Pada satu sisi, Sejun diminta untuk segera menikah. Padahal dirinya saja belum lulus kuliah. Sedangkan di sisi lain, Subin tiba-tiba juga harus terlibat perjodohan yang direncanakan diam-diam oleh orang tuanya.
Wajar, kan, kalau mereka marah?
Lim Se...
Subin menganggukkan kepalanya singkat, menatap Hanse yakin, "Cuma sebentar, tiga hari kali."
Kini Hanse yang balas mengangguk pada Subin, "Ya udah nggak masalah gue mah, asal lo nggak nyesel."
"Iya." Subin tersenyum tipis, "Lagipula, Kak Sejun dari kemarin nggak ngomong apa-apa sama gue, mungkin butuh waktu."
Hanse menatap sahabatnya prihatin, "Lo yang butuh waktu, Bin."
Si manis tersenyum geli, "Makanya gue nginep di sini dulu."
"Sabar banget sih lo." Hanse mengacak rambut Subin, "Kayak bukan Subin, biasanya lo nggak begini."
"Udah berkeluarga sih," kekeh Subin. Ia lantas menyandarkan badannya ke sofa, memejamkan mata karena kelelahan dengan segala permasalahan yang melanda.
"Bin, lo mau tidur di kamar?" tawar Hanse.
"Se."
"Hm?"
Subin menggigit bibir bawahnya gugup, "Apa Kak Sejun nggak beneran cinta ya sama gue?"
Hanse menghela napas panjang, "Heh, gue tau lo sekarang lagi merasa ragu, Sejun sampai segininya cuma karna rumor lo sama Chan yang notabene adalah sahabat baik dia. Mungkin lo ngerasa salah paham sampai segininya tuh, nggak masuk akal. Nggak apa-apa, karna menurut gue Kak Sejun juga keterlaluan. Tapi Bin, kalau lo sampai mikir dia nggak cinta lo, sama aja lo nggak percaya sama Sejun."
"Gue percaya, tapi Kak Sejun yang nggak percaya."
"Kalian sama aja, coba dari awal diomongin baik-baik," sanggah Hanse.
"Gue udah berusaha, Kak Sejun nggak mau dengerin."
Hanse mencibir, "Ya kalau gitu mah Sejunnya yang bangsat."
"Lo nih, seneng banget ngegasin dia." Subin tertawa, "Thanks ya."
"Kayak sama siapa aja lo. Masalah lo emang kelihatannya enggak berat, tapi gue ngerti perasaan lo kok. Sabar, ya? Nikah muda ya gini resikonya, apalagi lo masih bocil."
"Lo kok jadi kayak orang tua sih?"
Hanse mendelik kesal, "Magadir banget emang lo, sat."
🎠✨
"Tuh si resepsionisnya, kesel banget gue anjir." Subin menunjuk perempuan yang tengah berbincang dengan temannya di kafetaria. Ia kini berada di kantor Sejun lagi, langsung berhasil masuk karena ia pergi bersama Chan.
"Sabar aja, mereka emang pada demen liat Hayoung sama Sejun."
Subin mengernyit, "Kayak anak-anak gosipin gue sama lo? Berarti Kak Sejun sama aja dong."
"Heh." Chan langsung memukul kepala Subin, "Katanya mau diomongin baik-baik."
"Iya maap." Subin menunduk, "Abisnya Hayoung kan jelas mantan Kak Sejun. Ngapain coba dia?"
"Namanya juga cewek gatel. Udah, ayo naik." Yang lebih tua lantas menarik Subin masuk ke dalam lift, menuju ke lantai di mana ruangan Sejun berada.
"Oh iya." Subin menoleh begitu otaknya mengingat sesuatu, "Kak, kemarin lo sama bang Seungwoo ngomong apa ke Kak Sejun?"
Chan hanya meliriknya tanpa minat, "Kepo."
Subin cemberut, "Ayo dong, masa gue nggak dikasih tau?"
"Urusan orang dewasa."
"Ya lo kira gue bocah?"
Chan akhirnya menoleh, menatap Subin sejenak sebelum keluar dari lift yang telah berhenti. Pemuda manis itu hanya mengikuti sambil mencebik, "Dasar orang tua."
"Gue tersindir loh."
Keduanya menoleh, lantas mendapati Seungsik yang tengah melambai sambil tersenyum lebar, "Hai, pak bos."
Subin meringis dengar panggilan itu, "Anjing, jangan gitu."
Chan memutar bola matanya malas, akhirnya membalas kalimat Subin sebelumnya, "Lo tuh paling bocah di antara kita, nyadar diri dong."
Yang lebih muda lantas menyengir, "Tapi udah nikah duluan."
"Bacot."
Chan berhenti, membuat Subin dan Seungsik yang mengikuti ikut berhenti.
"Nih ruangan Sejun," ujarnya sembari menunjuk pintu cokelat setinggi dua meter itu.
"Ooooohhh." Si manis mengangguk mengerti, "Lo masuk duluan ya."
"Mau ngapain?" tanya Seungsik.
"Kok gue?" protes Chan, "Lo lah yang masuk duluan."
"Ya nggak apa-apa," jawab Subin, lalu menatap Seungsik, "Urusan rumah tangga."
Seungsik hanya merotasikan bola mata sebagai balasan. Namun, ia memilih untuk tak bertanya lebih lanjut karena takut melanggar privasi teman kecilnya ini.
"Kita masuk bareng aja ayo," ajak Chan setelah menolak permintaan Subin barusan. Ia menarik tangan Subin untuk masuk, sebab Subin masih bergeming di depan pintu besar itu. Ia takut, tapi juga tak bisa mundur dari keputusannya saat ini.
"Gue ikut, ya? Gue temenin."
Subin tersenyum tipis sembari mengangguk kepada Seungsik. Setelah benar-benar meyakinkan diri, Subin akhirnya memberi sinyal pada Chan untuk membuka pintu. Baiklah, ini saatnya. Subin akan menampilkan senyum terbaiknya kepada Sejun. Ia harap, hari ini masalah mereka akan segera selesai.
Namun, begitu masuk ke dalam ruangan besar Sejun, senyum yang terpatri di wajah cantik Subin langsung luntur. Alih-alih melihat Sejun yang berkutat dengan berkas pekerjaannya, ketiga pemuda berbeda umur itu justru dibuat terkejut akan kehadiran Hayoung.
Mungkin, Dewi Fortuna memang tidak sedang berpihak pada Subin. Mungkin, takdir yang membuatnya harus merasakan sakit seperti ini—entah karena alasan apa Subin seolah sedang dibenci oleh dunia.
Karena ketiganya kini melihat gadis itu tengah berciuman dengan Sejun di depan pintu.
BUGH
"BANGSAT LO JUN!"
"Kak Chan!"
Perkelahian itu akhirnya tak terelakkan. Nyatanya, kaki dan tangan Chan lebih cepat bertindak sebelum Subin berhasil menyerukan suaranya.
🎠✨
ayo hujat sejun.g canda
tp gapapa komen kalian mood sekali 🤧💙
btw ini triangle love ini gemoy sekali hiksrot
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.