"Aaah, nnnngh, hmmm, Meaaan, aaah!" desah Plan panjang saat Mean menggoyang dirinya cukup kencang. Kedua tangan Plna mengalung pada leher Mean dan satu kakinya ditahan tangan Mean sehingga naga Mean terasa semakin berada di dalam.
"O, Plaaan, nikmat sekali, aaaa, nnnngh, so goood," racau Mean sambil terus menggoyang. Plan menoleh ke nakas dan tepat bertatapan dengan mata Noon di foto. Ia terhenyak dan meneguk ludah saat ia ingat bahwa ia telah melanggar janjinya kepada Noon. Tapi pada saat yang sama ia juga tengah berada di puncak berahi dan lebih baik menikmati permainan itu meskiP
pun ia tahu bahwa itu akan menjadi yang pertama dan terakhir kalinya.
"Meaaan, sudaaah, nnngh, aaaa, astagaa!" Plan menjerit kecil dengn tubuh yang menegang dan itu setelah tubuhmu menggelinjang hebat. Napasnya tersengal dan tubuhnya akhirnya terkulai. Ia sudah mencapai klimaksnya.
"Kau cantik sekalii!" lirih Mean saat ia sempat beristirahat sebentar menatap Plan dalam wajah sensualnya. Mean kembali meneruskan aksinya. Genjotannya semakin cepat sepertinya ia akan segera mencapai puncaknya.
"Buruan, Noon nanti pulang!" desah Plan saat Mean mendoromg naganya lebih dalam dan ia meraup bibir Plan dan menyedotnya kuat sambil menyemprotkan cairannya dalam balon pelindung dalam dinding nona Plan.
"O, aku masih mau. Kapan kita bisa melakukannya lagi?" tanya Mean sambil mencium bahu Plan. Saat itu Plan tengah menggunakan pakaiannya.
"Ini tak akan terjadi lagi. Yang kita lakukan adalah sebuah kesalahan. Minggir, aku mau pulang!" ujar Plan sambil beranjak dari ranjang.
"Mai, kita akan melakukannya lagi. Ayolah, kita begitu kompatibel di ranjang. Kau juga menikmatinya, bukan?" goda Mean. Ia berdiri dan memeluk Plan dari belakang, di di depan cermin sambil mencium lehernya. Plan tengah merapikan rambutnya yang panjang.
"Mean, Yood! Kita sudah melanggar janji kepada Noon. Aku tak akan melakukannya lagi. Aku pulang," ujar Plan. Ia membalikkan tubuhnya kepada Mean dan mencoba melepaskan dari pelukannya.
"O, Plan, ayolah!" Mean menariknya kembali ke dalam pelukannya dan dengan cepat menangkup wajahnya. Mereka berciuman lagi cukup lama dan dalam.
"Kau menyukainya, bukan? Ciumanku enak, bukan?" Plan tak menjawab. Ia memalingkan wajahnya dan mencoba melepaskan diri lagi.
"Plan, aku menyukaimu," sahut Mean lagi. Ia menangkuo wajah Plan dan menatapnya lembut.
"Kita sudah punya pacar dan kita juga sudah berjanji kepada saudarimu. Kau tahu aku bukan perempuan yang baik. Sebaiknya kita tak melanjutkan ini," ujar Plan dengan nada sedih. Tangannya melepaskan tangan Mean dari kedua pipinya dan ia kemudian berbalik berjalan menjauhi Mean dan segera keluar dari kamar Mean.
Mean diam terpaku di sana. Ia mengepalkan tangannya. Ia kemudian duduk di tepi ranjanh seolah berpikir tentang sesuatu dan menutup wajahnya dengan kedua tanganya. Tak lama ia berbaring dan mengembuskan napasnya sambil memejamkan matanya.
***
Plan berjalan menuju luar bandara. Ia baru mengantarkan Perth dan itu artinya selamat tinggal bagi hubungan dan pertemuan keduanya. Plan mengembuskan napasnya dan ia tengah berjalaj menyusuri parkiran untuk menuju halte bus saat tiba-tiba seseorang di belakangnya menarik lengannya dan ia kaget sebab tindakannya begitu tiba-tiba.
"Meaaan! Apa yang kau lakukan di sini?" Plan melotot.
"Aku mengikutimu. Aku pikir kita harus bicara," ujar Mean lagi sambil masih memegang satu lengan Plan. Plan menatapnya sejenak lalu ia menganggukkan kepalanya. Mereka duduk berdampingan di mobil Mean dan hening sejenak sebelum memulai pembicaraan.
"Aku sudah putus dengan Neena dan aku juga sudah bicara dengan Phi bahwa aku menyukaimu dan aku ingin mengejarmu," terang Mean sambil menatap Plan yang wajahnya dipenuhi dengan ekspresi terkejut.
"Noon bilang apa?" Plan penasaran.
"Ia bilang terserah. Tapi kalau kau bukanlah seperti yang kupikirkan, aku tak boleh merengek kepadanya," sahut Mean sambil tersenyum.
"Dia khawatir aku menyakitimu," ujar Plan dengan nada datar.
"Wajar. Dia kakakku," sahut Mean.
"Aku paham," ujar Plan.
Keduanya diam lagi.
"Kau sudah putus dengan Perth, bukan?" tanya Mean lagi menegaskan.
"Tidak, kami tidak putus," sahut Plan bohong.
"Jangan bohong kepadaku. Kau sudah lama putus dengan Perth bahkan saat kita melakukannya hari itu. Kau sudah tak bersama dengan siapapun. Aku sudah bicara dengan Perth," sahut Mean. Plan kaget. Ia memalingkan wajahnya dan memilih melihat pemandangan di luar jendela.
"Kalau sudah tahu, kenapa masih tanya?" Plan bicara dengan nada kesal.
"Aku ingin memastikannya langsung dari mulutmu. Tak disangka kau malah berbohong kepadaku," nada Mean kecewa. Ia diam dengan wajah yang kesal.
Plan menoleh ke arahnya. Ia tersenyum melihat wajah Mean yang merengut seperti itu. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Mean dan mencium pipinya. Mean kaget dan menoleh. Mereka bertatapan dan Mean mendekatkan wajahnya dan mencium Plan di bibirnya. Plan membalasnya dan mereka bergumul dengan penuh gairah.
Plan duduk di atas Mean dan mereka sudah sama-sama tak berpakaian. Keduanya bergerak bersamaan dan melenguh bersama pula.
"Ah, Meaaam, nnnngh! Meaaan," desah Plan sambil terus bergerak. Mean juga tengah merasakan kenikmatan yang sama dan racauan mereka semakin keras.
"Oooo, nnnngh, hmmmm, aaah!" lenguh keduanya dan mereka berciuman sambil terus bergoyang. Setelah beberapa lama, keduanya akhirnya mencapai puncak kenikmatan dan mereka berciuman untuk menutup percintaan mereka.
"Ini tak cukup," ujar Mean sambil memakai bajunya. Plan juga melakukan hal yang sama.
"Masih banyak waktu, Mean. Kita tak akan melakukannya di mobil kecuali kau mau diciduk satpam, uhm?" Plan menunjuk pada petugas keamanan yang tengah berkeliling. Mean melirik ke arah yang ditunjuk Plan dam kemudian diam.
"Kau pacarku, bukan? Kita jadian, iya, 'kan?" Mean memastikan.
"Entahlah!" Plan menggedikkan bahunya.
"Plan ayolah!" rengek Mean.
"Kita jalani saja, na! Aku juga tak yakin kau mau bersamaku selamanya," ujar Plan.
"O, akan kubuktikan! Kau lihat saja!" sahut Mean. Ia kemudian melajukan mobilnya dan mereka bertatapan sambil menyunggingkan senyuman.
Tamat
