Sejun mengacak rambutnya kasar, melemparkan bolpoin yang ia bawa ke meja kerja. Pekerjaannya akhir-akhir ini kacau, sehingga dengan terpaksa ia kerahkan semua ke Seungsik selaku sekretarisnya daripada semua project gagal sebab kelalaian dirinya.
Hari ini tepat satu minggu Subin tidak pulang. Bohong kalau Sejun tidak rindu si manis. Rasanya begitu kosong, tidak ada yang menyapanya saat bangun, tidak ada yang menyiapkan makan dan baju, juga tidak ada yang mengantar dan menyambutnya di pintu rumah ketika ia pulang.
Ah, sial. Sejun sangat merindukan Subinnya.
Pemuda itu sudah mencari Subin kemana-mana, tapi baru kemarin ia tahu bahwa si manis selama ini menghilang ke rumah Hanse. itupun karena ia memaksa Chan memberitahunya. Kalau tidak, mungkin ia sekarang masih kelimpungan mencari Subin.
Seharian kemarin ia berusaha menemui Subin, tetapi Hanse dan Byungchan melarang keras.
Mendadak Sejun merasa malu. Bisa-bisanya ia termakan omongan Hayoung ketika terdapat banyaknya sahabat yang membela Subin mati-matian?
Bodoh, Lim Sejun bodoh.
Sudah seminggu pula, ia tak bosan merutuki dirinya sendiri.
Sejun berdiri dengan gusar, lantas melangkah lebar keluar ruangan. Ia langsung masuk ke ruangan Seungsik yang berada tepat di sebelahnya, "Bang."
Yang lebih tua mengalihkan perhatiannya dari kertas di meja, "Kenapa, Jun? Ada berkas lagi?"
"Ah lupain dulu, ini lebih penting." Sejun duduk di depan Seungsik, "Gue mau ke rumah Hanse, lo yang handle di sini ya."
Seungsik menatap Sejun ragu, "Iya, tapi emang boleh?"
"Makanya itu gue kesini! Bantuin gue, gimana caranya?" tanya Sejun.
"Lo sih." Seungsik menopang dagunya, "Yang nggak ngebolehin tuan rumahnya, lo bisa apa?"
Sejun mendesah kesal, "Emangnya kenapa? Subin segitu nggak maunya ketemu gue? Iya gue tau gue salah, makanya gue harus ngomong sama dia," ucapnya pelan.
Seungsik tampak berpikir sejenak, "Lo udah denger rekaman suara yang gue kasih?"
"Udah." Sejun menggeram kesal, "Makasih, Bang. Gue akhirnya tau Hayoung udah bener-bener kurang ajar sama Subin."
Seungsik mengangguk, "Itu waktu lo abis dipukulin Chan. Makanya Jun, mikir dua kali kalau mau ngelakuin sesuatu. Jangan marah diduluin."
"Iya, iya, maaf."
"Selama ini Subin udah terlalu baik sama Hayoung. padahal jelas-jelas cewek setan kayak gitu harusnya diusir paksa aja," desah Seungsik. Ikut menyesal karena tidak dapat memberikan si manis pengertian sejak awal, kalau Hayoung memang punya niat buruk—yang benar-benar buruk.
Sejun pun diam-diam merasakan sakit. Sama sekali tak terbayang betapa kecewanya Subin ketika bibir sialan Hayoung menempel ke bibirnya tepat ketika Subin melihat.
Seketika itu juga, Sejun mendeklarasikan dirinya sebagai mantan teman, bahkan mantan sahabat Hayoung. Ia benar-benar tidak mau berurusan dengan Hayoung lagi. Sama sekali tidak mau.
"Sejun," panggil Seungsik.
Yang lebih muda mendongak, memandang lekat Seungsik, "Apa?"
Seungsik tampak berpikir sejenak, "Gue tau sih, alasan Byungchan dan Hanse begitu."
"Apanya? Kenapa?"
"Semua tau."
Sejun memicingkan matanya, "Apa yang kalian sembunyiin dari gue?"
"Si Mark temennya Subin aja tau. Jinhyuk sama Wooseok juga udah tau." Seungsik melirik Sejun, "Subin sakit, makanya nggak boleh keluar sama sekali."
🎠✨
Brak
"Hanse!"
Pemuda dengan banyak tattoo keren itu tersentak kaget kala pintu rumahnya dibuka dengan kasar. Diikuti dengan sebuah teriakan—yang lebih mirip bentakan—yang ditujukan padanya.
Tentu, Lim Sejun adah pelakunya.
Ia menggeram kesal, "Bisa-bisanya lo sembunyiin Subin yang sakit dari gue?!"
Hanse meringis, "Bukannya gitu, Bang—"
"Terus apa?"
"Gue yang nyuruh," sahut Seungwoo.
Sejun menatapnya tak suka, "Apa-apaan, sih?"
"Terus kalau udah ketemu mau ngapain? Mau nyakitin Subin lagi lo?"
Sejun menghela napas pelan kemudian mendekati kakak iparnya itu, "Bang Woo, gue tau gue salah. Makanya gue mau ketemu Subin, mau ngomong baik-baik sama dia."
"Tapi dari awal Subin mau ngomong baik-baik lo yang nggak mau dengerin, Lim Sejun," balas Seungwoo penuh penekanan, "Gue kira dengan lo dan Subin yang udah kenal sejak sebelum dijodohin, gue bisa serahin Subin ke lo dengan senang hati."
"Bang."
"Ternyata ini yang lo kasih." Seungwoo maju selangkah, menatap tajam yang lebih muda, "Gue nggak butuh janji manis lo, gue butuhnya cowok yang bisa jaga fisik dan perasaan adek gue secara nyata."
"Iya gue minta maaf!" sela Sejun, "Oke? Gue minta maaf udah lalai, jadi tolong biarin gue ketemu dulu sama Subin, bang."
Seungwoo mendecih, "Gue bisa percaya nggak sama lo?"
"Bang, gue janji—"
"Janji lo tuh basi. Masalah kecil aja dibesar-besarin. Sana pulang, nggak usah nemuin Subin lagi, bajingan."
🎠✨
mampus
KAMU SEDANG MEMBACA
𝙊𝙝, 𝙎𝙪𝙗𝙞𝙣!
FanfictionPada satu sisi, Sejun diminta untuk segera menikah. Padahal dirinya saja belum lulus kuliah. Sedangkan di sisi lain, Subin tiba-tiba juga harus terlibat perjodohan yang direncanakan diam-diam oleh orang tuanya. Wajar, kan, kalau mereka marah? Lim Se...
