Subin baru saja keluar dari kamar ketika mendapati Sejun tengah duduk manis di sofa dengan laptop di pangkuannya. Pemuda manis itu merangsek maju, memeluk leher Sejun yang tengah duduk di sofa dari belakang.
Si dominan tersentak, tetapi sedetik setelah itu tangannya terulur ke belakang guna mengusak surai Subin "Kenapa, Sayangku?"
Subin cemberut, "Masih lama?" tanyanya.
"Sini sini duduk sama Kakak." Sejun menarik lembut tangan Subin, membawa pemuda itu untuk duduk di sampingnya. Tangan kekar Sejun merangkul pinggang si manis, "Kenapa emangnya?"
"Ya nggak apa-apa, udah malem. Kakak juga harus istirahat, masa kerja mulu," sungut Subin.
Sejun terkekeh, "Iya, Sayang, udah nih udah." Ia menurut, segera menutup laptop dan meletakkan benda elektronik itu diatas meja. Setelahnya, Sejun menaruh atensi sepenuhnya ke Subin, "You want something, don't you?"
Si manis yang merasa ketahuan lantas menyengir lucu, ia memeluk Sejunnya dari samping seraya mengerucut, "Aku pengen es krim mochi."
Dominannya refleks mengernyit heran, "Hah? Suddenly? At midnight?"
"Kenapa?" Subin melenguh pelan, "Ya udah deh, aku ke sevel sendiri aja," ucapnya. Subin kemudian berdiri, hendak menjauh dari Sejun, tetapi suaminya itu segera menarik tangannya panik, "Nggak gitu loh maksudnya."
"Nggak apa-apa ish, aku tau Kakak capek."
"Nggak nggak, nggak gitu. Kakak juga nggak bakal biarin kamu keluar sendiri lah sayang, malem gini." Sejun memutar tubuh Subin sebelum menangkup pipi gembil si manis, "I'm just thinking of something."
"Apa?" tanya Subin.
"Kayaknya kamu akhir-akhir ini sering pengen ini-itu deh." Sejun menipiskan bibir, "Tiba-tiba aja gitu."
Subin mendengkus, "Ya emang nggak boleh?"
"Ya boleh."
Setelahnya hening.
Sejun masih membiarkan tangannya berada di pipi Subin, sementara sang submissive juga hanya diam menatap Sejun lugu. Gemas sekali.
"Jangan-jangan kamu hamil?" celetuk Sejun.
Si manis langsung mendelik mendengar ucapan tak masuk akal suaminya, "IH! AKU COWOK, KAK!" teriaknya sembari menjauhkan diri dari Sejun. Pemuda itu memutuskan untuk kabur dan masuk ke kamar, membuat Sejun menepuk jidatnya dan menyusul ke kamar.
"Sialan Kak Sejun! Otaknya udah nggak bener gue rasa," umpat Subin. Berusaha sembunyikan pipinya memanas.
Pemuda itu memukul kepalanya berkali-kali, "Anjir sadar anjir, kenapa gue malu gini."
"Sayang."
Subin tersentak, lalu buru-buru meloncat ke kasur dan masuk ke dalam selimut. Terdengar suara kekehan Sejun, setelahnya suara pintu kamar mereka yang tertutup.
"Bin, Kakak cuma bercanda," ucap Sejun sembari naik ke kasur dan memeluk buntalan selimut yang berisi manusia menggemaskan di dalamnya.
"Hmm."
"Iya bercanda, Sayang. Nggak bermaksud beneran. Maaf, ya?"
"Iya iyaa." si manis menyembulkan kepalanya, lantas tersenyum tipis memandang sang dominan di sampingnya, "Ngomong-ngomong tentang itu—"
"Bin," sela Sejun dengan panik, "Kakak nggak bermaksud. Jangan dipikirin."
Padahal, awalnya Subin juga tidak seserius itu. Tapi karena Sejun, ia jadi terpikir soal anak. Mungkinkah Sejun menginginkan anak dalam waktu dekat?
"Kalau dihindari terus ya nggak selesai-selesai, Kak," kekeh Subin, "Aku cuma mau tanya."
Sejun mendesah pelan, memilih untuk mengalah, "Okay then, go on."
"Kak Sejun nggak nyesel kan nikah sama aku?"
Rahang Sejun mengeras, "Lim Subin. Kakak harus berapa kali bilang ke kamu?"
"Aku nggak bisa kasih Kakak keturunan!"
"Emang kamu pikir kakak peduli tentang itu?!" Sejun mengusap kasar mukanya, "Kakak nggak kamu kepikiran ini tiba-tiba karna kakak tadi bercanda atau karna Hayoung. Tapi please, please jangan pernah mikir gitu lagi."
"Tapi kak—"
Sebelum melanjutkan perbincangan penting ini, Sejun memutuskan untuk duduk. Begitu juga dengan Subin yang ia tarik agar duduk berhadapan dengannya.
Pemuda yang kini berstatus kepala keluarga itu meraih kedua tangan Subin, menggenggamnya erat, "Subin, kamu dengerin Kakak, ya."
Si manis mengangguk pelan.
"Kakak cinta sama kamu apa adanya," ucap Sejun tegas, "Nggak peduli sama omongan orang lain, cuma Subin yang Sejun cinta. Tolong jangan pernah mikir Kakak terpaksa nikah sama kamu, nggak. Nggak pernah Kakak nyesel udah jadiin kamu temen hidup kakak, Bin."
Ia menarik napas panjang, "Soal anak, bukannya Kakak menggampangkan. Tapi sekarang ada banyak cara, kan? Kalau kamu siap kita bisa langsung ke panti asuhan buat adopsi anak."
Subin cemberut, menatap suaminya yang tampak sangat serius, "Makasih Kak, aku sayang banget sama Kakak," cicitnya.
Helaan napas lega akhirnya keluar dari belah bibir Sejun. Ia tertawa kecil, lantas menarik si manis ke pelukannya, "Iya, Kakak juga sayang kamu."
🎠✨
Subin menutup seluruh buku di atas mejanya setelah menghela napas lega. Tugas-tugasnya baru saja ia selesaikan, terhitung hampir lima jam pemuda manis itu duduk di meja belajar.
Baru saja ia meregangkan otot-otot tubuhnya ketika sebuah tepukan di bahunya mengalihkan atensi pemuda itu. Ia menoleh, lantas mendapati Sejun yang tengah tersenyum padanya.
Cengiran cerah langsung merekah di wajah manis Subin, "Hai, Kak!"
"Hai, Sayang. Udah selesai tugasnya?"
"Udah, cari makan yuk?"
Raut muka Sejun langsung berubah, "Wah Kakak nggak bisa," ucapnya seraya melihat jam tangannya, "Kakak harus keluar. Nanti kakak pesenin aja, ya? kamu di rumah."
"Yahh," keluh Subin, "Kakak lagi sibuk banget ya?"
Si dominan menatap Subin dengan penuh rasa bersalah, "Maaf, ya? Nanti kalau udah luang Kakak pasti sering di apart kok."
"Ya udah deh, nggak apa-apa." Subin berdiri, lalu mencuri satu kecupan di pipi Sejun, "Semangat kerjanya, hehe!"
Sejun tersenyum gemas, "Makasih, sweetheart."
Subin merona, walaupun dalam hati ia tetap kecewa. Ia kira setelah tugas sialan ini selesai Sejun bisa menemaninya makan, tetapi ternyata tidak. Sejun semakin lama semakin sibuk, Subin jadi takut dia melupakan hari penting mereka nantinya.
"Bin?"
Si manis tersentak dari lamunannya, "Eh, ya?"
"I'm leaving, okay?" pamit Sejun seraya tersenyum manis.
"Ya, hati-hati, Kak! I'll miss you, hehe."
🎠✨
segarkan otak yang panas karna ujian dengan sebin
btw coba cek profil, i have new book and ofc sebin lagi, thx sweetie ᕙ(@°▽°@)ᕗ
KAMU SEDANG MEMBACA
𝙊𝙝, 𝙎𝙪𝙗𝙞𝙣!
FanfictionPada satu sisi, Sejun diminta untuk segera menikah. Padahal dirinya saja belum lulus kuliah. Sedangkan di sisi lain, Subin tiba-tiba juga harus terlibat perjodohan yang direncanakan diam-diam oleh orang tuanya. Wajar, kan, kalau mereka marah? Lim Se...
