set - 03

800 153 14
                                        

"Subin, makan dulu, yuk?"

Si pemilik nama mengacuhkan mamanya di balik pintu. Sudah berkali-kali ia diminta untuk makan, baik oleh mama dan papanya, maupun Seungwoo. Ketiganya sejak tadi sibuk membujuk Subin yang mendekam dalam kamar untuk keluar. Tetapi tentu saja tidak ada yang berhasil.

Subin memang mengurung diri di kamarnya. Namun, jika semua orang mengira ia menangis sesenggukan sehari penuh tanpa makan, maka asumsi itu adalah salah besar. Karena sejujurnya pemuda itu justru menghabiskan waktu dengan mengerjakan tugas dan memakan belasan jajan yang ia simpan dengan baik di dalam lemari.

Subin hanya tak habis pikir. Orang tua macam apa yang masih menjodohkan anaknya dengan orang asing di zaman sekarang ini? Sialan. Ia benci papanya, teramat sangat benci.

Subin bahkan baru saja masuk kuliah. Ia masih semester dua, belum sempat menggapai mimpinya untuk menjadi dosen. Tetapi dengan gilanya ia sudah disuruh menikah? Yang benar saja!

Dering telepon Subin tiba-tiba saja memenuhi ruangan. Si pemilik ponsel lantas terlonjak dari kursinya dan segera meraih ponsel yang berbunyi di atas kasur.

"KAK!" seru Subin, bahkan sebelum si penelepon sempat menyapa.

Pemuda di seberang sana terkekeh, "Kangen sama gue apa gimana deh lo? Cepet banget angkat teleponnya."

"Lo magadir banget, anjing! Gue lagi butuh, lo malah hilang!" bentaknya. Ia mengernyitkan dahi karena terlampau kesal dengan keadaan

"Eh, santai dong, tenang. Ada apa? Maaf lah Bin, gue seminggu kemarin ada urusan," balas Sejun.

"Bacot banget, bangsat."

"Hei, mulutnya ya. Kasar banget, sih?"

"Peduli amat. Lo juga lebih parah, toxic," cibir Subin.

"Iya maaf, kan kebiasaan."

Subin akhirnya menarik napas panjang, lalu membuangnya secara perlahan guna menenangkan dirinya sendiri. Ia kemudian bertanya pada lawan bicaranya, "Ngapain telepon?"

"Emang nggak boleh?"

"Cuma buat tempat curhat doang? Iya?! Giliran gue butuh, chat gue nggak ada yang dibales!"

Hening.

Sejun tak menjawab sampai lima detik kemudian. Entah apa yang ia pikirkan, Subin tak peduli. Ia hanya kesal, Sejun justru menghilang ketika dirinya sedang dilanda masalah. Tidak ada salahnya kan, kalau ia meluapkan emosinya pada pemuda ini?

"Subin, lo kenapa?" tanya Sejun lembut.

Kini giliran Subin yang terdiam. Ia menggigit bibir bawahnya keras, bingung harus bercerita bagaimana kepada Sejun, karena sejak awal dirinya hanya menjadi pendengar yang baik ketika lawan bicaranya ini menceritakan banyak hal.

"Lo tau lo bisa percaya gue, kan?" Suara Sejun kembali terdengar, berusaha meyakinkan yang lebih muda.

Subin mengangguk—meski Sejun tak akan melihatnya, "Gue dijodohin."

Sialan, kenapa pula Subin gugup padahal hanya perlu mengucapkan kalimat pendek itu? Subin merutuki dirinya sendiri, entah mengapa, mungkin karena suasanya hatinya buruk sejak kemarin.

"Hah?"

Pemuda manis dengan balutan baby doll putih itu menghela napas pelan, "Kenapa sih, Kak? Lo yang disuruh nikah, gue yang dijodohin!"

"Tenang dulu dong, Bin. Sekarang gini, lo cerita dulu yang jelas. Gue nggak paham maksud lo, lo dijodohin gitu?"

"Iya anjing, kolot banget sih!" sewot Subin.

"Subin, hey. Calm down, jangan marah begini. Lo nggak akan bisa mikir, Bin. Tenangin diri lo dulu, ya?"

Ini dia.

Suara berat nan lembut Sejun yang selalu menasihati ketika puluhan kata kasar keluar dari mulutnya selalu menjadi favorit Subin. Sejun begitu lembut ketika mengucapkannya. Pemuda itu sukses buat Subin merasa tenang dan nyaman meskipun pada realitanya, mereka tak pernah benar-benar saling mengenal secara langsung.

"Kak," panggil Subin pelan.

"Cerita pelan-pelan. Maaf baru bisa ngehubungin lo sekarang."

"Gue tau, dari awal gue selalu bikin Papa kecewa karna di SMA gue memang nakal banget. Gue tau gue nggak bisa dibanggain, Kak. Gue tau, meskipun Papa nggak pernah bilang, tapi beliau lebih sayang sama Abang gue ketimbang gue sendiri."

"Mhmm, terus?"

Subin menyunggingkan senyum getir, "Tapi gue nggak pernah menyangka bahwa cara Papa ngusir gue adalah dengan jual anaknya sendiri."

"Hah?!"

"Gue dijodohin, demi perusahaan." Subin meremas ujung bajunya, "Kak, gue harus apa? Gue nggak mau nikah."

Sejun menghela napasnya pelan, "Bin, lo pasti belum dengerin penjelasan papa lo."

"Tapi—"

"Ngomong baik-baik dulu, Subin. Gue selalu doain lo dari sini, Bin."

"Gue nggak mau," lirih Subin.

"Gue tau, ini berat. Tapi semua masalah nggak akan selesai kalau lo hanya marah-marah. Lo juga harus bisa komunikasi sama papa lo supaya masalah ini nggak jadi beban buat diri lo sendiri. Maaf gue baru dateng buat dengerin lo. Asal lo tau, gue selalu berdoa yang terbaik buat kita, lo udah gue anggep adik sendiri, Bin."

"Oke." Pemuda itu akhirnya menyerah. Ucapan Sejun memang ada benarnya, jadi ia hanya bisa mengiyakan yang lebih tua, "Ya udah, iya. Gue tidur dulu, ya."

"Tenangin diri lo, Bin. Good night, ya."

"Hm, night too, Kak."

Setelah panggilan keduanya terputus, Subin mengulas senyum kecil. Ia sedikit lega setelah berhasil berbagi beban pikiran dan masalahnya pada Sejun. Perhatian Sejun selalu sukses menenangkan hatinya.

Subin menyukainya.

Mungkin, ia hanya masih denial akan perasaannya sendiri.

✨🎠

𝙊𝙝, 𝙎𝙪𝙗𝙞𝙣!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang