Pada satu sisi, Sejun diminta untuk segera menikah. Padahal dirinya saja belum lulus kuliah. Sedangkan di sisi lain, Subin tiba-tiba juga harus terlibat perjodohan yang direncanakan diam-diam oleh orang tuanya.
Wajar, kan, kalau mereka marah?
Lim Se...
Subin melangkah dengan gontai menuruni tangga rumahnya. Ia menggenggam kedua tangan erat sembari menguatkan hati dan merapal kalimat penyemangat untuk dirinya sendiri.
Juga memikirkan kemana hilangnya Lim Sejun.
Namun, entah mengapa suasana hatinya sedikit lebih tenang, tidak seperti kemarin—sampai tadi pagi—yang sangat buruk. Mungkin dia mulai berada di fase pasrah akan keputusan orang tuanya yang sepihak. Meskipun jujur saja, Subin masih tetap merasa takut dan kecewa. Ayolah, siapa yang tidak takut kalau ia akan menikah dengan orang asing?
Begitu sampai di ruang tamu, Subin langsung disambut hangat. Mereka semua tidak tahu saja bahwa jantungnya sedang berdegup tak karuan saat ini. Antara malu, takut, dan kesal.
"Nah, ini dia anakku, sini." Papa Subin tersenyum hangat, menarik pelan lengan si bungsu agar duduk di sebelahnya.
"Kenalan dulu, sana," suruh mama Subin.
Dengan gerakan perlahan pemuda manis itu mendongak, lalu bertemu paneang dengan pemuda lain di hadapannya yang berkemeja biru navy dan rambut silver keunguan. Sejujurnya, pemuda itu tampak begitu ... tampan.
Astaga Subin, ingat Sejun!
Subin menatap pemuda di depannya yang juga sedang menatap dirinya intens. Lantas, perasaan itu muncul kembali. Ketika kedua netra gelap milik calon suaminya bertubrukan dengan milik Subin, hatinya merasa nyaman.
"Kok diem?"
Subin tersentak atas pertanyaan dari Seungwoo. Karena sadar dirinya baru saja melamun sambil menatap sang pemuda asing, ia segera mengalihkan pandangan. Sementara itu, pemuda di depannya tampak tersenyum tipis kemudian berujar, "Kenalin, gue Lim Sejun."
Tunggu, apa katanya?!
Yang paling muda di sana sontak kembali memusatkan pandangannya pada pemuda tadi, yang mengaku bernama Sejun.
Mungkinkah—
"Kak Sejun?" cicit Subin.
Kedua belah pihak keluarga di sana tentu saja terkejut, termasuk Sejun sendiri. Mata gelapnya lantas membelalak lebar, "Subin?!"
Entahlah Subin harus kembali sedih, atau mulai bahagia. Degup jantungnya berdetak semakin kencang. Tangannya gemetar tak percaya. Matanya tampak mulai berkaca-kaca. Lalu tanpa permisi, bulir kristal itu akhirnya meleleh turun ke pipi mulus Subin.
Seungwoo yang duduk di samping kiri Subin langsung memegang pundak adiknya dengan khawatir, "Bin! Lo kenapa?"
Sejun segera bangkit dan melangkah menghampiri Subin, mengundang tatapan heran yang lagi-lagi diberikan oleh para orang tua. Pemuda itu berjongkok di depan Subin, mengusap pipi yang lebih muda seraya menenangkannya.
"Hei, udah jangan nangis. Ini gue," ucapnya lembut.
"Tunggu, gue tuntasin dulu. Gue nggak tahan buat nggak nangis. Lo nggak tau gue setakut apa," ucap Subin pelan. Sejun hanya terkekeh gemas, dengan konstan mengusap punggung tangan Subin yang tengah ia genggam.
Sampai beberapa menit setelah itu, tangis Subin akhirnya mereda. Sayangnya detak jantung yang kian cepat itu belum juga kembali normal. Namun, ia lega karena ternyata keberuntungan sedang ada di pihaknya. Pantas saja sejak turun dari kamar tadi, Subin merasa semuanya akan baik-baik saja.
Ternyata ini alasannya, karena yang akan dijodohkan dengan Subin adalah Sejun—Lim Sejunnya.
✨🎠
Subin dan Sejun sudah menceritakan pertemuan—atau lebih tepatnya perkenalan—mereka pada keluarganya. Namun, mereka mengecualikan panggilan telepon yang kerap dilakukan keduanya setiap malam.
Subin menjelaskan bahwa mereka hanya saling kenal dan sering bertukar pesan, tanpa tahu wajah satu sama lain. Bahkan sampai sekarang pun keduanya masih memproses semua kejadian barusan. Siapa pula yang menyangka kalau mereka ditakdirkan seperti ini?
Saat papa Subin bertanya kepada Sejun, "Memangnya nggak saling follow di Instagram, Jun?"
Sejun tertawa geli dan menggeleng pelan atas pertanyaan itu, "Subin nggak mau ngasih, Pa. Sejun nggak dibolehin nyari juga, katanya malu. Akhirnya dia juga kan yang pengen ketemu duluan."
Lalu Subin hanya mendelik pada Sejun. Tapi alih-alih membuat Sejun takut, justru hal itu membuat yang lebih tua semakin gemas pada Subin.
"Kalau begitu, kami pulang duluan, ya. Beruntung banget anak-anak ternyata udah saling kenal," ucap Ayah Lim dengan senyum lebarnya.
"Iya, padahal kemarin Subinnya marah-marah terus dan nggak mau keluar kamar," balas Papa Jung. Subin yang merasa dipermalukan langsung mendecak kesal, "Papa!"
Semuanya tertawa, membuat pipi Subin merona malu. Sial, mereka ini rupanya sama sekali tidak takut padanya. Padahal Subin sudah memasang wajah galak karena terus-menerus digoda oleh yang lebih tua.
"Ya sudah, aku pulang. Sejun kamu mau di sini?"
Sejun lantas mengangguk menanggapi pertanyaan ayahnya, "Iya, Yah. Sejun mau bicara dulu sebentar sama Subin."
Dengan begitu, akhirnya ayah dan bunda Sejun pulang, meninggalkan anak semata wayangnya di rumah calon mertua demi mendekatkan diri dengan Subin.
Tadi, begitu tahu bahwa Sejun dan Subin sudah saling mengenal satu sama lain, para orang tua langsung lega. Ternyata mereka tak harus terlalu menyakiti perasaan anaknya untuk memenuhi permintaan kakek Sejun. Terutama Papa Jung, yang langsung berbaikan dengan si bungsu karena pemuda manis itu segera meminta maaf pada papanya.
Dan sekarang, Subin tidak merasa terbebani lagi.
✨🎠
maap ya jelekbgtternyata :(
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.