Pada satu sisi, Sejun diminta untuk segera menikah. Padahal dirinya saja belum lulus kuliah. Sedangkan di sisi lain, Subin tiba-tiba juga harus terlibat perjodohan yang direncanakan diam-diam oleh orang tuanya.
Wajar, kan, kalau mereka marah?
Lim Se...
Subin terbangun dari tidurnya. Sejenak ia melakukan peregangan sebelum duduk di kasur. Si manis itu langsung cemberut begitu menyadari bahwa Sejun sudah pergi dari kasurnya.
"Kak Sejun?"
Tapi Sejun tidak ada di mana-mana. Kakinya sudah melangkah kesana-kemari dan tetap tidak kunjung menemukan suaminya yang tengah merajuk itu. Akhirnya Subin memutuskan untuk menyeduh segelas susu hangat dan duduk di sofa seraya menunggu Sejun muncul.
"Ah, gue harusnya keluar buat cari hadiah sama Kak Chan," keluhnya. Pemuda manis itu bangkit setelah meletakkan gelas di meja, lantas berjalan menuju balkon.
Kepala si manis mendongak, lantas mendapati langit yang semakin mendung. Ia mendecak pelan lalu bergegas masuk ke kamar.
Subin menggigit bibir bawahnya, "Mana nggak ada orang. Semoga nggak hujan angin dan nggak ada petir," gumamnya seraya menutup mata. Ia masuk ke dalam selimut tebalnya sambil merapal doa agar Sejun cepat pulang.
Subin takut petir.
Memang, kalau hanya sekadar hujan biasa ia tak masalah. Tapi kalau petir sudah ikut menyerang, Subin tidak bisa sok berani lagi. Sebab, sebenarnya Subin trauma dengan hujan angin yang disertai petir. Jujur saja bahkan dulu ia sempat takut hanya karena hujan kecil.
"Sial, sial. Gue harus gimana?" racaunya, "Kenapa hujan segala sih, anjing!"
Subin menarik napas dalam, lalu memejamkan mata. Paling tidak agar tak mendengar suara petir, ia harus tidur.
Yah, tapi keinginannya hanyalah keinginan belaka.
Suara petir yang bersahutan satu sama lainnya mulai terdengar memekakkan telinga. Membuat si manis yang tengah bergumul di dalam selimut semakin meringkuk sambil berusaha menutup telinga rapat-rapat.
Pemuda manis itu baru bisa bernapas lega ketika suara pin apartemen berbunyi. Artinya, Sejun pasti sudah pulang! Buru-buru ia keluar kamar dan menghambur ke pelukan Sejun—yang bahkan masih melepas sepatunya.
"Apa sih, Bin? Baju kakak basah ini." Sejun mendorong Subin, namun suaminya itu tak kunjung mundur.
Sedetik kemudian Sejun menyadari, bahwa tubuh manusia manis di dekapannya ini tengah bergetar, "Eh, Subin? Hei, kamu kenapa?" tanyanya lembut. Tangannya beralih untuk mengusap-usap punggung Subin guna menenangkan yang lebih muda.
"Takut ada petir," cicit Subin.
Sejun terdiam. Jadi pemuda manis ini takut dengan petir?
Kini, bukannya menenangkan atau apa, Sejun malah tertawa geli, "Kenapa nggak bilang, sih?" tanyanya seraya mengusak rambut Subin.
Yang ditertawakan lantas merengut lalu memukul lengan Sejun, "Jahat! Aku beneran takut!"
Subin berjalan dengan langkah menggebu-gebu untuk masuk ke kamar. Sebelum si manis berhasil kabur, Sejun segera menarik tangan Subin dari belakang dan kembali memeluknya erat, "Iya maaf, Sayang."
✨🎠
Hujan sudah reda sejak lima belas menit yang lalu. Namun, sepasang pasusu baru itu masih betah cuddling di bawah selimut tebal mereka. Sejun sejak tadi tak berhenti menepuk paha Subin konstan, membuat rasa kantuk kian menyerang Subin. Tetapi Sejun melarangnya tidur. Dasar.
"Jadi, kenapa takut petir? Kakak kira kamu nggak akan takut sama hal-hal kayak gitu," celetuk Sejun.
Subin menghela napas, "Kapan-kapan aja ceritanya, panjang."
"Hmm ya udah terserah. Tapi udah mulai musim hujan, Bin, kamu harus bareng Kakak terus dong."
Si manis memilin bajunya, "Aku nggak masalah sebenernya kalau nggak hujan angin plus petir kayak tadi."
Yang lebih tua tertawa gemas, "Iya iya. Kakak usahain langsung jemput kamu kalau lagi hujan deh."
"Kan aku nggak minta?!"
"Ya nggak apa-apa, udah diem nggak usah protes. Kakak mau nanya lagi."
"Astaga kak." Subin mendongak lalu mencium ujung hidung Sejun sekilas, "Kak Chan aja nggak tau kenapa aku ngajak dia kesini. Kan, kakak udah pulang duluan."
"Habisnya kakak, ngambek mulu. Percaya deh, aku cuma mau ngobrolin sesuatu sama Kak Chan." Si manis merubah posisi menjadi duduk, "Maaf ya udah ngajak Kak Chan kesini tanpa izin ke Kakak?" pintanya memelas.
Sejun tampak sok berpikir, "Dimaafin nggak ya enaknya?"
"Dimaafin dong, yaa?"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kak Sejuun!"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Subin dimaafin kan?"
Celotehan itu Subin lontarkan sembari bersikap semanis mungkin ke Sejun. Mata bulatnya berbinar, sudut bibirnya membentuk senyum tercantik yang ia punya, dan tak lupa dua tangan yang saling menggenggam di depan dada.
Sejun tersenyum gemas atas tingkah laku si manis, lalu mencium bibir Subin dengan lembut, "Subin curang. Tapi oke deh, dimaafin," bisiknya seraya terkekeh geli.
🎠✨
idk what is this actually guys... /hiksrot
maaf ya baru balik udah bawa chapter menggelikan dan penuh drama lol.btw, I really thank you for 1,1k 😭😭 /nangis dipojokan.
sumpah aku nggak berharap banyak waktu publish ini, but ternyata ada yang baca, makasih banyak guys love you (༎ຶ ෴ ༎ຶ)
em aku juga mau bilang kalau kayaknya aku bakal rest bentar soalnya besok aku mulai uas tapi otakku kopong •́ ‿ ,•̀
ya nggak tau juga kalau nanti draft chapter selanjutnya jadi malem ini <3
semangat buat semua yang mau ujian, semoga dapet nilai yang memuaskan ya, mari kita berjuang bersama wkwk ♡(◍• ᴗ•◍)✧*。