Pada satu sisi, Sejun diminta untuk segera menikah. Padahal dirinya saja belum lulus kuliah. Sedangkan di sisi lain, Subin tiba-tiba juga harus terlibat perjodohan yang direncanakan diam-diam oleh orang tuanya.
Wajar, kan, kalau mereka marah?
Lim Se...
Bohong kalau Subin tidak terpikir konversasinya dengan Rowoon beberapa jam lalu. Imbasnya, si manis itu overthinking dan berakhir begadang padahal sekarang sudah jam 3 dini hari.
Betah dengan posisinya membelakangi Sejun, ia berhasil mengelabui sang dominan yang mengira dirinya sudah tidur sejak tadi. Yang lebih tua memeluknya dari belakang, membuat si manis meringkuk di dekapan pemuda itu. Menatap kosong ke arah depan, membayangkan seandainya Sejun luluh dengan Hayoung lalu ... meninggalkan dirinya.
"Bajingan," umpatnya pelan, "Gue harus gimana?"
Subin memejamkan mata sejenak. Setelah mengelus tangan Sejun di perutnya, ia bangun dan keluar dari kamar dengan perlahan.
Pemuda itu membuat segelas susu hangat lalu duduk di sofa dan menyalakan televisi. Matanya memang fokus ke layar persegi itu, tapi pikirannya melayang ke Sejun. Ia sungguh khawatir kalau seandainya hubungan mereka akan ditimpa masalah setelah ini. Subin tidak tahu dirinya sudah cukup dewasa untuk menyelesaikan, atau malah kabur seperti anak kecil.
Pemuda itu memukul kepalanya, "Ayo dong, keluar dulu dari otak gue, duh!" sungutnya kesal.
Ia lelah.
Orang bilang, pernikahan di usia muda memang tidak semudah yang dibayangkan. Selain usia yang belum terlalu matang, dua insan yang memutuskan membawa hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius harus bisa bersikap lebih dewasa. Sementara Subin sendiri masih merasa dirinya terlalu kecil untuk menjalani kehidupan yang serius ini. Lantas, bagaimana cara menyelesaikan dan menghindari masalah nantinya?
Ia tahu, sepasang insan yang telah berjanji dalam pernikahan harus memikirkan dan mementingkan kepentingan bersama, tidak boleh egois, saling mengerti, dan banyak hal lain yang coba Subin lakukan. Terutama mencintai pasangannya sendiri.
Bukannya—
"Subin, ngapain?"
Si manis terkesiap, lantas berbalik dan menemukan Sejun dengan rambut acak-acakannya tengah memandang Subin bingung.
"Eh?" Subin gelagapan, "Nggak, kebangun."
Sejun duduk di sebelah Subin, "Kebangun atau nggak tidur?"
"Lah, kebangun tau, Kak."
Yang lebih tua lantas menggenggam tangan Subin, "Kamu marah, ya?"
"Apa sih, Kak?" Subin berusaha mengalihkan perhatiannya, berharap si dominan segera kembali masuk agar dirinya bisa sendiri.
Tapi ya, mana mungkin.
Sejun menghela napa panjang, "Tadi Rowoon bilang, kamu bikin pancake buat Kakak. Tapi karena kelamaan jadi nggak bisa dimakan, maaf ya, Bin?"
"Kak Rowoon ember nih," sungutnya pelan, "Nggak apa, aku juga nggak tau enak apa enggak, untung nggak jadi dimakan."
"Tapi kamu udah bikin buat kakak." Sejun mengelus surai Subin lembut, "Rowoon bilang apa ke kamu?"
"Nggak ada."
Sejun menatap tepat di kedua manik mata Subin, "Bohong," desisnya.
"Ya udah kalau emang Kak Rowoon ngobrol sama aku emangnya kenapa?" Si manis menarik tangannya dan bergeser menjauh dari Sejun.
"Bin," panggil Sejun lagi, suaranya kali ini melembut, "Ayo bilang ke kakak apa yang ganggu pikiran kamu," pintanya.
Subin tak menjawab.
"Kakak nggak bakal tau kalau kamu nggak ngomong."
Subin masih diam, membuat yang lebih tua mendecak kesal. Pemuda itu bangkit, mendekati Subin dan mengungkung si manis di bawahnya. Subin yang terkejut langsung merosot kebawah, menghindari manik Sejun yang jelas-jelas menatap bibirnya.
Namun, Sejun justru mendekat, tak membiarkan Subin pergi dari tempatnya.
"Kak, minggir deh," ucap si manis sok berani.
Padahal, jantungnya sudah disko.
"Jujur atau kakak perkosa kamu di sini?" bisik Sejun.
PLAK
"Kok ditampar?!" Sejun yang terkejut akan tamparan itu akhirnya menegakkan badan lagi sambil memegangi pipi yang ditampar si manis.
Sementara pelakunya mendelik tajam, "Omongannya ih! Jelek!"
"Ck, ya habisnya kamu nggak mau ngaku."
"Ya nggak usah gitu sih!" Subin menarik Sejun agar duduk di sampingnya, "Nggak bakal juga aku selingkuh sama kak Rowoon."
"Kan kakak cuma mau tau, Yang."
"Nggak usah kepo."
"Kakak cium sampai pingsan beneran nih?" ancam Sejun.
Subin tertawa remeh, "Coba aja, Subin nggak takut," balasnya sambil menjulurkan lidah ke arah Sejun.
Pemuda dengan lesung pipi itu langsung menyeringai tipis, "Oke. Kamu yang minta."
🎠✨
ehem aku kembali hehe
maaf ya aku habis kena writer block dan aku nggatau ini nulis apa but semoga kalian masih belum bosen, sabar ya abis ini kelar (个_个)
first of all thank you buat kalian semua yang udah ikutin sejun sama subin dari september kemarin, gak nyangka aku akhirnya bisa ngomong ini;
happy 2k readers-!!!! omg sumpah luv kalian banyak banyak ♡♡
and happy new year guys, semoga wish kalian buat 2021 tercapai ya!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.