Pada satu sisi, Sejun diminta untuk segera menikah. Padahal dirinya saja belum lulus kuliah. Sedangkan di sisi lain, Subin tiba-tiba juga harus terlibat perjodohan yang direncanakan diam-diam oleh orang tuanya.
Wajar, kan, kalau mereka marah?
Lim Se...
Subin mengerang kesal. Hampir saja kakinya mendendang kursi di hadapan kalau tidak ingat ia sedang berada di perpustakaan kampus. Bisa-bisa ia didenda sebab merusak fasilitas kampus nanti.
"Diem kenapa deh, Bin? Yang fokus ngerjainnya biar nggak bingung sendiri. Itu buku bejibun di depan lo juga dibaca, jangan dianggurin," tegur Mark.
"Udahan yuk, Mark. Pusing gue," ajak Subin. Ia sudah mulai menutup satu persatu buku yang ia bawa dari rak tadi.
Sudah cukup untuk hari ini. Atau kepalanya akan meledak karena terlalu banyak berpikir.
"Najis, kayak gue dong pantang menyerah," balas Mark sombong. Tapi tetap saja mengikuti Subin menutup bukunya.
Subin yang melihat itu hanya memutar bola matanya malas, "Yaelah Mark, kalau udah capek mah udah kali jangan dipaksa. Sok-sokan banget lo."
Mark hanya menyengir lebar. Keduanya kemudian sibuk dengan ponsel masing-masing, sebelum akhirnya pemuda bule di depan Subin itu kembali membuka percakapan, "Eh iya Bin, lo sama Chan pacaran?"
Yang ditanya mendadak tersedak air liurnya sendiri, lantas menatap nyalang Mark, "Omongan lo, bangsat."
"Lah anjrit gue kan nanya ... salah?"
"Kok bisa mikir gitu sih, anjing?!" Subin meletakkan ponselnya dengan kasar ke meja. Tidak habis pikir dengan Mark, bisa-bisanya mengira Chan dan dirinya berpacaran?
Mana mungkin! Hati Subin kan sudah diambil Sejun sepenuhnya!
"Banyak loh yang ngira gitu." Mark bertopang dagu, "Kenapa marah sih? Biasa aja dong. Kalau enggak ya enggak."
Subin mendesah pelan, "Nggak gitu, Mark. Lo sendiri kenapa ngira gue pacaran?"
Yang ditanya mengedikkan bahu, "Habisnya kalian sering jalan berdua, kan? Lo juga sering bikin story foto terus mention dia."
"Gitu doang bangsat, temen juga bisa kali."
Mark tertawa, "Yaelah, Bin. Suka mah suka, nggak apa-apa. Ngapain ngelak?"
"Aduh si bangsat ini nggak ngerti." Subin mengusap mukanya kasar, bimbang. Kalau tidak diluruskan, bisa-bisa masalahnya menjadi semakin besar. Subin harus menghindari sebisa mungkin segala masalah kalau tidak ingin hubungannya dengan Sejun yang bermasalah.
"Gosip lo sama dia tuh udah kesebar, njir. Kak Chan kan lumayan famous. Lagian, sekarang juga dia sering kesini nemuin lo, padahal udah lulus. Ya semakin nyebarlah gosip."
Si manis tidak bisa tidak syok akan fakta itu, "Mark, lo serius?"
Awalnya Mark berniat menggoda, tapi melihat Subin yang raut mukanya serius Mark jadi bingung sendiri. Memangnya dia salah, ya?
"Bin?"
"Duh, Mark," rengek Subin sembari menutup mukanya. Ia mulai panik. Ternyata sesering itu dirinya bermain dengan Chan. Padahal kadang tidak hanya berdua, tetapi berempat atau bahkan berlima dengan Seungwoo dan teman lainnya.
"Heh, kenapa sih?" tanya Mark khawatir, "Ada masalah?"
"Ada, Mark!" sentak Subin. Namun, ia segera mengecilkan suaranya begitu sadar mereka tidak boleh berisik di dalam perpustakaan, "Gosipnya udah lama?"
Mark tampak berpikir sebelum menjawab, "Udah kemarin kayaknya, bentar doang kok. Ada foto lo gitu sama Chan."
"Siapa yang nyebar, bajingan?!"
"Enggak tau! Fotonya ada di medsos, gue kira lo tau tapi diem aja, ya udah."
"Jadi ada yang ngikutin gue gitu?"
"Eum ... mungkin?"
Subin mendecak frustasi, sekarang ia harus bagaimana?
"Bin," panggil Mark, "Kenapa sih?"
Si manis menarik napas panjang, mengeluarkannya perlahan, lantas memandang lekat temannya, "Mark, liat ini," suruhnya.
Subin mengangkat tangan, menunjukkan sebuah cincin yang melingkar indah di jari manisnya. Ia memutuskan, akan jujur pada Mark bahwa dirinya telah menikah dan memiliki suami.
Mark mengangguk, "Gue denger cincin itu sama kayak punya Chan, tapi enggak tau lagi. Emang bener?"
Subin jaw drop.
"What the fuck? Lo nggak lagi bercanda kan, Mark?"
"Gue serius anjing, lo juga to the point aja bisa nggak sih?"
"Udah sejauh apa sih mereka gosipin gue sama Kak Chan?" gumam Subin. Tentu saja ia panik bukan main. Bagaimana kalau Sejun mendengar gosip yang melenceng itu? Bisa-bisa ia marah besar padanya!
Walaupun bisa saja Sejun mengerti bahwa itu hanya gosip tidak benar, tapi sekali lagi Subin tegaskan, Subin hanya ingin menjauhi masalah.
"Lo mau bantuin gue nggak?"
"Apa?"
"Bantu take down fotonya."
Mark diam. si manis yang tidak mendapat respon akhrinya kembali buka suara, "Mark, ini cincin nikah gue."
"HAAAAHH?!"
"Yang berisik silakan keluar!"
Mark langsung membekap mulutnya sendiri, "Lo sama Chan udah nikah?"
"Asuuuuuu," umpat Subin, "Gue udah nikah, goblok. Tapi bukan sama Chan!"
Jangan ditanya lagi rupa Mark seperti apa, ia benar-benar syok. Mulutnya melangah sambil melotot ke arah Subin dan cincin yang melingkar di jari manisnya secara bergantian.
"Serius lo, jing? Sejak kapan?"
Subin mengacak surainya, "Udah lama Mark! Dari awal kuliah, delapan bulan yang lalu."
"Anjir, lo kok nggak ngundang gue?"
Si manis mendesah kesal, "Bisa-bisanya lo mikirin undangan nikah gue?"
"Okay sorry. Jadi gimana?"
"Bantuin cari admin, terus hapus fotonya," pinta Subin.
"Percuma nggak sih? Secara anak-anak pasti udah tau, Bin."
"Ya pokoknya dihapus dulu, gue mau ngomong ke Kak Chan biar dia bantuin." Subin segera berdiri, mengemasi bukunya dan hendak melangkah sebelum Mark menahannya.
"Apa nggak sebaiknya lo bilang dulu ke—err, suami? Atau ... istri lo?" Mark tampak ragu.