einundvierzig - 41

429 78 33
                                        

serius, buat chap ini sampe kedepannya, jangan kecewa ya kalo ga sesuai harapan, ga nge-feel, aneh, dll. sorry guys, i tried my best :(

× ×

"Kak Sejun?"

"Hm?"

Subin mengusap muka bantalnya, lalu membelalak saat sadar bahwa Sejun sudah siap dengan jas kantornya.

"Loh?! Kok nggak bangunin aku sih?!" panik Subin. Ia segera bangkit dan berlari ke kamar mandi.

Tapi sebelum itu ia lebih dulu ditahan oleh Sejun, "Kenapa emang?"

"Kenapa?!" ulang Subin, "Aku belum siapin sarapan, belum siapin baju sama tas kakak, belum siap-siap ke kampus, belu—"

Cup

"Kak Sejuuuuuun!" rengek Subin kesal, "Nggak usah cium-cium dong, aku belum selesai ngomong!"

"Habis banyak banget belumnya," balas Sejun sekenanya, "Kakak udah siap, masalah makan gampang. Kamu tuh tadi pules banget, mana tega kakak bangunin."

"Alesan aja Kakak mah," sungut Subin, "Ya udahlah aku mandi dulu. Tunggu, lima menit." Subin bergegas mengambil pakaian baru dan handuknya, lalu masuk ke kamar mandi.

Sejun hanya tersenyum geli, kemudian memilih untuk duduk di kasur sembari menunggu Subin. Selang lima menit setelahnya, Subin keluar. Sejun takjub, si manis ini benar-benar tepat waktu.

Subin sudah rapi dengan kaus putih dan celana hitam. Tak lupa ia memasang headband hitam polos sebagai pelengkap—serta beberapa earring yang menghiasi telinganya.

 Tak lupa ia memasang headband hitam polos sebagai pelengkap—serta beberapa earring yang menghiasi telinganya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Yang lebih tua mengernyit, "Kamu mau kuliah apa mau nongkrong?"

Subin yang masih memakai lip balm melirik Sejun sinis dari cermin, "Berisik! Terserah aku dong!"

Sang suami terbahak, kemudian berjalan maju dan memeluk Subin dari belakang, "Harum banget sayangnya Sejun."

"Iyalah, habis mandi. Sana ah aku mau ambil tas dulu."

Sejun mendecak pelan lalu setelahnya terkekeh, "Ya udah ambil. Ayo kakak anter."

Si manis mengangguk setuju.

Singkatnya, setelah itu mereka berangkat naik mobil Sejun. Si mobil, si manis sibuk dengan ponselnya sementara Sejun fokus menyetir.

Lima belas menit berlalu, Subin mendadak heran. Biasanya perjalanan ke kampus hanya memakan kurang lebih sepuluh menit atau lebih sedikit, tapi ini sudah lewat terlalu lama. Padahal, jalanan juga tidak sedang macet.

Ia mendongak, mengalihkan perhatiannya dari ponsel. Kemudian sepasang netra gelap itu memeriksa seluruh sisi jalan. Depan, kanan, kiri, belakang, depan lagi.

𝙊𝙝, 𝙎𝙪𝙗𝙞𝙣!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang