"subin."
si manis tersentak, lantas mengangkat kepala yang tadinya bertumpu di meja makan, "eh kak rowoon."
rowoon tersenyum, "gue duduk ya."
subin mengangguk, "butuh sesuatu kak?"
"enggak, mau ngobrol sebentar. bosen liatnya sejun zuho mulu."
"namanya juga sahabat sih," kekehnya, "gue juga bosen liatnya hanse byungchan mulu."
pemuda dengan tinggi menjulang itu tertawa, "bisa aja lo. eh omong-omong gimana kabar, bin?"
"hm? baik kok."
"sering berantem sama sejun?"
subin terdiam sejenak, "kepo deh, kenapa coba?"
"tanya aja, gue mau ngomongin sesuatu soalnya."
entah mengapa perasaan subin mulai tak enak. rowoon masih tersenyum padanya, "sejun nggak pernah marah kan?"
akhirnya subin menjawab, "enggak kok, paling cuma ribut kecil karna sesuatu, bukan hal besar. ada apa sih kak? jadi kepo nih gue," kekehnya.
"lo tau kan, hayoung itu mantannya sejun?"
"tau kok."
"bagus deh kalau dia jujur, bukannya apa sih bin, cuma gue kesel aja sejun tuh kadang masih nanggepin hayoung dan sok nggak peka kalau tu cewe masih suka dia."
"hah?"
"gue nggak ada maksud apa-apa, sumpah, cuma gue mau bilang lo harus hati-hati sama hayoung. dia masih ngedeketin sejun dengan dalih mereka sahabat lama."
subin masih diam, menunggu rowoon melanjutkan bicaranya. yang lebih tua kemudian tersenyum, "tapi percaya deh, sejun sayang lo lebih dari apapun. gue bisa lihat gimana tulusnya tatapan dia ke lo. cuma gue mau lo perhatiin aja sejun sama hayoung, hayoung tuh ngeselin," bisik rowoon di akhir kalimatnya.
"mungkin nggak sih?" subin menunduk, memainkan jari-jarinya sendiri, "kak sejun masih suka hayoung?"
rowoon mendesah pelan, "bin, lo harus percaya sama gue, seratus persen sejun udah move on dari hayoung. tadi aja, sejun mau nolak kita kesini soalnya udah malem, tapi hayoung maksa."
"sejun berusaha ngajak ke tempat lain asal nggak kesini, soalnya dia tau dia udah punya lo, tapi hayoung kekeuh banget. gila, gue juga nggak paham sama dia, walaupun seandainya emang lo cuma pacar kan harusnya dia ngerti sejun udah nggak bisa seenaknya ngajak cewek ke rumah," jelasnya panjang lebar.
si manis menggigit bibir bawahnya, "terus gue harus gimana?"
"suatu saat kalau hayoung macem-macem jangan ragu bilang ke sejun ya? lo berhak atas sejun lebih dari siapapun sekarang, apalagi kalau cuma mantannya."
"iya kak." subin mengangguk, lantas tersenyum manis, "makasih ya."
"gue dan yang lain pasti ada di pihak lo, kok. tenang aja ya?"
"makasih ya kak, beruntung banget kak sejun punya temen-temen baik."
"mana ada, sejun yang beruntung punya istri sebaik lo. kalau beloman nikah gue rebut lo kali," canda rowoon.
"dih? emangnya gue mau sama lo?"
"lah, jahat."
subin lagi-lagi tertawa, "bercanda, mau gue kenalin ke temen gue nggak?"
"gak ah, mau kerja dulu gue." rowoon menumpukan tangannya di meja. kemudian mengernyit ketika mendapati sepiring pancake yang terabaikan sejak tadi.
"buat sejun?" tanyanya.
"hm?" subin menoleh, lantas menyadari kalau yang lebih tua tengah menatapi pancake buatannya, "oh iya, tadi pagi orangnya ngambek soalnya, haha."
rowoon menatap subin tak enak, "duh, bin. maaf ya? harusnya gue tadi narik hayoung pulang."
"udahlah nggak usah dipikirin kak, nggak masalah kok. udah nggak enak juga palingan."
"ROWOON LO NGAPAIN AJA BUJANG LAMA AMAT?!"
kedua anak adam di meja makan itu saling tatap sebelum terkekeh kecil. subin menggeleng pelan, "sana, dicariin kak sejun."
rowoon berdiri, "gue balik ya bin, thanks udah diizinin main plus ngobrol, inget yang gue bilang."
"iya kak, hati-hati."
subin menatap kepergian rowoon dengan senyum tipis. matanya lantas beralih ke sepiring pancake yang ia yakini sudah tak enak itu.
akhirnya subin bangkit, membuang pancake buatannya ke tempat sampah sebelum masuk ke kamar untuk tidur.
🎠✨

KAMU SEDANG MEMBACA
𝙊𝙝, 𝙎𝙪𝙗𝙞𝙣!
Fanfiction[✓] 𝙩𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙚𝙟𝙪𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙞𝙢𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙞𝙠𝙖𝙝 𝙗𝙖𝙝𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙗𝙚𝙡𝙪𝙢 𝙙𝙞𝙧𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙡𝙪𝙡𝙪𝙨 𝙠𝙪𝙡𝙞𝙖𝙝, 𝙙𝙖𝙣 𝙨𝙪𝙗𝙞𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙞𝙗𝙖-𝙩𝙞𝙗𝙖 𝙙𝙞𝙟𝙤𝙙𝙤𝙝𝙠𝙖𝙣. ㅡ all chapter is subin's side, ㅡ lowercase, ㅡ...