"Otak lo kemana sih, Jun?" Chan mengerang frustasi, "Tolol!"
Rahang Sejun mengeras, "Nggak usah sok naif deh, Chan. Lo gini cuma karna suka sama Subin kan?"
Chan mengusap wajahnya kasar, lantas duduk dengan sebuah hentakan di depan Sejun, "Oke, gue nggak ngelak kalau gue suka sama Subin." Ia menatap tajam sahabatnya, "Tapi gue masih punya otak buat nggak ngerebut Subin. Gue nggak punya niat jahat, Jun. Lo itu sahabat gue."
Sejun mendecih remeh, "Mana bisa gue percaya gitu aja?"
"Ck, udah dicuci otak sama Hayoung apa gimana sih? Lo ini nggak merasa bersalah apa sama Subin? Bukannya dengerin penjelasan dia, malah kabur ke rumah mantan, emang bangsat lo."
Sejun tak menjawab. Hanya diam dan memandang Chan yang berkali-kali menghela napas kasar di depannya.
"Jadi gue kan yang harus bilang ini ke lo, ah goblok lo anjing," kesal Chan.
Sejun mengernyit atas pernyataan absurd dari sahabatnya itu, "Apa? Maksudnya gimana? Nggak usah basa-basi kenapa sih?"
Chan mendelik, "Otak lo yang basi, anjeng. Beli baru sana, biar tololnya ilang."
"Apa sih, bangsat? Kalau nggak niat jelasin mending lo pergi aja."
"Ngomel mulu kayak perawan."
Habis sudah kesabaran Sejun. Ia akhirnya berdiri, hendak melangkah keluar dari ruangannya sebelum suara Chan kembali menginterupsi.
"Gue kenal sama dia jauh sebelum lo kenal dia, Jun."
Pemuda lain yang berstatus sebagai suami Subin itu langsung berbalik dengan wajah terkejutnya, "Subin?"
Chan mengangguk pelan, "Gue dulu selalu ngebayangin hari terindah gue sama Subin, di mana kami berdua sama-sama udah punya usia yang cukup mateng buat menikah. Gue yang akan ngelamar dia setelah dia lulus kuliah, terus kami nikah di luar negeri dan hidup bahagia sama anak kami." Ia tersenyum getir, "Tapi ternyata takdir berkata lain. Dia ketemu sama lo, terus apa? Kalian kenal cuma bentar, tapi lo langsung berhasil nikah sama Subin."
Sejun mendekati Chan, memegang kedua pundaknya, "Kenapa lo nggak bilang, goblok?"
"Buat apa? Gue bilang juga nggak akan ada yang berubah, kan? Kalau lo mau tau aja, gue sama dia temenan dari kecil dan gue udah jatuh cinta sama Subin sejak lama." Chan memejamkan mata, "Bahkan gue udah lupa kapan pertama kali perasaan ini tumbuh. Makin gue menghindar, makin besar perasaan gue buat Subin."
Chan terkekeh ketika bayangan Subin hadir dalam pikirannya, "Gue selalu ngawasin Subin dari jauh, sampai akhirnya gue denger kabar bahwa lo mau nikah dan nama lo sama Subin adalah nama tertera jelas di surat undangan. Maaf Jun, gue terlalu pegecut sampai nggak berani dateng ke hari bahagia kalian."
"Jadi, lo sibuk itu bohong?" tanya Sejun
"Nggak sepenuhnya, karna nyatanya gue sibuk menata hati. Lo bilang gue alay, gue jitak ya."
Sejun berdecak, bisa-bisanya Chan bercanda di saat seperti ini?
"Tapi kenapa lo menghindar, Chan? Kenapa lo nggak pernah cerita apa-apa ke gue?"
"Gue awalnya mikir positif, Jun. Tapi ternyata yang mau lo nikahin memang Subin yang gue kenal, ya gue harus gimana? Kalau soal menghindar ... lo tau kan Subin dulu pernah kecelakaan?"
Sejun mengangguk, "Tau, Subin pernah cerita."
Chan mendesah panjang, "Sebenernya dia kecelakaan sama gue, bukan bang Seungwoo."
Sejun membelalak, "Itu lo?!"
"Iya, itu gue. Gue merasa bersalah, makanya gue mutusin buat menghilang gitu aja waktu tau Subin amnesia." Chan mendadak merasakan nyeri di hatinya, "Terbukti kan, sekarang? Dia lupa sama gue, Jun. Dia baru tau kalau kami kenal dari kecil itu beberapa hari yang lalu, tepat setelah gosipnya kesebar di kampus. Pas lo marah-marah sama dia. Sorry, dia cerita semuanya ke gue."
Perasaan bersalah perlahan menyeruak ke dada Sejun. Hatinya mendadak sesak. Dirinya ... telah menyakiti Subin. Seharusnya Sejun mempercayai Subin malam itu, bukannya pergi dan menghabiskan waktu dengan mabuk. Seharusnya dia mendengarkan penjelasan Subin saat itu, bukannya marah-marah tidak jelas dan berakhir membuat si manis menangis.
Ada banyak kata seharusnya yang melintas di otak Sejun saat ini. Menyadari kebodohannya beberapa hari lalu, sampai klimaksnya, membuat si manis salah paham karena dirinya yang brengsek. Ah, sial. Penyesalan memang selalu datang terlambat.
Sejun memejamkan matanya, menarik napas dalam, "Maaf, Chan," lirihnya.
Chan menepuk pundak Sejun sebanyak dua kali, "Nggak perlu minta maaf, gue tau bukan salah lo. Yah, ini juga buktiin kalau mungkin Subin emang bukan jodoh gue, kan? Udah saatnya gue berhenti berharap, karna cinta nggak selalu bisa memiliki."
Pemuda itu mendadak menatap Sejun tajam sembari melipat kedua tangannya di depan dada, "Tapi lo beneran cinta sama Subin, kan? Sumpah ya, gue nggak akan segan buat ngehajar lo lagi kalau sampai nyakitin Subin kedua kalinya."
"Nggak takut." Sejun tersenyum miring, "Gue berani sumpah gue cinta sama Subin."
Chan berdecih, "Cinta kok ciuman sama mantan."
Sejun mengerang kesal. Ia berani bersumpah, itu adalah kesengajaan Hayoung, bukan dirinya. Tangannya bergerak mengacak rambut karena frustasi, "Tadi Hayoung yang tiba-tiba narik gue, terus kalian masuk! Ah, bangsat emang!"
"Ya lo yang bangsat, bangsat. Awas aja lo kalau masih gitu, gue kebiri. Cepetan minta maaf atau Subin gue rebut ya, anjeng!"
"Mati lo sampai berani."
🎠✨
puas bgt keknya chan ngatain sejun, wkwk.
aku lagi ada di fase cape bgt sm sekolah, tugas yg menggunung udh kaya tumpukan dosa, guru, dan antek-anteknya. bin subin ayo bin nikah sama aku hiks (っ˘̩╭╮˘̩)っ
ayo vomment biar aku semangat •́ ‿ •̀
KAMU SEDANG MEMBACA
𝙊𝙝, 𝙎𝙪𝙗𝙞𝙣!
FanfictionPada satu sisi, Sejun diminta untuk segera menikah. Padahal dirinya saja belum lulus kuliah. Sedangkan di sisi lain, Subin tiba-tiba juga harus terlibat perjodohan yang direncanakan diam-diam oleh orang tuanya. Wajar, kan, kalau mereka marah? Lim Se...
