Semenjak itu, Mean sering berkunjung ke klinik ditemani dua orang temannya yang sekaligus adalah anak buahnya. Pasti akan ada lenguhan dari dalam kamar klinik itu dan itu dari keduanya.
Saat ini terjadi, tak ada siswa yang berani mendekati klinik. Siapa yang berani bermain-main dengan Mean Phiravich? Semuanya sudah tahu bahwa ia adalah anak bungsu mafia Phiravich yang terkenal. Guru saja takut.
Namun, Mean tak pernah membuat keributan dalam sekolah biasanya. Ia juga cukup cerdas. Nilai-nilainya tak pernah mengecewakan dan ia juga tak pernah membantah apa kata guru. Namun, para guru segan berbicara kepadanya sehingga mereka tak pernah memaksa Mean masuk kelas jika ia tak mau.
Di kalangan siswa, ia terkenal diam dan tak banyak bicara. Ia juga terkenal sebagai seorang Cassanova. Banyak perempuan yang melenguh di bawah kontrol naganya sebelum ia bertemu Plan tentunya. Setelah menikmati Plan, sang Cassanova ini seolah pensiun dan sudah menemukan rumahnya. Kali inu ia benar-benar jatuh cinta. Sayangnya, umur mereka tak sebaya.
17 v.s. 27. Ini akan berakibat buruk bagi keduanya. Plan sudah terlalu sering memperingatkannya dan Mean selalu saja mengabaikannya.
Zona bercinta mereka meluas, bukan hanya di klinik saja, melainkam di lorong kelas, tempat parkir, kamar mandi, hotel, bahkan apartemen Plan. Mereka terlalu sering bercinta sehingga wajar kalau Plan hamil.
Saat ini terjadi, Plan bingung bukan main. Jika ia bilang kepada Mean, apa yang akan terjadi kepada anak yang masih sangat muda ini. Dan kalau sampai ketahuan sekolah, akan menjadi rumit urusannya.
Plan mundur teratur. Suatu hari ia menghilang dari semuanya dan ia meninggalkan sebuah surat untuk setiap urusan. Ia mengundurkan diri dari sekolah, memutuskan tunangan dan meminta maaf kepada Blue dan menjelaskan alasannya, meminta maaf kepada orang tuanya dan terakhir adalah kepada Mean. Ia meminta maaf karena meninggalkan dirinya.
Ia bilang bahwa ia jatuh cinta kepada Mean seperti ia mencintai seorang lelaki yang tak mungkin dilakukannya kepada Mean sebab melihat situasi dan keadaannya, mereka sangatlah berbeda. Masa depan Mean masih panjang dan ia tak mau merusaknya.
Yang lain bisa menerima. Blue marah tapi ia bisa mengatasinya. Orang tua Plan kecewa, tapi mereka mencoba memahaminya. Sekolah juga kecewa tapi, mereka tak bisa berbuat apa-apa. Satu-satunya yang tak bisa menerima adalah Mean Phiravich.
Ia mengerahkan anak buahnya, meminta mereka mencari keberadaan Plan. Usahanya ini membuahkan hasil setelah tujuh bulan. Plan bersembunyi di Jepang di sebuah kota kecil bernama Nagano. Ia bekerja di sebuah SD sebagai guru matematika.
Mean menyusulnya. Ia tak percaya dengan yang dilihatnya. Plan yang baru saja berbelanja dengan perut besarnya berdiri di depannya dengan keadaan sedih.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Plan. Mereka duduk berhadapan di apartemen Plan yang kecil.
"Aku marah kepadamu. Kenapa kau meninggalkanku?" Mean menatap Plan kesal.
"Kau tahu alasannya. Aku mengandung anakmu. Aku jatuh cinta kepadamu. Itu dua hal yang tak boleh terjadi. Kita sangat berbeda. Jika semua tahu, masa depanmu akan hancur," sahut Plan lagi.
"Aku tak peduli. Aku juga mencintaimu," sahut Mean.
"Meaaan, dengar! Kalau kau sayang dirimu sendiri, mungkin akam lebih baik kalau kau melupakan aku dan menjalani hidupmu sendiri. Suatu hari, kau akan menemukan seseorang yang kau cintai dan kau bisa berbagi kasih dengannya," sahut Plan membujuknya.
"Aku tak mau. Aku mencintaimu. Aku hanya ingin kau," sahut Mean lagi. Plan diam. Usahanya tak akan membuahkan hasil dan ia tahu watak Mean yang keras itu.
"Bagaimana orang tuamu?" Plan bertanya.
"Mereka tak apa-apa. Dengan siapapun aku bersama. Aku tak akan menjadi pemimpin. Hanya kakkaku yang bisa melakukannya. Mereka membolehkan aku jadi apa saja," sahut Mean lagi.
"Benarkah?" Plan mengernyitkan alisnya.
"Uhm. Sekarang aku dan Perth serta Yacht memang menangani beberapa klub malam. Ibuku yang memintanya. Ia kewalahan," sahut Mean.
"Kau masih ke sekolah, bukan?" Plan bertanya lagi.
"Tentu saja," sahut Mean.
"Kalau begitu, tetaplah ke sekolah dan lakukan tugasmu. Kau tahu di mana aku. Aku tak akan ke mana-mana," ujar Plan meyakinkan.
"Kau tak membohongiku?" Mean memicingkan matanya.
"Anak ini anakmu. Aku mencintaimu. Kupikir kalau aku meninggalkanmu, kau akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Tapi, jika kau memang ingin bersamaku, aku bahagia. Aku juga ingin bersamamu," ujar Plan lagi.
Mean tersenyum. Ia beranjak dari duduknya dan memeluk Plan. Mereka berciuman lama dan kemudian berpelukan lagi.
"Aku sangat merindukanmu," bisik Mean.
"Aku juga," desah Plan.
Mereka saling memandang kemudian berciuman lagi. Tak lama berselang mereka sudah berada di ranjang berbalut selimut tebal. Nagano selalu dingin. Apalagi hari itu salju turun tebal.
"Pulang bersamaku, na!" bisik Mean. Mereka sudah dua babak bercinta. Mean harus menahannya dari jumlah ronde yang banyak sebab Plan tengah hamil besar.
"Kita menikah dulu di sini, na! Sesudah itu pulang. Kau lanjutkan sekolahmu dengan benar dan aku akan selalu berada di sampingmu," ujar Plan.
"Iya, aku mau," sahut Mean lagi dan mereka bercinta lagi.
"O, Meaaaan, aaaah, pelan-pelan," desah Plan.
"Iya, maafkan aku," bisik Mean.
Mereka pada posisi spooning. Tangan mereka bertautan sama dengan bibir mereka juga dan sesekali dilepaskan mengikuti pergerakan.
Mereka kembali ke Thailand setelah menikah. Orang tua Mean menyambut hangat sang cucu yang diketahui berjenis kelamin lelaki itu. Mereka tinggal di sebuah rumah di kawasan yan tak tersentuh siapapun khusunya orang biasa.
Plan melahirkan anak lelaki dan wajahnya mirip dengan Mean.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kakek dan neneknya merasa bangga dan sangat menyayangi mereka. Mereka hidup bahagia.