dul - 02

848 159 13
                                        

Subin mulai khawatir.

Sudah hampir satu minggu sejak Sejun terakhir kali meneleponnya. Bahkan pemuda itu tidak membalas pesan dari Subin sama sekali semenjak malam itu. Bukannya ingin berpikiran negatif, tetapi Subin justru takut sesuatu yang buruk terjadi padanya—atau mungkin keluarganya.

Melihat bagaimana Sejun selalu memberi kabar padanya meski tengah dihantam kesibukan, Subin mau tidak mau dibuat khawatir akan keadaan pemuda itu. Biasanya, meskipun hanya sekadar mengirim lelucon atau sapaan ringan, Sejun tetap akan selalu mengabari Subin.

Tapi ... tunggu dulu, mengapa Subin se-khawatir ini?

Pemuda manis itu menggelengkan kepalanya pelan, "Nggak boleh, jangan, Bin. Kak Sejun cuma temen cerita lo setiap malem, jangan naksir sama dia," gumamnya pada diri sendiri.

Ia kembali menatap jendela kamarnya yang dihiasi dream catcher, "Tapi gue beneran takut Kak Sejun kenapa-napa deh." Subin menghela napas berat, "Lo kemana sih, Kak?"

"Astaga, gue kenapa sih?!" racau Subin seraya mengacak rambutnya dengan kasar. Kenapa pula ia terus memikirkan Sejun tanpa henti?

Pemuda itu bangkit dari kursi belajarnya—yang langsung menghadap jendela lebar—dan merebahkan diri di kasur. Tak lupa ia memeluk gulingnya sendiri supaya dapat tidur lebih nyenyak.

Subin menipiskan bibirnya sembari mengeratkan pelukannya pada guling, "Masa iya gue udah suka sama cowok dalam waktu sesingkat ini? Lagi?"

Mata Subin kemudian membola, seolah-olah terkejut dengan ucapannya sendiri, "Nggak! Ah, nggak boleh pokoknya, titik!"

Racauan Subin berhenti kala terdengar ketukan pintu sebanyak tiga kali dari luar. Pemuda manis itu mengerjap, "Siapa?!" pekiknya tanpa merubah posisi.

"Ini Abang!"

"Oh, Bang Woo. Masuk aja elah, ngapain ketuk pintu segala?" cibirnya.

Seungwoo, sang kakak, langsung membuka pintu dan duduk di pinggir kasur. Ia menatap adiknya yang kini menelungkupkan wajah pada bantal dengan posisi tengkurap. Gulingnya sudah menggelinding ke pinggir kasur sementara sang empu masih sibuk dengan benaknya yang begitu berisik.

"Ngapain lo?" tanya Subin, suaranya teredam oleh bantal.

"Lo mau dijodohin," jawab Seungwoo singkat. Pria itu bahkan sama sekali tak berpikir dua kali sebelum memberikan informasi mengejutkan ini kepada sang adik.

Subin sontak bangkit dengan tidak wajarnya, "APA?!"

"Jung Subin, dijodohkan oleh mama dan papa."

"Apa-apaan anjir, Bang?! Udah tahun berapa masih main jodoh-jodohan?!" seru Subin. Matanya berkilat marah dan menuntut penjelasan lebih lanjut dari sang kakak.

Seungwoo menghela napas panjang, "I'm so sorry, tapi ini juga demi kelangsungan perusahaan Papa dan masa depan lo, Bin."

Subin melongo tak percaya mendengar penuturan kakaknya, "Oh, jadi gue dijual?" tanyanya skeptis. Ia sungguh pening setelah mendengar kabar gila yang kakaknya bawakan, "Masa depan? Emang lo tau masa depan gue bakal gimana kalau gue nikah di usia semuda ini?!"

"Nggak gitu, Bin. Astaga. Gue jelasin, ya?" tutur Seungwoo, "Papa mau bantuin rekannya, dengan imbalan saham dan bantuan untuk perusahaan. Lo harus ngerti, kondisi perusahaan Papa lagi nggak baik-baik aja. Nanti bayar kuliah lo pakai uang siapa?"

"Terus kenapa nggak lo aja?!" sanggah Subin.

Ia tak habis pikir, hanya demi perusahaan, papanya rela menjual Subin ke orang yang bahkan Subin tidak kenal? Gila. Subin benar-benar kecewa dengan keluarganya. Seungwoo bahkan tampak tak terusik dan tak berniat membelanya. Dasar kakak tidak berguna.

Seungwoo meraih tangan adiknya, "Gue udah punya Byungchan, kami udah nabung buat nikah. Nggak bisa gitu aja mutusin pertunangan. Lo kan masih sendiri, nggak apa-apa, ya?"

"Harus banget dengan nikah? Gue jadi merasa dibuang." Subin tertawa sarkas, "Kalian semua udah muak kah lihat gue di rumah?"

"Jangan bilang gitu, Mama sama Papa sayang sama lo."

"Kalau sayang nggak bakal jual anaknya, Bang."

"Tapi—"

"Terus kenapa bilangnya harus lewat lo? Nggak berani ketemu gue?" sela Subin, "Pengecut."

"Subin! Jangan enggak sopan sama orang tua!" sentak Seungwoo, "Mama cuma takut ngehancurin perasaan lo, Subin. Lo tolong ngerti, dong."

"Emang kalau lo ada di posisi gue, lo bisa ngerti?!" Subin berusaha mengatur napasnya sebelum kembali berbicara, "Mendingan langsung bilang kalau nggak mau gue ada di rumah ini! Gue tau gue nggak diharapkan, gue nggak bisa dibanggain, tapi nggak dengan nikah juga kan, Bang?! Gue—"

"JUNG SUBIN!"

Yang lebih muda terdiam ketika suara bentakan sang kakak menyapa indra pendengarannya. Seungwoo menatapnya tajam, "Kami semua sayang sama lo, Subin," ujarnya penuh penekanan, "Jangan bicara aneh-aneh. Lo adik gue, Bin. Gue bangga punya adik kayak lo. Oke?"

Pemuda manis itu menutup matanya seraya mendesah pelan, berusaha menahan emosi yang membuncah. Ia kemudian tersenyum simpul, "Tapi Papa enggak, Bang."

Seungwoo diam, tidak tahu harus menjelaskan bagaimana lagi kepada adiknya. Namun, belum sempat ia membalas ucapan Subin, sang adik lebih dulu buka suara, "Keluar, Bang. Gue butuh waktu sendiri."

✨🎠

𝙊𝙝, 𝙎𝙪𝙗𝙞𝙣!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang