Meaaan enaaak sekaliiii, aaaah, aaah," desah Plan lembut. Ia harua menahannya. Jika tidak orang tua mereka akan mendengarnya.

"Phi Plaan, oooh, enaaak sekaliii, nnnngj," desah Mean juga.

Mereka menahan desahan dan lenguhan mereka dan berbicara dengan cara berbisik. Mereka saling menatap dan berciuman dan kemudian meringis karena merasakan kenikmatan. Tak lama kemudian, mereka mencapai pelepasan. Mereka tidur berpelukan dan mengatur napas mereka.

Mean memeluk Plan dan mereka masih dalam keadaan telanjang. Plan mengelus naga Mean pelan dan sang naga kembali bangun. Plan tersenyum. Ia menaiki Mean dan perlahan menelan naga Mean yang berdiri tegak.

Keduanya merintih lagi dan menikmati permainan. Sekarang hampir setiap malam mereka melakukannya. Tentunya secara diam-diam.  Plan putus dengan Blue dengan alasan Ia belun siap untuk menikah.

Setelah dua tahun, kabar duka menghampiri mereka. Orang tua Mean dan Plan meninggal karena kecelakaan di Finlandia saat liburan. Mereka menyusul ke sana dan abu orang tuanya disebar di sana sebab itu cita-cita mereka. Setelah itu, keduanya bisa tenang menjalin hubungan.

Untuk menghindari omongan dari saudara dan tetangganya, mereka pindah ke Jepang dan memulai kehidupan mereka di sana. Dan sekarang mereka bisa tenang dan terang-terangan. Mereka menikah dan melanjutkan kehidupan mereka.

"O, Meaaan, enaaak sekaliii, teruss, Meaan, nnnngh," lenguh Plan. Suaranya terdengar sangat sensual membuat Mean semakin terkesan, meninggikan berahinya.

"Phi Plaan, oooo, nnnnngh, enaaak, nnnngh," desah Mean tak kalah panjang dan tak lama kemudian keduanya sama-sama terkulai karena sudah mencapai puncak kenikmatan. Mereka sungguh kelelahan dan pada akhirnya mereka tertidur berpelukan.

Dua tahun setelah pernikahan, Plan melahirkan seorang anak lelaki yang sangat imut. Dia mirip Plan dan diberi nama Dee dan setahun kemudian saat Dee berusia satu tahun, ia melahirkan lagi seorang anak lelaki lagi dan sangat mirip dengan Mean dan diberi nama  Tee. Keduanya hidup dalam ketenangan dan kebahagiaan

Tamat



Track 3 Short Stories Mean and Plan CollectionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang