dreiundvierzig - 43

348 64 9
                                        

"Kak Sejun sibuk terus."

Mark menggeleng pelan, "Iya iya, lo udah bilang kalimat yang sama lebih dari sepuluh kali hari ini. Gue tau itu, jadi sekarang ayo selesaiin tugas kita, biar lo bisa pulang dan nungguin dia."

"Nggak mau," keluh Subin, "Pulangnya malem, percuma gue pulang tetep sendirian di apart. Mending di sini aja sama lo."

"Ya udah, sabar. Dia kerja juga buat lo. Makanya fokus kuliah jangan ngecewain suami lo."

Si manis mendengkus, "Ish! Masalahnya bukan di situ!"

Pemuda bule yang akhir-akhir ini semakin lengket dengannya di kampus itu mengernyit, "Huh? Terus kenapa? Kangen?"

"Bukan!" Subin tampak berpikir, "Eh iya sih, kangen. Tapi tuh Mark, gue takut dia lupa sama anniversary kami."

"Kapan?"

"Besok."

"HAH?! Cepet banget anjir."

"Emang waktu nggak kerasa, ya." Subin menerawang, "Kayaknya kemarin lo sama gue baru kenalan, masuk kelas bareng, eh gue udah mau anniversary setahun aja sama suami."

Mark mengangguk setuju, "Baru kemarin lo uring-uringan karna Sejun, eh langgeng juga."

Pemuda manis itu mendelik, "Woy, jangan doain nggak langgeng lah."

"Ya kali, Bin! Nggak mungkin gue doain yang aneh-aneh!"

Subin hanya terkekeh kecil. Lagi-lagi ia menghela napas pelan, "Kak Sejun, lupa nggak ya?" Ia menatap Mark, "Menurut lo?"

"Enggak," jawab Mark gamblang, "Sesibuk apapun cowok, kalau menyangkut anniversary pertama, di hubungan pernikahan lagi, dia nggak bakal lupa."

"Gue juga cowok ye," desis Subin, "Dan lagi, bisa aja ada kemungkinan dia lupa."

Mark memutar bola matanya malas, "Ugh, nevermind, gue capek ngomong sama lo." Ia kembali fokus ke lembaran kertas di depannya, mengisi tugas kelompok mereka.

Diam-diam Subin menggigit bibir bawahnya keras, ia jadi tidak fokus karena memikirkan Sejun.

Gila, rupanya Lim Sejun sebegini besar pengaruhnya dalam hidup Subin.

Subin melirik Mark yang akhirnya membereskan peralatan tulisnya, menutup buku-buku tebal di depan Subin dan menumpuknya jadi satu. Subin menatap temannya heran, padahal tadi Mark bilang ingin segera menyelesaikan tugasnya.

Mark kemudian menyesap americano-nya, "Chan kemana? Tumben." Ia melirik Subin, "Dulu kan main terus."

"Ogah ah, trauma gue anjir."

"Lo pikir gue apa anjir," timpal seseorang dari belakang Subin. Kepalanya ditoyor keras, membuat si manis mengaduh kesal, lantas menoleh ke belakang untuk mendapati objek yang sedang mereka bicarakan.

Chan datang, ditambah Sejun.

"Apa sih?! Ngeselin, sukanya main tangan," dengus Subin seraya mengelus kepalanya—yang sama sekali tidak sakit. Sejun tampak tersenyum simpul sebelum mengacak surai si manis gemas.

"Lo berdua, udah selesai?" tanya Chan sembari duduk di samping Mark. Sementara Sejun duduk di samping Subinnya.

"Boro-boro selesai, capek kuping gue dengerin Subin bacot ngeluh mulu dari pagi."

Chan mengangguk-angguk pelan, "Emang bacot banget sih, mulutnya nggak bisa diem."

Subin mendelik mendengar penuturan dua sahabat baiknya itu, "Wah, anjing. Fitnah nih namanya, pencemaran nama baik! Mana ada gue bacot? Lo yang bacot!"

𝙊𝙝, 𝙎𝙪𝙗𝙞𝙣!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang