Pada satu sisi, Sejun diminta untuk segera menikah. Padahal dirinya saja belum lulus kuliah. Sedangkan di sisi lain, Subin tiba-tiba juga harus terlibat perjodohan yang direncanakan diam-diam oleh orang tuanya.
Wajar, kan, kalau mereka marah?
Lim Se...
Malam ini, akhirnya Subin mengubah rencana. Yang tadinya ingin bersantai di cafe, menghabiskan waktu dengan Sejun sampai tengah malam. Namun, rencana itu menjadi mampir ke toko langganannya untuk membeli cake dan langsung meluncur ke rumah Sejun.
"Mau beli apa, Bin?" tanya Sejun ketika mereka memasuki toko.
"Bunda suka apa?" tanya Subin balik.
"Apa aja, biasanya beli random."
Si manis tampak berpikir sebentar, "Ya udah, apa aja nih ya?"
Yang ditanya mengangguk menyanggupi, "Iya, sana pilih," suruhnya seraya mengelus rambut Subin. Lantas si manis langsung berjalan-jalan di depan etalase, memilih kue yang sekiranya akan disukai sang mertua.
Beberapa menit menimbang-nimbang, Subin akhirnya memutuskan untuk membeli rasa yang paling umum, redvelvet dan beberapa buah macaron. Lalu setelah selesai dengan urusan pembayaran, ia segera menghampiri Sejun yang tengah duduk di pojok ruangan.
Si dominan yang tadinya fokus dengan ponsel itu lantas mendongak, "Udah?"
"Eum, aku beliin red velvet sama macaron, nggak apa-apa, kan?" tanyanya.
"No problem." Sejun bangkit, "Ya udah yuk langsung."
"Eh, tunggu-tunggu." si manis menahan Sejun, mendorongnya agar duduk kembali di tempatnya tadi, "Pose dong, aku fotoin. Bagus nih, mumpung lagi kesini juga."
Yang disuruh lantas menggeleng, "Nggak mau ah, malu tau diliatin kasirnya tuh."
"Ih nggak, cepetan!"
Akhirnya Sejun menurut saja. Daripada si manis merengek terus, lebih baik ia kabulkan permintaan sang suami. Beberapa kali Subin mengambil potret Sejun dengan ponselnya, lalu tersenyum puas, "Tuh, kan. Keren!"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Iya iya, ya udah ayo nanti mama nungguin loh."
"Oke!"
Dua anak Adam itu melangkah keluar cafe dan masuk ke dalam mobil. Sejun mulai tancap gas, membawa mobilnya membelah jalanan dengan ditemani suara lagu dari radio dan suara indah dari senandung Subin. Beberapa menit setelahnya, mereka sampai di rumah Sejun.
Tanpa basa-basi lagi yang lebih tua langsung menarik Subin masuk. Mereka disambut dengan begitu hangat oleh suara ceria bunda Sejun yang menyapa keduanya.
Ah, lebih tepatnya Subin.
"Subinnnn! Wah akhirnya menantu bunda nyamperin."
Si manis tersenyum sungkan, "Iya, maaf ya, Bun, baru sempet dateng," balas Subin seraya menerima pelukan dari bunda.
"Nggak apa-apa. Nanti kamu sering kesini dong, Bunda kangen tau. Pengen ngomongin banyak hal ke kamu juga."
"Iya, Bunda. Oh ya, ini ada kue, maaf ya cuma bawa ini aja. Habisnya, Kak Sejun mendadak ngomong kalau mau ke rumah Bunda sama Ayah," sesal Subin.
Mertuanya itu justru tidak mempermasalahkan, "Nggak bawa apa-apa juga nggak apa-apa kali Bin, kamu anak bunda juga sekarang." Wanita itu mengusak rambut Subin lantas menariknya masuk, "Langsung makan aja yuk, keburu dingin."
"Aduh Bunda, maaf ya Subin jadi enggak bantuin apa-apa."
"Udah jangan minta maaf mulu kamu itu," kekeh Sejun, "Kakak kan udah bilang nggak apa-apa."
"Duduk Bin. Semoga suka ya masakan Bunda."
Si manis tersenyum, "Pasti suka kok, Bun!"
🎠✨
Subin menghela napasnya pelan. Sekarang sudah malam, ia dan Sejun sudah berencana akan pulang, tapi sepertinya semesta tidak mengizinkan. Sebab, tiba-tiba hujan deras turun, tak lupa membawa serta kilat dan petirnya.
Si manis yang awalnya tengah membawa gelas bekas jus milik Sejun ke tempat cucian refleks berteriak dan melepaskan gelas di tangannya. Yah, lalu bisa ditebak gelas putih itu pecah berkeping-keping sebab meluncur bebas dari tangan Subin. Kemudian pecahlah pula tangis Subin setelah tahu gelas yang ia jatuhkan merupakan gelas kesayangan Sejun.
Setelah itu drama di rumah orang tua Sejun itu masih berlanjut. Subin yang panik segera mengambil pecahan gelas di lantai sembari sesekali meringis sebab takut akan petir yang tak kunjung berhenti. Tapi justru kepanikan itu berimbas pada tangannya yang terkena bagian tajam, sehingga menimbulkan luka. Sejun jadi ikut panik bukan main, karena Subin semakin menangis.
Kini pemuda manis itu sudah bersandar di kasur Sejun dengan hidung yang sedikit memerah. Tangannya memeluk guling erat selagi menunggu Sejun kembali. Ia tadi dipaksa Sejun masuk ke kamar untuk menenangkan diri, karena hujannya terdengar semakin deras. Sementara yang lebih tua mengambil kotak P3K.
"Gara-gara Ayah sih ini." Sejun masuk ke kamar sambil menggerutu. Pemuda itu lantas duduk di sebelah Subin dan segera mengobati jari si manis yang berdarah.
Yang ditatap seperti itu tersenyum gemas, tangannya bergerak untuk mencubit pipi Subin yang sedikit memerah, "Dimaafkan, Sayang. Udah nggak usah dipikirin, ayah aja nih yang ember."
"Kok Ayah, sih?"
"Coba aja Ayah nggak teriak 'Sejun, kesayangan kamu pecah!' gitu, pasti kamu nggak makin nangis."
Si manis memeluk Sejun sambil merengek, "Maaf ya, Kak, itu tadi siapa yang beresin pecahannya?"