Pada satu sisi, Sejun diminta untuk segera menikah. Padahal dirinya saja belum lulus kuliah. Sedangkan di sisi lain, Subin tiba-tiba juga harus terlibat perjodohan yang direncanakan diam-diam oleh orang tuanya.
Wajar, kan, kalau mereka marah?
Lim Se...
Subin terkekeh kecil melihat Sejun yang telah rapi mengenakan setelan jas formal, lengkap dengan rambut yang ditata sedemikian rupa. Tetapi mukanya tertekuk kesal, bibirnya melengkung ke bawah, persis seperti anak kecil yang permintaannya tak dituruti.
"Beneran kamu nggak dateng, Yang?" tanyanya.
"Jangan panggil 'Yang' gitu dong, geli tau akunya nggak biasa."
"Jangan ngalihin topik dong!" sungut Sejun
"Kayak bocah, dih. Sadar, Kak, udah mau lulus kuliah kok masih ngambekan." Subin merotasikan bola matanya, "Serius deh, Kakak ngitung nggak sih dari minggu lalu udah ngambek berapa kali?"
"Ketularan kamu kayaknya."
"Heh! Nyebelin!"
Tak menanggapi, Sejun justru kembali pada topik utama mereka, "Aduh Bin, masa kamu nggak dateng ke wisuda suami sendiri?"
"Iya maaf, kan aku juga nggak tau mendadak ada urusan. Nanti pulangnya aku buatin cake deh? Kalau sempet, pas urusanku udah selesai aku bakal dateng." tawar Subin.
"Emang bisa? Udahlah nggak akan mempan, kamu kira kakak kayak kamu yang gampang dibujuk pakai makanan?"
Subin mencebikkan bibirnya, "Jahat ih."
"Kamu juga," balas Sejun—merujuk pada ketidaksediaan Subin untuk datang ke acara wisudanya.
Si manis lantas mendesah pelan, memajukan wajahnya dan mengusap rahang tegas Sejun, "Nanti Kakak terlambat, Subin minta maaf ya nggak bisa dateng, hm?"
Sejun menghela napas berat. ia mengecup bibir Subin sebentar, "Yaudah lah, mau gimana lagi. Awas ya nanti kakak pulang kamu masih di luar."
Subin tertawa kecil, "Iya, Sayang. Udah sana berangkat, nanti Kak Zuho sama Kak Rowoon lumutan nunggu kakak."
"Oke, kamu hati-hati, ya."
"Siap, Bos!"
Akhirnya Sejun melangkah keluar, meninggalkan Subin yang tertawa puas di dalam apartemen. Pemuda manis itu tak tahu kalau Sejun mudah dikerjai dan dibuat merajuk seperti tadi.
Ayolah, mana mungkin Subin melewatkan momen bahagia Sejun? Melepaskan segala beban sebagai seorang mahasiswa yang penuh dengan tugas dan segala macam tetek bengeknya. Melanjutkan kehidupan sebagai seorang pria yang siap bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup.
Lagipula, kalaupun memang benar ada urusan, wisuda Sejun tentu saja lebih penting.
Tak mau membuang waktu, Subin segera mencuci muka dan berganti pakaian. Rencananya Subin akan berangkat bersama Chan, karena sebagai sahabat yang baik pemuda itu juga akan menghadiri acara Sejun.
Seungwoo tak bisa datang, karena ada pekerjaan yang harus dikerjakan. Dan kalau Seungwoo tidak datang artinya Byungchan tidak akan datang. Kalau Byungchan tidak datang Hanse pun tidak akan datang.
Ya begitulah, terserah mereka juga yang penting Subin datang.
Pemuda manis itu telah siap. Tak lupa mengoleskan sedikit lip balm di bibir plumnya sebagai sentuhan terakhir. Setelah itu ia langsung keluar dan menunggu Chan di lobby apartemen.
Untungnya, begitu sampai di bawah Chan sudah menunggu. Jadi si manis langsung menghampiri yang lebih tua, "Hai, Kak!" sapanya.
"Lama lo."
Subin langsung meninju lengan Chan pelan, "Lo aja baru dateng, ya kan? Nggak nunggu setengah jam juga."
"Nggak usah nyindir." Chan menoyor kepala Subin.
"Kok lo jadi ngeselin sih, Kak?!"
"Bodo amat, emang gue peduli?"
"Anjing lo."
"Udah ah cepet naik. Kadonya udah bawa belum?"
Yang ditanya langsung mendelik, "Lupaaaa!"
Chan memutar bola matanya jengah, "Goblok."
🎠✨
Akhirnya, setelah berjam-jam duduk di kursi, Sejun resmi lulus dari universitasnya. Subin meregangkan badan, pegal karena terlalu lama duduk. Di sebelahnya ada Chan dan Seungsik yang tengah berusaha menelepon Sejun untuk bertemu.
"Diangkat, Kak?" tanya Subin.
Seungsik menggeleng, "Engga nih, laki lo kemana sih, Bin? Heran gue, bukannya nyariin suami malah keluyuran."
Si manis tertawa, "Kak Sejun nggak tau kalau aku dateng, Kak."
"Yaelah, pantesan. Ke belakang aja deh yuk, kali aja ketemu pas lagi jalan," ajak Seungsik.
"Okay."
Ketiganya lantas melangkah bersisian keluar gedung. Keenam pasang mata itu menelisik satu persatu mahasiswa yang melintas di depannya.
Tapi Sejun tidak juga ditemukan.
"Ah elah gue pulang nih lama-lama," sungut Chan. Ia menoleh pada Subin, "Lo deh yang telepon. Kali aja diangkat."
"Tapi kan—"
"Udah bilang aja kami yang nyari," sela Seungsik. Yang paling muda akhirnya mengangguk, lalu merogoh saku celananya dan langsung menelepon Sejun.
Beberapa detik kemudian, langsung diangkat.
"Bajingan giliran gue yang telepon nggak diangkat," desis Chan.
"Emang si bucin anjing banget," timpal Seungsik kesal.
Subin meringis mendengar umpatan dua katingnya itu, "Halo, Kak?"
"Iya kenapa, Sayang?"
"Udah selesai?"
"Udah, bentar lagi pulang nih."
"Eh jangan dulu! Kakak di mana?"
"Kenapa? Lagi sama Rowoon, Zuho, Jinhyuk, sama pacarnya."
"Iya di mana? Kak Chan tadi katanya telepon tapi nggak kakak angkat."
"Yaelah Chan, kakak di depan gedung ini."
Subin mengangguk, "Oke deh!" serunya lalu langsung menutup telepon sepihak.
"Di depan gedung, skuy lah."
🎠✨
ada yang masih bangun?
ini jadiin dua ajalah ya, kepanjangan soalnya aku lanjut besok <3
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.