Pemuda manis itu berjalan gontai ke unit apartemennya. Potongan-potongan memori masa kecil dengan Chan perlahan kembali. Tersusun menjadi sebuah kenangan indah yang mulai memenuhi pikirannya.
Ia masih terkejut, tidak menyangka hal semacam ini mendadak menghantuinya. Mana pernah Subin membayangkan bahwa di kehidupan kuliahnya, ia akan bertemu dengan teman lama yang bahkan telah ia lupakan?
Lebih-lebih lagi itu adalah Chan, orang yang selama ini menjadi teman mengobrolnya selain Byungchan dan Hanse. Pemuda itu ternyata adalah sahabat kecilnya yang tanpa sengaja terlupakan?
Takdir memang suka bermain-main, ya?
Jemari mungil Subin mulai menekan satu-persatu sandi pintu, lalu masuk ke dalam. Tanpa senyum, tetapi tidak juga sedih. Raut wajahnya kini tanpa ekspresi, ia—Subin terlalu bingung.
Senang sih, bertemu dengan teman lama. Tapi mengapa harus sekarang? Mengapa Chan harus menyatakan perasaannya di saat keadaannya begini?
"Baru pulang kamu, Bin?"
Sial, Subin lupa ada hal lebih penting yang harus ia selesaikan.
"Maaf, Kak," cicitnya, "Tadi aku—"
"Apa? Jalan sama Chan lagi?"
Subin mendongak perlahan ketika menyadari nada Sejun yang sama sekali tak bersahabat. Ia melangkah maju, mendekati sang dominan, "Bukan, Kak, tadi ada hal yang harus aku omongin sama Kak Chan."
Yang lebih tua berdecih, "Mendingan kamu ngaku sekarang aja deh, Bin."
Dahi Subin mengernyit dalam, "Apa sih, Kak?"
"Nggak usah pura-pura nggak tau!"
Si manis meraih tangan Sejun, tetapi empunya menolak, "Jelasin apa maksud puluhan foto kamu sama Chan yang digosipin pacaran?"
Subin menutup matanya, Sejun sudah tahu lebih dulu ternyata. Dan terbukti kan, pemuda itu marah?
Demi apapun, demi Tuhan, tatapan tajam Sejun yang menyeramkan ini sama sekali tidak pernah ia lihat. Kilat matanya begitu memancarkan amarah yang meluap.
Ini bahaya. Subin dalam bahaya.
"Kak, itu cuma gosip!" Subin berusaha meyakinkan, "Itu nggak bener. Kakak tau, kan? Itu cuma gosip anak-anak!"
"Terus? Semua orang berhak percaya atau enggak tentang gosip. Dan kamu pun sama sekali nggak berusaha ngelak dari gosip itu, kan?"
"Kak, tolong percaya aku. Aku sama Kak Chan nggak lebih dari sekedar temen!"
"Kenapa kakak harus percaya sama kamu, Bin?!" sergah Sejun, "Kamu kemarin janji untuk nggak pergi sama Chan lagi, tapi ini apa?"
Subin menggigit bibirnya keras, menahan air mata yang mendesak keluar, "Kak," lirihnya, "Aku cuma temen sama Kak Chan, kami sering jalan bareng soalnya ngerasa nyaman sebagai kakak adik. Kak Sejun ngerti, kan?"
"Nggak, aku nggak ngerti. Kakak adik memang seesering itu jalan barengnya?" Sejun tersenyum miring, "Kalian berdua cocok kok, looks like more than friend dari foto-foto yang dikasih Hayoung ke kakak."
Pemuda manis itu mendongak begitu mendengar nama mantan Sejun disebut, "Jadi yang nyebarin Kak Hayoung?!"
"Iya, kenapa? Kamu takut ketauan?"
"Kak, stop! Aku nggak ada apa-apa sama Kak Chan! kakak lebih percaya Hayoung daripada aku?!"
Tangan Sejun mengepal, lantas ia mengerang kesal, "Kamu yang bikin kakak nggak bisa percaya lagi, Bin! Kamu sadar nggak sih, kamu lebih sering main sama Chan daripada menghabiskan waktu sama kakak?!" bentaknya.
"Tapi daripada itu." Subin maju, "Kenapa kakak enggak marah sama Hayoung yang dengan nggak sopannya ngikutin istri kakak kemana-mana?"
Sejun diam.
Si manis tersenyum kecil dengan pipi yang basah akan air mata, "Kakak enggak bisa jawab kan? udah nggak punya pembelaan lagi?"
"Udah lah, Bin, kakak udah capek di kantor malah ribut sama kamu."
"Kak Sejun kenapa sih?!" bentak Subin, "Kak Chan itu sahabat Kak Sejun! Kalau kakak nggak percaya gini berarti kakak enggak pernah yakin sama perasaan aku? Kakak dari dulu masih ragu sama aku, ya?"
"Gue suka sama lo."
Subin tertegun, itu suara Chan. Entah darimana Sejun mendapatkan rekaman suara Chan itu. Padahal, apabila rekamannya lengkap maka seharusnya Sejun mengerti.
Sejun berbalik lantas mengarahkan ponselnya ke Subin, "Yang kayak gini kamu bilang sahabat kakak?"
Si manis langsung kelabakan, "Tapi nggak gitu kak—"
"Apanya? Apa lagi yang kalian sembunyiin dari kakak?!"
"Nggak ada! Kak Chan tadi cuma habis ngomongin tentang—"
"Udah diem deh!" sela Sejun lagi, "Kakak capek."
Pemuda itu kemudian keluar dari apartemen. Tak lupa membanting pintu, meninggalkan Subin yang kini memeluk lututnya sendiri di lantai sambil menangisi Sejun.
🎠✨
siang guize
ceritanya abis kutinggal marathon drama, kangen gak? g canda
aku tadi siang liat channel yt-nya rolling, di transonglation besok sebin setim ya allah seneng banget gini doang ga ngerti lagi ༼;'༎ຶ ༎ຶ༽
jangan lupa streaming what i said ya kalian 😾
KAMU SEDANG MEMBACA
𝙊𝙝, 𝙎𝙪𝙗𝙞𝙣!
Fiksi PenggemarPada satu sisi, Sejun diminta untuk segera menikah. Padahal dirinya saja belum lulus kuliah. Sedangkan di sisi lain, Subin tiba-tiba juga harus terlibat perjodohan yang direncanakan diam-diam oleh orang tuanya. Wajar, kan, kalau mereka marah? Lim Se...
