Pada satu sisi, Sejun diminta untuk segera menikah. Padahal dirinya saja belum lulus kuliah. Sedangkan di sisi lain, Subin tiba-tiba juga harus terlibat perjodohan yang direncanakan diam-diam oleh orang tuanya.
Wajar, kan, kalau mereka marah?
Lim Se...
Subin dengan gusar mengetuk pintu rumah Hayoung. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya pintu setinggi dua meter itu terbuka, menampilkan Hayoung dengan baju rumahnya. Gadis itu mendecak kesal, "Lama banget."
"Ya sorry kali, lo pikir gue bisa teleportasi apa?"
Hayoung memutar bola matanya malas. Cih, tidak tahu apa Subin juga malas berhadapan dengannya?
Gadis ini benar-benar cari ribut dengan Subin. Tapi Subin tahu jelas, ia harus bersabar untuk sementara. Sebab, kekerasan tidak selalu menyelesaikan masalah. Lagipula, mana mungkin ia menggunakan kekerasan pada seorang perempuan?
"Cepet sana, bawa," suruh Hayoung dengan ketus.
"Tanpa lo suruh."
Subin segera masuk dan menemukan Sejun yang tertidur di sofa. Mengabaikan baju suaminya yang berantakan entah diapakan oleh gadis ular di belakangnya, ia buru-buru memapah Sejun. Tanpa bicara apa-apa lagi pada sang pemilik rumah, pemuda manis itu melangkah lebar keluar dengan Sejun di rangkulannya. Hayoung juga sepertinya tak menganggap keberadaan mereka, terbukti dari ia yang fokus dengan ponselnya.
Akhirnya, Subin berhasil membawa Sejun keluar. Sejenak ia mendudukkan Sejun di kursi yang terletak di teras, "Sekarang pertanyaannya gue pulang naik apa? Kak Sejun juga enggak bawa mobil."
Ia mengerang, "Terus mobilnya kemana astagaaaa capek banget gue."
"Subin!"
Pemuda manis itu menoleh, lantas memandang heran Chan yang berdiri di pekarangan rumah Hayoung. Yang lebih tua mendekat, "Ayo, gue anter pulang."
Si manis tampak ragu, "Tapi kak."
"Apa lagi? Udah ayo masuk sana, gue yang bawa Sejun."
"Ya tinggal dijelasin lah, Bin. Ayooo hurry up, gue ogah lama-lama di rumahnya setan."
Subin masih bergeming. Dengan ragu ia bertanya, "Lo tau dari mana gue di sini?"
"Ada deh."
Subin akhirnya mengangguk pasrah, membiarkan Chan membopong Sejunnya masuk ke mobil. Si manis sementara memilih untuk duduk di jok tengah bersama Sejun, menjaga yang lebih tua.
Seiring perjalanan mereka, Chan mulai membuka suara, "Kok bisa di sana sih?"
Subin tersenyum getir, "Nggak apa-apa, gue juga yang salah."
Chan mendengkus tanpa menoleh ke belakang, "Gila lo, mana ada? Darimananya lo salah? Sumpah ya, gue nggak segan mukul dia kalau sampai bikin lo nangis lagi."
"Jangan dong kak," rengek Subin, "Gue nggak mau kalian berantem."
"Ya terus? Gue harus diem aja gitu? Sejun itu udah gede, gayanya masih kayak gini. Nggak inget apa kalau dia udah nikah, anjeng? Ada masalah kok lari ke mantan, goblok banget sumpah, pengen gue mutilasi."
Subin meringis mendengar omelan tajam dari Chan. Padahal, di sini dialah yang paling merasa bersalah terhadap sepasang sahabat ini. Ah, jadi dirinya harus bagaimana?
"Semoga Kak Sejun nanti di rumah aja," lirih Subin sembari melirik suaminya, "Gue mau bicara sama dia."
"Ya kalau sampai dia nggak di rumah bakal gue gebukin beneran."
Subin paham, Chan peduli padanya. Subin mengerti bahwa di sini ia tak sepenuhnya bersalah, karena nyatanya ia dan Chan hanyalah teman. Tapi ia juga tidak ingin hubungan kedua pemuda yang lebih tua ini retak hanya karena dirinya.
Jadi, jalan satu-satunya adalah meminta maaf. Tidak peduli siapa yang salah, meminta maaf dan memaafkan adalah hal penting dalam hidup yang seringkali dilupakan manusia. Dan Subin tidak ingin menjadi manusia yang tidak memprioritaskan hal tersebut.
"Oh iya, kak," panggil Subin.
"Apa?" balas Chan singkat.
"Jangan bilang Bang Seungwoo, ya."
Chan tertawa kecil, "Telat, udah terlanjur."
"Anjing."
🎠✨
"Lo masuk kamar."
Mendengar titah itu, si manis menggeleng tegas, "Nggak."
"Masuk, Subin. Gue perlu ngomong sama suami lo," pinta Seungwoo.
"Gue bukan anak kecil, Bang. Gue bisa ngurusin masalah gue sendiri."
Seungwoo mendengkus kesal, "Bukan masalah lo udah besar atau masih kecil, Bin. Gue cuma mau ngomong bentar sama Sejun, lo nurut kenapa sih?"
"Tapi Kak Sejun baru bangun." Subin menarik kecil kemeja Sejun yang sedang duduk di sofa, "Nanti aja ngomongnya. Biar Kak Sejun istirahat dulu."
"Sejun cowok, dia kuat. Minum-minum banyak botol aja dia bisa, ya harus terima resikonya."
"Gue juga cowok, bangsat," desis Subin, "Ah terserah lah! Awas aja pokoknya kalau Kak Sejun kenapa-kenapa, gue aduin ke Mama!"
Subin menghentakkan kakinya dengan kesal dan masuk ke kamar, diikuti Byungchan dan Hanse yang sejak tadi diam karena perintah mutlak dari Seungwoo. Dua sahabat yang mengikutinya itu kini duduk di pinggir kasur Subin, menatap si manis yang sama sekali tampak tidak bersemangat.
"Lo kenapa nggak bilang, sih?" rutuk Hanse, "Gue kira kemarin upload foto biar go public beneran, babi, taunya malah ribut."
"Tau nih, lo anggep kita apa, hah? Masa Kak Chan doang yang tau masalah lo, padahal baru kenal. Sialan lo emang," timpal Byungchan.
Subin mendesah pelan, "Kak Chan sahabat gue dari kecil."
"Dusta."
Si manis mendelik, "Beneran, anjing. Gue dulu kecelakaan, terus amnesia dan berakhir nggak inget sama dia."
Byungchan dan Hanse langsung menatapnya dengan serius, "Eh anying, beneran?"
Yang ditanya lantas mengangguk mengiyakan, "Udah jangan bahas Chan, Kak Sejun lagi sensitif. Gimana nih gue?"