yeol - 10

805 132 33
                                        

Subin tak menyangka, mulai saat ini ia sudah jadi milik orang lain.

Ah, maksudnya suami orang.

Kira-kira dua minggu setelah fitting baju dan melengkapi segala kebutuhan—yang sejak awal sudah disiapkan keluarga Lim—keduanya melangsungkan pernikahan dengan perasaan bahagia. Pernikahan Subin dan Sejun berjalan lancar, sangat malah. Semua orang turut bahagia dan mendukung keduanya, termasuk Byungchan dan Hanse. Lalu terdapat beberapa teman Sejun yang baru Subin kenal, seperti Seungsik, Rowoon, dan Zuho.

Mengingat pernikahan mereka cukup mendadak dan bersifat pribadi, maka hanya beberapa teman dekat saja yang diundang, juga kerabat dekat dari pihak Subin maupun Sejun.

Keduanya kini baru sampai di apartemen milik Sejun—yang sekarang juga menjadi milik Subin. Barang-barang pemuda itu telah dipindahkan ke apartemen sejak H-2 pernikahan mereka.

Subin sangat bersyukur semuanya berjalan lancar. Barusan keduanya mengunjungi kakek Sejun yang sangat menerima baik Subin. Keduanya memang tak mengunjungi kakek Sejun sejak awal karena beliau sendiri yang meminta Sejun menemuinya setelah menikah.

"Kakak mandi duluan aja, aku capek," ucap Subin seraya duduk di kasur dengan bersandar pada kepala ranjang.

Memilih untuk mengalah, Sejun akhirnya mengiyakan Subin dan langsung masuk ke kamar mandi.

"Tolong siapin baju, yaa!" teriak Sejun dari dalam kamar mandi. Subin menghela napas pelan, lantas kembali bangkit dan berjalan lemari guna mengambilkan pakaian untuk suaminya itu.

Selang beberapa menit kemudian, Sejun keluar dari kamar mandi. Namun, ia malah menemukan Subin yang sudah tertidur dengan posisi duduk di atas kasur. Ia tersenyum kecil melihat pemandangan baru itu.

Dengan hati berbunga ia segera berganti baju, kemudian mendekati Subin dan membenarkan posisi pemuda itu menjadi telentang dengan nyaman di kasur. Takut-takut kalau membiarkan Subin tidur dengan posisi duduk, saat bangun si manis malah mengeluh pegal.

Sebelum benar-benar ikut tidur di samping suami kecilnya, pemuda itu mencium kening Subin, lalu mengusap kepalanya dengan sayang, "Goodnight, Sweetheart."

✨🎠

Subin merasakan pinggangnya direngkuh erat ketika membuka mata.

"Anj—astaga Subin."

Ah, hampir saja ia lupa bahwa dirinya sudah menikah. Subin nyaris berteriak karena terkejut dengan lengan kekar yang melingkar di pinggangnya. Dengan hati-hati Subin bangkit setelah melepaskan rengkuhan yang lebih tua secara perlahan, takut membangunkan Sejun yang masih pulas.

Pemuda itu masuk ke kamar mandi setelah mengambil satu setel pakaian dan handuk. Badannya gerah sekali karena semalam tidur tanpa mandi terlebih dahulu. Selang sepuluh menit setelahnya, Subin telah siap memulai harinya yang baru, memiliki tanggung jawab lebih besar karena telah menikah.

Ia melangkah girang ke dapur, memeriksa bahan makanan yang tersedia. Namun, nyatanya Subin hanya dapat menemukan roti dan mi instan. Subin mendesah pelan, kasihan sekali suaminya selama ini hanya makan mie instan.

Subin terkekeh kecil ketika menyadari hari ini mood-nya telah meningkat drastis. Ia bahagia.

Melihat bahan yang ada terbatas, Subin memutuskan untuk membuat roti selai, seperti sarapannya ketika di rumah dulu. Untung saja Sejun memiliki selai rasa cokelat di sepennya.

Ketika tengah memindahkan roti ke piring saji, tiba-tiba Subin merasakan sebuah tangan melingkar indah di perutnya. Ia tersenyum kecil. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Lim Sejun?

Sejun mendekap erat Subin, menyandarkan dagu di bahu yang lebih muda, "Morning."

"Morning. Mandi, Kak Sejun. Habis itu anterin aku beli bahan masakan, masa Kakak mau makan mie terus?"

"Sebentar," gumam Sejun. Matanya memejam sembari merasakan nyamannya aroma floral yang melekat pada Subin.

"Berat, ih! cepetan mandi, habis itu makan." Subin memutar badannya, sehingga kini ia diapit oleh Sejun dan meja.

Sangat tidak menguntungkan.

"Mati gue."

Dengan jarak sedekat ini, Subin dapat meneliti setiap fitur yang melengkapi wajah tampan Sejun. Namun, ia juga menyesal, kenapa juga tadi harus berbalik.

Sejun menyeringai, "Mau makan Subin aja, boleh?"

Wajah Subin memanas, "Nggak, ih. Sana jauhan, mandi dulu kakak bauuu!"

Mana mungkin didengarkan. Alih-alih menurut, Sejun justru semakin memajukan wajah, satu tangannya sudah bertengger indah di tengkuk Subin untuk menahan pemuda itu agar tidak semakin mundur.

Cup

Subin memejamkan mata erat ketika merasa benda kenyal itu menubruk bibirnya lembut. Dua tangan refleks meremat ujung kaus Sejun.

Yang lebih tua menyunggingkan senyum, lantas menegakkan badan sembari mengusak rambut si manis dengan gemas. "Kakak mandi dulu ya, Sayang. Habis ini kita belanja," tuturnya. Ia langsung masuk ke dalam kamar, meninggalkan Subin yang kini berjongkok guna menetralkan detak jantung dan menutup wajahnya yang memanas.

✨🎠

rasa ingin menculik subin 📈📈📈takut digaplok sejun 📉📉📉

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

rasa ingin menculik subin 📈📈📈
takut digaplok sejun 📉📉📉

hahah, enjoy ya guys~ ʕ'• ᴥ•̥'ʔ♡

thank you so much (*˘︶˘*).。*♡

𝙊𝙝, 𝙎𝙪𝙗𝙞𝙣!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang