dua satu - 21

571 106 20
                                        

Subin tersenyum puas dengan hasil karyanya. Bukan hasil karya juga sih, hanya saja ia baru menyelesaikan gift box berisi satu setel pakaian yang kemarin ia beli bersama Chan, serta jam tangan yang tidak terlalu mahal tetapi tetap berkualitas. Tak lupa pita guna mempercantik tampilan dan secarik surat.

Rencananya, Subin akan memberikan hadiahnya sepulang Sejun wisuda, karena suaminya itu bilang besok acara kelulusannya akan diadakan.

Subin tentu saja turut bahagia melihat suaminya akan lulus. Akhirnya perjuangan—dan penderitaan—selama 4 tahunnya selesai. Subin sendiri tidak sabar untuk segera menyelesaikan kuliahnya sehingga ia bisa segera berkarir. Sebab setelah ini, Sejun akan langsung memulai karirnya menggantikan sang ayah di perusahaan. Dan Subin harus berjuang agar dapat benar-benar bersanding dengan suaminya.

Sejun sendiri selama ini telah belajar banyak tentang segala hal yang bersangkutan dengan perusahaan karena ia adalah penerus tunggal, jadi ia sudah pro.

Tapi sekarang masalahnya ...

Sejun merajuk, lagi, karena Subin tadi pagi dengan tega menoyor kepalanya keras setelah mengingat mereka belum sikat gigi tapi sudah—

Ah, sudahlah. Kalian tahu sendiri maksudnya. Nah, belum lagi Subin tadi pagi berteriak "Anjing!" di depan muka Sejun. Benar-benar di depan Sejun.

Sial, Subin sedang sial sekarang. Tapi menurutnya Sejun justru lucu ketika sedang merajuk begini. Jadi, supaya suaminya itu berhenti mendiamkannya, Subin akan membuatkan pancake dengan topping madu karena pemuda berlesung itu menyukai madu, sangat.

Yah, mari kita doakan saja agar Subin berhasil membujuk Sejun nanti.

🎠✨

Sudah jam 8 malam, tapi Sejun belum pulang. Padahal, katanya jam 4 pemuda itu akan sampai di apartemen. Dan padahal—lagi, pancake buatan Subin sudah jadi sejak 4 jam yang lalu juga. Ponsel Sejun mati sejak satu jam yang lalu, entah sudah berapa panggilan Subin yang terabaikan tadi sore.

Mau menelepon teman-temannya, tapi Subin tidak punya nomornya selain milik Chan. Yang lebih menyebalkan, Chan saja tidak menjawab! Subin bingung ada apa dengan hari ini.

Pemuda itu menghela napas panjang, "Kakak di mana sih," gumamnya khawatir. Sejun telat empat jam, siapa yang tidak khawatir coba?

Tepat saat Subin beranjak dari kasur, terdengar pintu apartemennya terbuka. Senyumnya langsung mengembang. Ia segera melangkah lebar ke luar kamar untuk menyambut sang suami.

Namun, alih-alih pelukan hangat Sejun yang ia dapatkan seperti biasanya, Subin justru dihadapkan dengan kehadiran seorang perempuan yang tengah merangkul lengan Sejun. Sontak senyum manis yang menghiasi wajah Subin luntur seketika. Digantikan raut muka penuh tanda tanya dan—kecewa.

"Kak?" cicit Subin.

Dua manusia di depan pintu yang awalnya tengah mengobrol itu langsung menoleh. Ternyata mereka tidak hanya berdua, karena baru saja Zuho masuk bersama Rowoon.

Sejun buru-buru melepaskan rangkulan Hayoung dan mendekati Subin, "Maaf terlambat, tadi Kakak diajak Hayoung sama yang lain jalan."

"Harusnya Kakak bilang, HP juga mati. Aku khawatir, tau nggak?"

"Iya maaf, ya?"

"Bin sorry ya, tadi nggak pada pegang HP juga, maklum besok kami kan wisuda jadi mau ngabisin waktu sebelum sibuk," jelas Zuho.

Ya ... Subin paham sih. Tapi memangnya harus Hayoung merangkul-rangkul Sejun seperti itu?

"Bin?" panggil Sejun.

Akhirnya, Subin tersenyum kecil, "Ya udah, aku cuma khawatir aja kok. Kalian mau minum apa?" tanyanya.

"Nggak usah repot, Bin, cuma bentar ini." jawab Rowoon.

Subin mengangguk, "Oke. Aku masuk ya, Kak?"

"Eh, Subin," panggil Hayoung. Ia terkekeh, "Hai? Kita belum sapaan dari tadi."

"Hai juga, Kak." Subin membalas singkat, "Kak Sejun nanti kalau mau di kulkas ada jus, aku di dapur aja deh."

"Kalau mau duduk bareng aja nggak apa-apa kali, Bin," celetuk Rowoon.

"Kalian tinggal bareng, ya?" tanya Hayoung.

Zuho berdecak kesal, "Bacot lo, Young."

"Dih, gue nanya, anjir. Subin aja nggak apa-apa kok, ya kan, Dek?"

Si manis terkekeh, "Iya, gue sama Kak Sejun udah nikah."

Satu-satunya perempuan di sana langsung mendelik, "Oh?! Nikah?" serunya. Lantas memukul pelan lengan Sejun setelah hening beberapa saat, "Kok gue nggak diundang?!"

"Maaf, Kak, emang tertutup kok. Ya udah ya, gue masuk duluan," jawab Subin lalu masuk ke dalam.

Mendudukkan dirinya dan menatap kosong ke arah depan, "Bangsat, perasaan gue bener-bener nggak enak sama cewek itu."

🎠✨

pengen cepet-cepet selesai, aku nggak pd (๑•﹏•)

𝙊𝙝, 𝙎𝙪𝙗𝙞𝙣!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang