Pada satu sisi, Sejun diminta untuk segera menikah. Padahal dirinya saja belum lulus kuliah. Sedangkan di sisi lain, Subin tiba-tiba juga harus terlibat perjodohan yang direncanakan diam-diam oleh orang tuanya.
Wajar, kan, kalau mereka marah?
Lim Se...
Tapi ia baru menyadari, bahwa Sejun tidak pernah menyatakan cinta kepadanya—barang sekalipun ia tidak pernah.
Subin menjadi ragu, apakah selama ini Sejun membohongi perasaannya sendiri? Hanya berpura-pura seolah ia mencintai Subin agar tidak menyakiti perasaan Subin, padahal sebenarnya ia tidak memiliki perasaan apapun. Mungkinkah Sejun bersikap baik pada Subin semata-mata hanya karena perjodohan yang diminta kakeknya?
Kalau sudah begini, Subin bisa apa?
Awalnya ini masalah kecil, tapi Subin sendiri tidak yakin apa yang membuat masalahnya terasa begitu besar. Apakah faktor mereka masih sama-sama generasi muda yang memiliki ego tinggi? Atau faktor Hayoung? Atau faktor Subin yang sering pergi keluar bersama Chan?
Atau ... faktor Sejun yang sudah lelah harus bersandiwara di depan Subin?
Semua itu masuk akal bagi Subin, ia sama sekali tidak mengelak. Bisa saja selama ini Sejun membohonginya—Ia tidak mau berburuk sangka. Namun, segala hal bisa saja terjadi, kan?
Semakin dipikir, kepala Subin semakin sakit.
Entah sudah jam berapa sekarang, yang jelas kini fajar sudah kembali. Subin baru saja terbangun di sofa, kemudian langsung terlonjak kaget dan berakhir jatuh ke karpet. Ia memegangi kepalanya, "Aduh," ringisnya. Kepalanya pusing akibat menangis semalaman, matanya membengkak, dan ia tidak mungkin masuk kuliah dengan keadaan kacau seperti ini.
"Kak Sejun," gumam Subin, "Kak Sejun udah berangkat belum, ya?" Ia berdiri perlahan, sementara tangannya berpegangan ke sofa ketika pusingnya semakin melanda.
"Kak," panggilnya sembari membuka pintu kamar. Tapi di dalam kosong, bahkan kasurnya sudah rapi. Tunggu, atau masih rapi?
Apa itu berarti Sejun semalam tidak pulang?
Subin mengernyit dalam, panik setelah menyadari bahwa Sejun pasti tidak pulang. Ia ingin mencari Sejun, tapi keadaannya tidak memungkinkan. Akhirnya Subin memutuskan untuk duduk dulu di pinggir kasur. Paling tidak, ia harus mengusir sakit kepalanya terlebih dahulu.
Sementara diam di kasur, tangannya sibuk berkelana di ponsel. Ia meninggalkan sebuah postingan Instagram setelah berhari-hari tidak membukanya. Sial. Bahkan Subin baru sadar bahwa akun yang memposting foto dirinya bersama Chan menandai Instagram mereka berdua.
Ponsel Subin mendapatkan banyak notifikasi setelah itu. Postingannya mulai ramai.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
subsubey i think it's time to tell them, that i'm yours and you're mine.
@nujes_lim
-
Subin memutuskan untuk menunjukkan hubungan asmaranya dengan Sejun di media sosial. Sudah cukup ia bersembunyi dalam status 'single' selama ini. Hal tersebut nyatanya justru menimbulkan masalah bagi hubungan Sejun dan Subin. Pemuda itu tak mau lagi mengulang kesalahan yang sama.
Setidaknya, orang-orang akan tahu bahwa Subin telah memiliki pasangan dan berhenti menyebar gosip tentang dirinya dan Chan.
Subin menatap layar ponselnya, sembari berpikir apakah jalan yang ia ambil sudah benar. Ia hanya bisa berharap, semoga setelah ini masalahnya tidak semakin besar. Sebab Subin tidak tahu akan mampu bertahan atau tidak jika Sejun sendiri memilih untuk meninggalkannya.
🎠✨
"Halo, Bunda?" sapa Subin dengan ragu-ragu pada wanita di seberang panggilan teleponnya.
"Iya, Sayang, kenapa?"
Subin diam, kembali menimang-nimang keputusannya untuk bertanya pada bunda Sejun perihal keberadaan suaminya itu. Namun, sampai beberapa detik setelahnya, Subin masih diam. Akhirnya suara wanita di seberang sana yang kembali menyapa gendang telinganya, "Bin, kok diem? Kamu nggak apa-apa?"
"Eh, iya, Bun. Anu, Subin mau tanya ke Bunda."
"Iya, tanya apa?"
Subin menghela napas pelan, "Kak Sejun ada di rumah Bunda enggak?"
"Enggak tuh, mana pernah dia kesini. Emang dia kemana?"
"Uhm, enggak tau. Ya udah deh, Bun. Aku tutup dulu, ya?"
"Bin." Wanita itu menyela sebelum Subin benar-benar menutup panggilan telepon mereka.
Skak mat. Sudah Subin duga pertanyaan semacam ini akan terlontar dari mulut bunda Sejun jika Subin bertanya tentang keberadaan Sejun di saat seharusnya Subin lah yang paling tahu mengenai hal itu.
"Nggak kok! Cuma kemarin tuh Kak Sejun bilang lembur gitu, jadi belum pulang."
"Oohh ya udah, kamu ke kantor aja gih. Ayah Sejun juga sering gitu tau."
Mendengar itu, mendadak secercah harapan datang. Pemuda manis itu langsung tersenyum, "Oke Bunda, makasih ya!"
"Iya, hati-hati ya Bin."
"Pasti, Bunda."
Subin meletakkan ponselnya di tas setelah bunda memutus sambungan. Mematut diri di kaca, setelah itu keluar dari apartemen. Kini, Subin hanya dapat merapal doa agar Sejun mau bertemu dengannya dan menyelesaikan masalah mereka.
Mari kita doakan, Subin bertemu Sejunnya dengan segera.