"Terus, Kak, sekarang lo kerja di mana?"
"Masih ngelamar, gue nggak kayak abang sama suami lo yang lulus bisa langsung nerusin company."
Subin mencibir, "Ih biasa aja dong anjir, nyindir amat lo kesannya."
"Tau nih Kak Chan, gue ikut merasa," timpal Byungchan.
Chan tak menghiraukan protesan dua adik tingkatnya, sibuk meminum frappuccino yang tinggal separuh. Mereka kini tengah berada di tempat kerja Hanse guna menghabiskan waktu bersama. Sebenarnya ini paksaan Subin, sih.
"Lo sendiri gimana sama Sejun? Lo juga Chan, kapan nikah? Seungwoo kayaknya udah mapan." Pemuda yang paling tua itu memandang Subin dan Byungchan bergantian.
"Nanyain gue mulu, lo sendiri mana ada pasangan? Sini bawa ke kami."
Subin langsung tertawa kecil, "Nah tuh, Kak, cari pasangan gih biar ada yang perhatiin."
"Masa ngajakin jalan laki orang mulu."
"Heh anjing, nggak usah bawa-bawa gue dong."
Byungchan tertawa, "Abisnya jalan bedua mulu lo, gue nggak diajak."
"Lo yang sok sibuk." Subin memukul lengan temannya, "Jangan bilang gitu lagi ah, kok kesannya gue kayak yang main sama cowok lain mulu."
"Ya emang."
Mata Subin membola, "Ih si bangsat! Nggak gue restuin lo jadi kakak ipar gue."
"Heh, berisik anjir!"
Keduanya menoleh, lantas nyengir pada Hanse yang menatap mereka tajam.
"Sorry, Se. Nih Byungchan nih, bilang gih ke atasan lo biar dia diusir. Capek gue ngadepinnya, heran kok Seungwoo mau," oceh Subin.
"Yang ada lo yang bakal diusir gara-gara berisik, bocah." Hanse melepas celemek cokelat khas baristanya, lantas duduk di samping Chan.
"Kok duduk?" tanya Subin.
"Udah ada yang gantiin, udah sore juga. Gue habis tuker shift."
"Ooohh."
"Males ah ada Hanse, gue bosen lihatnya dia mulu." Byungchan menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi sembari menyilangkan dua tangannya di depan dada.
"Pulang aja lo sana, nggak jadi gue bayarin," sewot Hanse.
"Idah-udah ribut mulu, curiga kalau gue tinggal lagi lo berdua mainnya bunuh-bunuhan," lerai Subin.
"Sembarangan!"
Chan tiba-tiba berdiri, mengalihkan atensi tiga sahabat yang sedang berdebat itu—sekaligus mengundang tatapan bingung.
"Mau kemana?" Hanse adalah orang yang pertama kali bertanya, "Baru juga gue gabung."
"Sorry banget Se, gue ada panggilan wawancara nih."
"Kapan?"
"Jam 7."
Byungchan melirik jam tangannya, "Yaelah masih jam 3 ini."
Yang lebih tua mendengkus, "Terserah, pokoknya gue balik dulu. Ayo, Bin."
Si manis yang diajak langsung menolak, "Masa gue juga?"
"Ck, lo berangkat sama gue, pulang juga sama gue. Kalau nggak, ditebas Sejun guenya ntar. Lagian dia udah di apart loh."
"Kok tau?!"
"Barusan chat. Udah ah cepetan elah."
Akhirnya si manis menurut, membereskan barangnya—buku dan laptop—sembari mencebik kesal.
"Hanse gue pulang dulu ya, maaf cuma bentar," ucapnya lemas.
"Iya santai aja kali, kayak sama siapa aja lo."
"Gue nggak dipamiti?"
Subin melirik Byungchan sejenak, lalu menjulurkan lidahnya, "Ogah."
"Ngeledek banget si bangsat."
"Bodo amat. Dah ya!"
Setelahnya Subin ditarik Chan keluar cafe. Chan langsung menyetir mobilnya ke apartemen Subin setelah keduanya masuk.
"Wawancara di mana, Kak?" tanya Subin.
"Perusahaan suami lo."
"Yaelah anjir kirain di mana." Si manis memukul lengan Chan, "Ngapa buru-buru sih? lagian sama Kak Sejun kenapa nggak langsung masuk aja," ucapnya sambil menyilangkan tangannya di depan dada.
Chan mendesah kesal, "Bocah tau apa sih."
"Anjing!"
🎠✨
"Dari mana?"
Subin berjengit kaget, "Aduh, Kak, jangan bikin kaget, dong." ia mendekati Sejun dan duduk di sebelahnya, "Cafe-nya Hanse, bareng Byungchan sama Kak Chan."
Sejun mengelus surai Subin, "Bilang dong, Bin. Jangan tiba-tiba pergi tanpa izin gitu. Lagian, sering banget sih keluar sama Chan?"
"Cemburu, ya?" si manis terkekeh, "Cuma ngobrol kok, serius deh. Asik aja orangnya."
"Kakak tuh pengen pulang kerja disambut kamu." Sejun menggigit pipi Subin gemas, "Besok-besok jangan sering main sama Chan lagi."
"Sakit ish!" protes Subin dengan tangan yang mengusap pipinya yang baru saja digigit sang suami bak bakpao.
"Janji, ya?"
Si manis mencebik, "Iya janji engga pulang sore lagi."
"Kamu terkontaminasi nanti kalau mainnya sama Chan terus." Yang lebih tua merangkul Subin erat, menyandarkan kepala si manis ke bahunya.
"Iya iya ya ampun, udah deh." Subin melirik Sejun, "Oh iya, Kak."
"Apa?"
"Kak Chan mau kerja sama Kakak, yaa?"
"Tau dari mana, hm?"
"Dia yang bilang. Katanya hari ini mau wawancara."
"Iya, kalau dianya lulus," kekeh Sejun.
"Lulusin dong! Kan, sahabat Kakak."
Sejun mengernyit, "Kenapa sih emangnya?"
Subin tertawa gemas seraya mendongak menatap Sejun, "Siapa tau di perusahaan Kakak ketemu jodohnya!"
🎠✨
KAMU SEDANG MEMBACA
𝙊𝙝, 𝙎𝙪𝙗𝙞𝙣!
FanfictionPada satu sisi, Sejun diminta untuk segera menikah. Padahal dirinya saja belum lulus kuliah. Sedangkan di sisi lain, Subin tiba-tiba juga harus terlibat perjodohan yang direncanakan diam-diam oleh orang tuanya. Wajar, kan, kalau mereka marah? Lim Se...
