sanjuugo - 35

493 102 12
                                        

Tangan Subin mengepal kuat, berusaha tidak peduli dengan tatapan bersalah Sejun di depannya. Walaupun ia memaksa Chan berhenti memukuli suaminya, tetapi tetap saja Subin sakit hati. Subin kecewa.

Hubungannya dan Chan bahkan hanya sebuah gosip antah-berantah yang dalam waktu beberapa minggu akan hilang. Tapi Sejun dan Hayoung? Tidak ada yang tahu apa saja yang telah terjadi di antara keduanya.

"Gue perlu bicara sama lo," tukas Subin seraya menatap tajam Hayoung.

Perempuan itu mengedik, "Gue nggak mau."

"Tapi gue maksa." Si manis lantas menarik Hayoung keluar ruangan, diikuti Seungsik. Mereka menjauh dari jangkauan ruangan Sejun supaya pemuda itu tak mendengar apapun percakapan yang akan terjadi di antara mereka..

"Iya iya elah, gue bisa jalan sendiri!" sentak Hayoung. Tangannya melepas cengkeraman Subin dengan kasar, "Nggak usah sok tersakiti wajah lo tuh."

"Mau lo apa sih? Gue selama ini udah berusaha sabar ya, bangsat!"

Hayoung memelotot, "Lo nggak pernah diajarin sopan santun ya?!"

"Sopan santun?" Subin tertawa sarkas, "Cewek kayak lo nggak pantes ngomongin tentang sopan santun. Berani ya lo ungkit-ungkit sopan santun ketika lo sendiri dengan nggak sopannya deketin suami orang?"

Hayoung memutar bola matanya malas, "Lo tuh nggak pantes bersanding sama Sejun, goblok. Tolong sadar diri dong. Lo bahkan nggak bisa ngasih keturunan buat keluarga Sejun, kan?"

"Eh, anjing! Jaga mulut lo dong," sambar Seungsik, "Paling nggak Subin itu orang yang dipilih orang tua Sejun buat ngerawat Sejun dan jadi temen hidup Sejun selamanya. Lah lo? Mantan aja belagu, masih punya muka nggak?"

Gadis di depan mereka itu menggeram kesal, "Lagipula, jangan lo kira gue nggak tau kalian lagi berantem, ya kan? Gue doain deh, semoga cepet cerai."

Seungsik melipat kedua tangannya di depan dada, "Cewek gatel ya lo emang, orang udah nikah masih aja dideketin. Mending lo cari sugar daddy sana bangsat, ikhlas lahir batin gue."

"Lo nggak ada urusan ya sama gue, anjing," umpat Hayoung.

"Gue kakaknya Subin, urusan Subin jadi urusan gue juga!"

"Lo juga nggak bakal ada urusan sama gue kalau nggak maksa deketin Kak Sejun, bajingan," desis Subin akhrinya, "Nyadar nggak sih, lo kayak begini itu sama aja nunjukin kalau lo murahan. Goblok, punya otak dipakai buat mikir dong. Mau gimana juga lo bakal dianggep salah karna gue punya bukti kalau gue udah sah nikah sama Kak Sejun."

Melihat Hayoung diam, Subin lantas tersenyum tipis, "Lo cuma terobsesi sama Kak Sejun, kak. Gue saranin mundur sekarang daripada lo harus nanggung malu suatu saat nanti."

Hayoung mendengkus kasar, "Udah ah, sorry aja deh soal tadi. Gue cuma ambil jatah gue selama pacaran kok. Gue tunggu surat cerai kalian." Ia tersenyum miring, "Eh, lo mau tau sesuatu nggak?" ujarnya.

Subin menggigit pipi dalamnya. Ia tak mampu menebak apa isi pikiran—

"Sejun nggak pernah cinta sama lo."

Ini dia.






































PLAK

Subin sudah memiliki cukup alasan untuk menampar gadis kurang ajar di depannya. Persetan dengan status laki-laki dan perempuan yang keduanya miliki, Hayoung telah melampaui batas. Dan Subin sudah kehabisan kesabaran untuk tak melayangkan telapak tangannya pada pipi mulus yang lebih tua.

"Gue udah nahan daritadi, ternyata lo masih nggak berhenti." Subin menatap Hayoung tajam, "Jaga omongan lo, Hayoung. Gue nggak akan segan buat pakai kekerasan karna lo yang mulai duluan."

Pemuda manis itu kemudian maju, lantas berbisik kepada yang lebih tua, "Cewek kayak lo lebih nggak pantes sama Kak Sejun. Gue peringatin, jauhin Kak Sejun mulai sekarang atau gue bakal lebih berani dari sekadar nampar lo."

🎠✨

"Subin, buka!"

"Bin ayo dong, jangan gini."

Yang dipanggil enggan menjawab. Sibuk berkelana dengan pikiran negatifnya yang semakin menjadi. Melamun di kamar tamu rumah Hanse, mengabaikan teriakan dua sahabatnya dari luar.

Subin tidak menangis, tidak. Air matanya bahkan sudah tak mampu menetes lagi. Ia tidak tahu harus bagaimana, karena hanya menangis tidak akan menyelesaikan masalahnya.

Subin sangat kecewa. Kecewa dengan Sejun, kecewa dengan dirinya sendiri. Subin tahu di sini mereka sama-sama bersalah. Lantas, apakah Sejun juga tengah memikirkan cara untuk berbaikan seperti yang sedang Subin lakukan?

Atau, haruskah Subin menyerah pada Sejun? Kalau memang dengan begitu Sejun akan lebih bahagia, maka Subin dengan senang hati mengakhiri hubungan mereka. Asalkan Sejun bahagia, mungkin ia bisa merelakan perasaannya.

Mungkin selama ini Sejun merasa terkekang dengan status pernikahan mereka. Mungkin, Sejun terlalu letih sebab diikat oleh rantai yang tak pernah ia inginkan.

"Harusnya Kakak bilang kalau udah bosen sama Subin," lirihnya pelan. Pemuda manis itu mendongak saat terdengar suara pintu yang tiba-tiba terbuka. Menampilkan Byungchan, Hanse, dan Seungsik dengan raut khawatir mereka.

Ah, mereka akhirnya menemukan kunci cadangan untuk membuka pintu kamarnya.

"Lo nggak apa-apa?"

Subin mengangguk pelan.

"Kalau ada masalah itu cerita, bukan ngunci diri di kamar!"

"Gue cuma butuh waktu sendiri." Subin menatap Byungchan, "Cuma bentar."

"Udah, kan? Kak Seungsik udah cerita." Byungchan mendekati Subin lantas memeluknya erat, "Sabar ya. Gue cuma bisa bantu semangatin lo."

Hanse mengangguk setuju, "Gue tau ini pertama kali buat lo. Tapi please, jangan pernah ada pikiran buat ngelepas Sejun karena semua bisa dibicarain baik-baik, oke?"

🎠✨

no hate ya mba hayoung cantik <3

btw votenya udah tembus seribu, makasih sayangku 😭💙

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

btw votenya udah tembus seribu, makasih sayangku 😭💙

𝙊𝙝, 𝙎𝙪𝙗𝙞𝙣!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang