Pada satu sisi, Sejun diminta untuk segera menikah. Padahal dirinya saja belum lulus kuliah. Sedangkan di sisi lain, Subin tiba-tiba juga harus terlibat perjodohan yang direncanakan diam-diam oleh orang tuanya.
Wajar, kan, kalau mereka marah?
Lim Se...
"Suka?" gumam Subin pada dirinya sendiri, "Enggak deh, enggak."
"Tapi ... gue seneng sama perlakuan dia."
"Astaga, Subin, harus fokus kuliah!"
"Tapi masa iya beneran suka Kak Sejun? Anjing, gue bahkan nggak tau mukanya!" Subin mengacak rambutnya kasar, "Halah, fuck! Bodo amat!" tegasnya final sembari menjatuhkan kepalanya ke meja belajar.
Sejak tadi, pemuda manis itu meracau sendiri. Sibuk memikirkan perasaannya yang tiba-tiba timbul pada Sejun. Padahal, keduanya tidak pernah bertemu, hanya sekadar saling mendengar suara satu sama lain setiap malam. Mereka bahkan tidak pernah menunjukkan foto satu sama lain, tetapi saling merasa nyaman ketika diajak berbicara.
Subin bingung. Haruskah ia mengakui perasaannya terhadap dirinya sendiri ... terlebih dahulu?
Sebenarnya, Subin menyadari bahwa tidak ada gunanya ia menolak perasaannya sendiri kalau setiap hari pemuda manis itu justru memikirkan Sejun. Subin tidak bodoh untuk menyadari apa itu cinta, seperti yang dirasakannya saat ini. Subin hanya ... takut ia melewati batas.
"Subin," panggil Seungwoo. Pria itu baru saja melenggang masuk ke kamar Subin tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Ia pasti sudah paham, bagaimanapun juga Subin tak akan membukakan pintunya kalau ia repot-repot mengetuk.
"Apa?" tanya Subin sewot. Maklum, perasaannya tengah ribut.
"Nanti lo harus turun ya buat ketemu—"
Belum sempat Subin membalas, Seungwoo sudah melanjutkan, "—Sama calon suami lo."
Kedua netra Subin membelalak sempurna. Mulutnya melangah, hampir tidak dapat mempercayai apa yang kakaknya katakan barusan. Subin dijodohkan ... dengan seorang lelaki?!
Pemuda manis itu mendongak dengan mata yang membulat saking terkejutnya, "Maksud lo?!"
"Nanti keluarga calon suami lo mau kesini, lo harus siap-siap," jelas Seungwoo.
"Gue tau, anjing. Maksudnya, gue dinikahin sama laki-laki?!"
Dengan ragu Seungwoo mengangguk patah-patah.
"Excuse me, Bang Seungwoo? Dan lo ngebiarin adik lo sendiri dinikahin sama cowok yang nggak dikenal?" sergah Subin tak percaya.
Seungwoo hanya menggaruk tengkuknya canggung, "Well, I know you didn't interested to girl. Am I right?" cicit Seungwoo, dengan perasaan tak enak menatap Subin yang masih menampakkan wajah terkejutnya.
"And as you know, people always choose their own choices and make their own decisions! Kalau gue dinikahin sama yang seumuran Papa, gimana?!" bentaknya.
"Astaga, Bin. Papa nggak mungkin begitu," balas Seungwoo, "Lo tenang aja, ya? Yang penting ketemu dulu."
"Semua itu mungkin, bisa aja Papa makin dendam sama gue, terus iya-iya aja waktu temennya mau nikahin gue?!"
"Gue tau orangnya, Bin. Dia masih kuliah."
"Emang lo pernah ketemu?!"
Seungwoo menggeleng pelan, lantas bangkit seraya mengusak surai adiknya, "Papa sayang sama lo, Bin. Siap-siap, ya, jam empat mereka dateng," ucap Seungwoo lembut. Ia lalu keluar dari kamar Subin, meninggalkan adiknya yang terpaku di atas kursi.
"Please, gue masih nggak nyangka I got into this fucking situation," gumam Subin resah. Matanya menatap kosong ke arah depan, memikirkan nasib dirinya kedepannya. Haruskah ia menolak mentah-mentah perjodohan ini di depan keluarga calon suaminya?
Subin segera mengambil ponsel, membuka kolom pesan dengan Sejun dan mengirimi kakak tingkatnya itu pesan bertubi-tubi. Beberapa kali juga ia menelepon Sejun, tetapi sama sekali tak ada jawaban.
"Lo selalu hilang kalau gue lagi butuh. Kenapa sih, Kak?"
✨🎠
Rumah Subin mendadak terdengar ramai. Pasti keluarga calonnya sudah datang. Namun, alih-alih keluar, pemuda itu justru semakin merapatkan selimut. Ia enggan keluar walaupun sudah berpakaian rapi; kaus putih yang dipadukan dengan cardigan putih bergaris oranye, serta celana denim.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Subin masih ingin fokus kuliah, masih ingin menggapai cita-citanya. Ia tahu, ini hanya sebatas pertemuan. Tapi mereka—para orang tua—pasti sudah memikirkan nasib hubungan ini jauh hingga ke jenjang pernikahan, kan? Lantas, apa Subin masih punya hak untuk menolak?
Memikirkan ia akan berumah tangga dalam waktu dekat ini saja Subin tak sanggup. Bahkan, hidup sendiri dengan baik saja Subin sudah pasti tak sanggup. Apalagi hidup berdua dan harus mengurusi keperluan orang asing?
"Subin? Ayo keluar."
Itu suara Seungwoo, seperti biasa, dari luar pintu.
Subin tak menjawab, akhirnya Seungwoo langsung membuka pintu kamar sang adik dan menemukan gumpalan selimut di atas kasur. Pria itu menggeleng pelan, heran dengan kelakuan adiknya. Ia kemudian menarik selimut yang membungkus tubuh mungil Subin, "Ayo, semangat, Subin. Ini cuma ketemuan, masih ngobrol biasa aja kok."
Yang lebih muda hanya menggumam tak jelas, "Yaa."
"Jung Subin."
Subin akhirnya beranjak duduk setelah menyibakkan selimutnya ke samping, "Iyaa Bang Seungwoo, iya. Lo duluan aja."
"Lima menit. Lo harus udah di bawah."
✨🎠
otw ketemu nih hshshsh
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.