Sejun menyesal.
Sungguh.
Bunyi dentuman keras antara kepala Sejun dengan meja bar terdengar begitu nyaring setelahnya. Mata pemuda itu merah—entah sebab tangisan yang tak kunjung berhenti, atau efek alkohol.
"Bang, udah. Nanti lo mabuk nggak bisa pulang."
Sejun memutar bola matanya malas, "Satu lagi. Gue masih kuat."
"Xiao, biarin gue yang ngurus. Ini anak kalau dibiarin nggak bakal selesai."
Bartender muda yang tadinya hendak melayani Sejun mengangguk, "Xiao tinggal ya, Bang."
"Iya."
"Xiao! Heh, gue mau—" Sebelum Sejun berhasil memanggil Xiao kembali, mulutnya dibekap. Sejun yang masih seratus persen sadar langsung menarik mukanya, lantas menoleh untuk melihat si pelaku.
"Ganggu aja lo Chanjing," umpat Sejun.
"Lo ngapain sih? Capek gue jemputin tiap malem."
"Ya nggak usah dijemput, lo kira gue bocah?" sungut Sejun.
Chan langsung memicing tajam, "Mau masuk penjara lo karna nyetir sambil mabuk?"
"Bacot," desis sang lawan bicara. Pemuda itu kembali mengangkat kepalanya, "Udah deh jangan berisik."
"Mau sampai kapan begini? Samperin lagi lah, beliin obat kek, makan kek. Tunjukin dong kalau lo nyesel, bukan malah minum-minum nggak jelas, anjeng," omel Chan. Pemuda itu menarik Sejun yang hanya diam untuk keluar.
Masuk ke mobil, Chan langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata menuju ke apartemen Sejun. Beberapa menit pertama, keadaan dalam mobil itu begitu hening, tak ada yang membuka suara terlebih dahulu untuk memulai percakapan. Baik Sejun dan Chan sama-sama larut dalam pikirannya masing-masing.
Sampai akhirnya, Sejun lah yang lebih dulu memecah keheningan, "Gue capek."
Chan mendengkus kesal, "Gue juga capek gobloooook jemputin lo terus tiap malem."
Teringat akan mobilnya yang ditinggal, Sejun langsung membelalak, "Kunci mobil gue ketinggalan, anjeng."
"Biarin, gue doain ilang kayak otak lo."
"Diem nggak lo?"
"Gue anterin lo ke rumah Hanse, jadi lo yang diem!"
Sejun membelalak lebar, "JANGAN DONG, BLOG?!"
Chan menarik napas panjang, "Jun." Ia melirik Sejun, "Lo mau gue tinggalin di jalan?"
"Badan gue bau, Chan, lo nggak ngertiin banget, sih?"
"Salah lo pakai minum."
"Gue mau nenangin pikiran, Chan." Sejun mengusap mukanya kasar, "Gue butuh pelampiasan. Gue kangen banget sama Subin."
Sejun serius. Ia benar-benar merindukan Subinnya.
Hidupnya mendadak terasa tak berarti setelah Subin memutuskan untuk pergi. Entah sampai kapan, tapi Sejun berjanji pada dirinya sendiri ia akan membawa Subinnya kembali.
Kembali mewarnai hidupnya, kembali memberi perhatian yang ia butuhkan. Sejun ingin Subin kembali bersamanya, menghabiskan waktu setiap hari berdua, melanjutkan hubungan mereka bersama anak mereka nanti.
Sejun sangat ingin.
🎠✨
Sejun baru saja keluar dari apartemennya ketika tangannya tiba-tiba ditarik dari belakang. Pemuda berlesung itu tersentak, lalu berdecak kesal setelah melihat orang yang menariknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝙊𝙝, 𝙎𝙪𝙗𝙞𝙣!
FanfictionPada satu sisi, Sejun diminta untuk segera menikah. Padahal dirinya saja belum lulus kuliah. Sedangkan di sisi lain, Subin tiba-tiba juga harus terlibat perjodohan yang direncanakan diam-diam oleh orang tuanya. Wajar, kan, kalau mereka marah? Lim Se...
