eighteen - 18

616 115 24
                                        

Subin menengok ke arah pintu masuk berkali-kali sembari menyesap milkshake choco miliknya di meja. Siang ini ia sudah memiliki janji dengan Chan di kafe dekat apartemennya.

Tenang saja, kali ini ia sudah izin dengan Sejun, kok.

Namun, sekarang Subin masih menggerutu kesal. Chan tidak kunjung datang, padahal seharusnya waktu janjian mereka adalah setengah jam yang lalu. Entah sudah berapa kali pemuda manis itu menghela napas sejak tadi, menunggu Chan yang tak kunjung datang.

Cih, Subin kira Chan dengan wajah seriusnya itu selalu menepati janji.

Pemuda dengan baret di kepala itu akhirnya dapat merasa lega ketika mendapati sosok yang ia tunggu muncul di depan pintu kafe. Chan segera mendekat begitu pandangan mereka bertemu.

"Sorry, gue ketiduran."

Subin tersenyum simpul, "Setengah jam ya, Kak."

Yang lebih tua menghela napas berat, "Iya, maaf kali. Gue semalem begadang. Ada apa sih? Gue nggak mau digebukin suami lo gara-gara salah paham, ya."

"Enggak, gue udah izin sama Kak Sejun. Lo pesen dulu nggak?"

Chan menggeleng, "Cepet."

Subin mengangguk paham. Ia lantas berterus terang kepada Chan perihal keinginannya, "Kak Sejun kan mau wisuda, bagusnya gue kasih apa ya?"

Mendengar pertanyaan itu, mata Chan membelalak lebar, "Lo ngajak gue ketemu dari kemarin cuma mau nanya itu?!"

Subin mengedipkan matanya, "Iya ... salah, kah?"

Chan mendengkus kasar, "Gila ya, lo? Nggak penting banget anjir, lo bisa tanya dia langsung, kan?"

"Ya kan surprise! Masa mau nanya orangnya langsung?" sungut Subin, "Lagian cuma nanya doang, emosi banget sih. Awas cepet tua!"

"Paan sih anjing," desis Chan, "Gue sibuk, lo ngajak ketemu gini doang tuh nggak make sense, ya. Sejun mah kasih aja sepatu kek, baju atau celana terserah lo."

Subin merengut, "Ya lo kan sahabatnya, wajar dong gue nanya. Lo juga tau kan gue sama Kak Sejun kenalnya belum se-lama itu, pantes lah gue bingung. Nanti gue kasih ini-itu kalau nggak cocok juga percuma," omelnya. Ia meneguk minumannya sebelum kembali menatap Chan, "Bantuin, please."

Yang lebih tua mendecak kesal. Namun, akhirnya tetap mengangguk setuju, "Ya udah. Sejun tuh intinya nggak suka warna mencolok, nggak ribet, simpel."

Si manis mengangguk-angguk paham, "Temenin gue beli, yuk," ajaknya.

Setelah tampak menimang-nimang ajakan Subin, Chan menyetujui ajakan adik tingkatnya itu. Berbekal dirinya yang bersahabat dengan Sejun lama, kedua mahasiswa itu langsung menuju ke mall yang dipilih Subin dengan menggunakan motor Chan.

Begitu sampai, mereka berdua dengan segera berkeliling di tempat yang lumayan ramai itu. Subin beberapa kali memasuki toko-toko yang menurutnya menarik, tetapi keluar dengan tangan kosong. Setelah berputar-putar kurang lebih setengah jam, Subin mendapat satu barang yang cocok untuk Sejun; jam tangan.

"Kak," panggil Subin. Ia memelankan langkahnya ketika Chan mulai menaruh perhatian padanya.

"Hm?"

"Gue kan udah beli jam tangan, kira-kira kalau beli kemeja terus dimasukin gift box gitu gimana?"

"Lo udah beli jam tangan aja cukup kali. Nggak capek?"

Subin memutar bola matanya malas, "Protes mulu ih kek perawan."

"Anjing?"

"Bercanda." Subin meninju pelan lengan Chan, "Seriuss, gue kan maunya spesial gitu walaupun cuma sekotak."

𝙊𝙝, 𝙎𝙪𝙗𝙞𝙣!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang