"Kuliah, Bin?"
Subin hanya mengangguk singkat sebagai jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan Seungwoo. Ia mengambil roti yang sudah diisi selai cokelat dari atas meja makan dan langsung melangkah keluar rumah dengan tas ransel hitamnya.
Pemuda itu menggunakan mobil ke kampus dengan kecepatan rata-rata. Setelah menempuh perjalanan dari rumah ke kampus sekitar 15 menit, akhirnya mobil tampannya sudah terparkir apik di parkiran kampus.
"Heh, bocah!"
"Subin!"
Yang dipanggil menoleh, lantas mendapati dua sahabatnya tengah melambaikan tangan dari depan lorong gedung. Subin mendengkus geli sembari menghampiri keduanya.
Namun, entah akibat sibuk memikirkan apa, yang jelas Subin sangat terkejut ketika bahunya menabrak seseorang dengan keras. Jangan harap ada adegan romantis seperti di film-film, karena nyatanya pemuda yang bertabrakan dengan Subin itu kini mendengkus kesal. Mata sipitnya memandang sinis Subin, "Lain kali hati-hati, punya mata tuh dipakai," ucapnya ketus, lalu melenggang pergi dari hadapan Subin.
Bukannya marah, Subin justru mematung untuk beberapa saat. Ia merasa ada sesuatu yang familier dengan pemuda yang ia tabrak barusan. Padahal, Subin tidak tahu siapa itu. Hanya saja ia merasa akrab kala mata tajam pemuda tadi menatap tepat pada miliknya. Juga ketika suara ketus itu menyapa indra pendengaran Subin.
Tapi sungguh, Subin tak merasa pernah mengenalnya.
Segera ia menoleh, mencari keberadaan pemuda tadi. Namun, rupanya Subin terlambat bangkit dari lamunannya sendiri. Karena saat ini sudah ada segerombolan mahasiswa-mahasiswi di belakangnya, sehingga pandangan Subin pada pemuda yang menabraknya tadi tertutup.
"Subin, anjir! Dipanggilin malah bengong." Satu tepukan keras di bahu Subin akhirnya benar-benar menyadarkan pemuda itu dari kebingungannya.
"Byungchan, Byungchan! Lo kenal atau enggak sama dia?" tanya Subin seraya menggoyangkan tangan sahabatnya itu dengan ribut.
Byungchan menoleh pada Hanse dengan tatapan heran, lalu menggeleng, "Siapa maksud lo?" tanyanya balik.
"Yang tadi nabrak gue!"
"Lihat aja enggak, halu kali lo! Ayo masuk, 5 menit lagi kita ada kelas," balas Byungchan. Pemuda jangkung itu menarik lengan Subin menuju ke dalam gedung fakultas mereka, diikuti oleh Hanse yang hanya menatap Subin dengan aneh.
✨🎠
"Bin, lo kenapa, sih?" tanya Hanse. Pasalnya, sejak kejadian pagi tadi Subin hanya diam. Bahkan makanan di depannya kini hanya diaduk acak tanpa nafsu.
Subin menggeleng lemah, "Pusing, banyak pikiran."
"Alay lo, kayak apa aja," cibir Byungchan yang langsung mendapat tatapan tajam dari Subin.
"Habis nabrak orang kok lo jadi aneh? Jangan-jangan lo kesambet, ya?!" heboh Byungchan. Telapak tangannya refleks menyentuh dahi Subin, mengecek suhu tubuhnya.
Subin dengan kasar menepis tangan Byungchan, "Apa sih, anjing?"
"Ya lagian, lo kenapa?!" tanya Byungchan—untuk yang kesekian kalinya.
"Bang Seungwoo nggak ngasih tau?" tatapan Subin jatuh pada Byungchan. Tetapi pertanyaan itu hanya dibalas dengan gelengan kecil oleh si jangkung.
"Gue dijodohin."
Satu kalimat pendek itu sukses buat mata Byungchan dan Hanse kompak melebar, "ANJIR?!"
"Fuck! Pengang kuping gue!" pekik Subin, "Biasa aja sih kagetnya, nggak usah malu-maluin!"
"Ini bukan waktunya buat itu! Lo serius, Bin?!" Hanse menatap Subin dengan sangsi.
"Kalau bohong gue nggak stres gini lah," balas Subin sekenanya.
Tiba-tiba ponsel Subin berdering, menandakan bahwa ada telepon masuk. Subin kemudian segera mengambil ponselnya dari saku kemeja dan menerima panggilan telepon setelah mendapati nama Sejun yang tertera.
"Ha—"
"Bin! Gue nggak tau ini kabar baik atau buruk," sela Sejun dari seberang sana.
"Tunggu." Subin mengernyit, berusaha mengingat sesuatu.
"Kenapa?"
Subin melangah. Sepertinya benar, ia mengenal suara ini!
"Halo, Subin? Lo nggak apa-apa?"
Semakin Sejun berbicara, semakin yakin pula Subin. Ini suara pemuda yang tadi menabraknya! Ia kemudian langsung berdiri dari duduknya, meraih tas di atas meja, dan keluar dari kantin dengan tergesa. Total mengabaikan panggilan Byungchan dan Hanse yang protes karena ia belum membayar makanannya.
"Kak, lo di mana?!" tanya Subin.
"Apa sih, Bin? Gue di rumah."
Bahu Subin langsung merosot, "Lo nggak ke kampus tadi?"
"Cuma ngembaliin buku ke perpustakaan."
Baiklah, kini ada secercah harapan untuk Subin. Ia tersenyum senang, "Lo yang tadi tabrakan sama gue, ya?!" tanyanya antusias.
"Hah? Tapi kampus kita kan beda, Subin."
Ah, benar juga. Subin sampai melupakan fakta penting itu, kepalang senang karena ia pikir akhirnya ia bisa bertemu dengan Kak Sejunnya.
Buru-buru Subin memutus panggilan teleponnya dengan Sejun. Kemudian ia melangkah lebar ke arah parkiran mobil dengan wajah yang memerah padam.
"Maluu!"
✨🎠
maap ya aku ga konsisten ini 500 word lebih dikit ahahahah abisnya ga kerasa, gatel banget pengen up
btw,
gabisa mupon subin di nightmare gada akhlak banget valid no debatㅡapa aku aja ya :(
KAMU SEDANG MEMBACA
𝙊𝙝, 𝙎𝙪𝙗𝙞𝙣!
FanfictionPada satu sisi, Sejun diminta untuk segera menikah. Padahal dirinya saja belum lulus kuliah. Sedangkan di sisi lain, Subin tiba-tiba juga harus terlibat perjodohan yang direncanakan diam-diam oleh orang tuanya. Wajar, kan, kalau mereka marah? Lim Se...
