fourteen - 14

670 127 14
                                        

Hampir tiga bulan mengenal Sejun dan satu setengah bulan menikah, Subin jadi lebih mengenal dan juga mengetahui sifat-sifat terdalam Sejun, termasuk segala kebiasaannya ketika di rumah. Dan dari semua kebiasaan itu, ada satu hal yang Subin tidak suka,

Sejun selalu bermain ponsel ketika makan.

Se-la-lu! Itu sungguh menyebalkan!

Mulut Subin sampai berbusa memberitahu Sejun, tetapi yang diberitahu hanya sekadar mengiyakan lalu besoknya kembali diulang. Seperti yang terjadi sekarang. Padahal Subin sedang mengajak si dominan mengobrol—

"Ternyata tugas aku emang banyak banget, kirain waktu Mark bilang banyak banget cuma hiperbola."

—namun, ucapannya tak digubris karena Sejun terlalu fokus pada benda persegi panjang di tangan kirinya.

"Hah? Kenapa, Bin?"

Subin menghela napas kasar dan segera berdiri dari duduknya seraya membawa piring kotor. Setelah itu, ia langsung masuk ke kamar tanpa mengindahkan panggilan dari Sejun.

Bibirnya mengerucut kesal, "Apaan banget udah dibilangin nggak boleh main HP sambil makan masiiiih aja," sungut Subin sambil menghempaskan diri ke kasur. Ia mengambil guling dan memeluknya erat. Tetapi belum sampai satu menit sejak ia memejamkan mata, Subin teringat akan kewajibannya sebagai mahasiswa, "Oh iya sih, tugas gue bejibun."

Pemuda manis itu lagi-lagi menghela napasnya kasar, lalu dengan enggan berpindah ke meja belajarnya untuk menyelesaikan tugas.

Seberapa menit kemudian Subin mendengar suara pintu kamarnya terbuka. Tanpa menoleh pun ia tahu siapa pelakunya. Siapa lagi kalau bukan sang suami?

Si manis merasakan kepalanya dielus lembut sebelum sebuah suara menyapanya, "Marah, ya?"

"Nggak," balas Subin sekenanya.

"Tapi kesel?" Sejun memutar kursi belajar Subin, lantas berjongkok di depan pemuda yang berstatus pasangan hidupnya itu, "Udah hafal Kakak, mah."

Subin berdecak, "Apaan, sih? Aku mau nugas," tukasnya, hendak memutar kembali kursi yang ia duduki namun langsung ditahan oleh Sejun.

"Jangan ngambek dong manis, nanti cepet tua."

Yang dibujuk malah memelotot pada Sejun, "Kakak doain aku cepet tua, ya?!"

Sejun tertawa sambil meraih dua tangan Subin dan menggenggamnya, "Enggak lah, ya kali! Makanya sayangku jangan marah lagi, ya? Janji deh kakak nggak ngulangin lagi, serius kali ini."

Subin berdecih, "Cih, besok juga balik lagi. Udahlah kak, aku ini banyak tugas. Ada yang deadline besok sedangkan sekarang udah jam 10. Mending kakak tidur sana," oceh Subin lantas menarik tangannya sendiri dari Sejun.

Sejun hanya menghela napas pelan atas penolakan Subin, lalu akhirnya membiarkan si manis sibuk dengan tugasnya. Sementara dirinya duduk bersandar di kasur sambil memainkan ponsel.

Setengah jam setelahnya, Subin meregangkan badan karena merasa pegal. Ia sempat melirik Sejun yang sepertinya terlelap dengan memeluk sebuah bantal sebelum kembali fokus pada tugas di atas meja.

"Yang ngasih tugas siapa sih, anjing?" sungut Subin, "Perasaan nggak selesai-selesai dah, baru juga masuk kuliah udah berasa jadi babu aja gue, fuck," kesal Subin.

Sedetik setelahnya, suara dehaman dari belakang mengejutkan pemuda itu. Ia lantas meringis ketika menyadari sesuatu; Lim Sejunnya belum tidur, tapi mulutnya sudah terlanjur mengumpat.

✨🎠

hiyaaaaaa

btw,

dicari:— kewarasanku,— akhlak subin

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

dicari:
kewarasanku,
— akhlak subin.

tolong mas fotonya munduran dikit soalnya gantengnya kelewatan bgt gada akhlaknya ajg inginku menangis 。:゚(;'∩';)゚:。

heheh by the way lagi, jangan lupa vomment sayang ꒰⑅ᵕ༚ᵕ꒱˖♡

𝙊𝙝, 𝙎𝙪𝙗𝙞𝙣!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang