Pada satu sisi, Sejun diminta untuk segera menikah. Padahal dirinya saja belum lulus kuliah. Sedangkan di sisi lain, Subin tiba-tiba juga harus terlibat perjodohan yang direncanakan diam-diam oleh orang tuanya.
Wajar, kan, kalau mereka marah?
Lim Se...
Subin tersentak, ia lantas berbalik dan mendapati Sejun yang duduk di sofa dengan laptop di pangkuannya.
"Oh, Kak Sejun udah pulang? Tadi aku habis dari minimarket, beli jajan."
Sejun mengangguk pelan, "Ada yang mau Kakak omongin." Ia meletakkan laptopnya di meja dan menyuruh Subin mendekat.
Si manis meletakkan belanjaannya di meja ruang makan sebelum duduk di samping Sejun, "Kenapa, Kak?"
"Jadi ini—"
Kalimat Sejun terpotong oleh bel yang tiba-tiba berbunyi nyaring. Sejun memicing, "Siapa?"
"Oh, itu pasti Kak Chan! Aku bukain pintu dulu ya, Kak?"
Sejun mengernyit, "Heo Chan?"
Yang lebih muda mengangguk pelan, "Nanti malem aja ya diomonginnya," ucapnya lalu mengecup pipi suaminya singkat.
Sejun tersenyum gemas, Subin itu memang penuh kejutan, ya.
Subin menyambut Chan dengan senyum manis begitu membuka pintu. Ia mempersilakan Chan yang masih memasang wajah datarnya untuk masuk. Namun, pemuda itu langsung berdeham ketika melihat Sejun duduk di sofa, "Katanya nggak ada Sejun?" tanyanya kepada Subin.
Si pemilik apartemen itu mengerutkan alisnya, merasa pertanyaan Chan—mungkin—sedikit menyinggung, "Lah rumah rumah gue, terserah lah."
Subin menarik Chan untuk duduk, "Barusan pulang pas gue pulang," ucapnya sebagai penjelasan.
"Ngapain, Chan?" tanya Sejun.
"Tuh cowok lo yang ngajak."
Subin meringis pelan begitu mendapati Sejun menatapnya tajam, "Ngapain, Subin?"
"Anu, cuma mau—ah aku harus bilang gimana." Si manis menggigit bibir bawahnya panik. Ayolah, ia tadi mengajak Chan ke kediamannya hanya karena ingin bertanya beberapa hal tentang Sejun. Bukannya Subin ingin macam-macam!
Kebetulan sekali tadi Chan mau, jadi ia senang. Pemuda berlesung itu kan, sahabat dekat suaminya, pasti tahu lumayan banyak hal tentang Sejun yang masih belum Subin ketahui.
"Lim Subin." Suara rendah itu kembali menyapa sebab Subin tak kunjung menjawab.
Yang paling muda akhirnya membalas, "Ih enggak ada, aku cuma mau ngobrol aja sama Kak Chan, sumpah." Dua jarinya membentuk V sign dengan binar mata sungguh-sungguh untuk meyakinkan Sejun.
Sejun menghela napasnya pelan, "Ya tapi Kakak lebih mending kamu ngobrol di luar daripada bawa cowo lain ke apart, apalagi pas nggak ada Kakak."
"Iya maaf." Subin menunduk, "Nggak lagi deh ..."
Chan berdecak, lalu menoyor kepala sahabatnya cukup kencang, "Gue nggak nafsu sama bocil, anjeng. Takut amat."
"Heh, ya lo mau-mau aja diajak kesini," sergah Sejun.
"Katanya penting, ya udah gue turutin," balas Chan sekenanya.
Sejun kembali menatap Subin—meminta penjelasan. Tetapi sebelum ia berhasil membuka mulutnya Subin lebih dulu menyela, "Iya enggak lagi, bukan hal penting kok!"
Subin mendekati Chan, "Kapan-kapan aja ya, Kak, hehe. Maaf."
Chan mengangguk samar, "Santai. Ya udah gue pulang, Jun. Nggak usah dianter, bisa sendiri," pamitnya lalu keluar dari kediaman kedua pemuda yang lain. Meninggalkan sepasang manusia yang saling diam sembari duduk di sofa.
"Kakaaaak, maaf please," rengek Subin. Pemuda manis itu meringsek maju dan duduk di samping Sejun guna memeluk yang lebih tua dari samping, "Maaf," cicitnya.
Sejun hanya meliriknya sekilas, "Jujur dulu, kamu mau ngomongin apa?"
"Nggak penting, ih."
Astaga, masa iya Subin harus jujur? Malu!
"Ya udah kalau gitu." Sejun bangkit, masuk ke dalam kamar dan meninggalkan Subin yang tengah mengerucut kesal.
Lagipula, kenapa Sejun harus pulang secara tiba-tiba begini, sih?!
✨🎠
yhaaaa ngambek
anyway ini
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
BAGUS BANGET YA ALLAH KUMENANGIS 😭😭
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
HAPPY 4TH ANNIVERSARY~! ꒰⑅ᵕ༚ᵕ꒱˖♡ thank you for bringing joy to my life, glad to myself to be an alice ♡♡