vierundvierzig - 44

503 66 30
                                        

Subin melenguh pelan, tangannya ia rentangkan ke samping untuk meraih Sejun, tapi yang ia dapatkan hanya tumpukan bantal dan guling. Pemuda itu langsung membuka mata, menoleh kesana-kemari guna mencari suaminya yang sudah hilang entah kemana.

"Astaga, masih jam 6," gumamnya dengan suara serak khas bangun tidur.

Pemuda manis itu memutuskan untuk bersandar karena terlalu malas untuk beranjak. Tangannya mengucek mata, sementara bibirnya menguap lebar karena masih mengantuk. Wajar saja, semalam ia menghabiskan waktu bersama Sejun dengan night talk sampai pukul dua dini hari.

Ah, tapi Sejunnya sudah tidak ada di kamar jam segini.

"Masa Kak Sejun udah berangkat, sih?" gumamnya lagi, setengah merengek.

Subin mengacak rambutnya, "Huft, ya udah lah." Pemuda itu menipiskan bibir sebelum mengambil ponselnya yang tergeletak di nakas. Baru saja ia akan menekan ikon instagram, benda pipih itu bergetar.

'Kak Sejun is calling...'

Tanpa berpikir Subin segera menggeser ikon hijau di layar ponselnya, menerima telepon dari sang suami. ia tersenyum kecil, "Halo, kak?"

"Hai, Sayang, baru bangun?"

"Iya, baru banget," kekehnya.

"Ooh gitu. omong-omong, maaf ya Kakak udah berangkat duluan."

Tuh kan, Subin benar.

"Hmmm, iya nggak apa-apa. Tapi Kakak kemana sih, pagi banget berangkatnya? Nggak bisa gitu bangunin aku dulu?"

"Bukannya nggak mau, Bin, tapi kamu nyenyak banget gitu. Lagian semalem juga habis begadang kan, takutnya kamu capek."

Si manis mendengkus, "Ada aja alesannya."

"Loh, beneran kok." Sejun tertawa di seberang sana, "Kakak ada urusan bentar, udah janjian pagi-pagi soalnya."

"Ke?"

Sejun diam sejenak, sebelum menjawab dengan nada tengil, "Rahasia."

"Tau ah, rese!" dengus Subin kesal, lalu memutus panggilan mereka. Sepotong kalimat yang dapat Subin dengar sebelum telepon mereka mati hanya, "Loh, Bin! bercan—"

Sudah, hanya begitu.

Pemuda manis itu mengerucutkan bibir dengan hati dongkol, "Bercanda mulu hidupnya!"

"Mau kemana sih anjeng?!"

"Sssshh, berisik!"

Subin menatap sengit Byungchan yang menarik tangannya keluar apartemen dan membawanya entah kemana. Suasanya hatinya jelek sekali sejak ditinggal Sejun tadi pagi. Ia bahkan menunggu Sejun kembali menghubunginya, tetapi hasilnya nihil.

Ia akhirnya hanya menghabiskan waktunya dengan berdiam diri, mengabaikan email dari Mark yang mengirimkan setengah tugas mereka. Berkali-kali memeriksa ponselnya, mencari tahu apakah Sejun mengirmkan pesan atau tidak.

Paling tidak, sekadar kalimat 'Happy First Anniversary, Bin' sudah dapat mengembalikan senyumnya.

"Hahhh, sial," umpat Subin pelan. Sejunnya ini benar-benar lupa atau bagaimana, sih?

Byungchan akhirnya berhenti menariknya di depan sebuah mobil hitam. Kalau dilihat-lihat, menurut Subin itu mobil Chan.

"Masuk cepet," suruh Byungchan.

Subin bergeming, alih-alih masuk malah menatap sahabatnya bingung, "Mau nyulik gue kemana lo?"

"Ih udah masuk aja anjir, protes mulu siiiih?!"

𝙊𝙝, 𝙎𝙪𝙗𝙞𝙣!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang