38. It's gonna be alright

10.8K 812 243
                                        

Waktu seringkali terasa begitu cepat berlalu. Tak terasa, akhir semester gasal sekolah telah tiba. Murid kelas XII akan menghadapi Try Out terakhir di semester ini lalu dilanjutkan UAS sebelum menghabiskan libur akhir semester gasal.


Tak hanya murid kelas XII saja yang mencemaskan nilai mereka, para orang tua pun juga demikian. Senja dan Jingga adalah salah satunya.

"Kamu sudah bilang ke Kayla sama Kenzo?" Tanya Senja pada Jingga yang duduk di sampingnya dan sedang menonton Youtube di ponselnya.

Malam ini keduanya berada di kamar. Esok adalah hari pengumuman hasil Try Out terakhir dan Senja teringat rencana Jingga terkait masa depan si kembar.

"Bilang apa?"

"Katanya kamu mau Kenzo ke Jepang aja trus Kayla di Univnya si Kezia," ujar Senja meningatkan.

"Oh, nanti aja setelah libur semesteran"

"Yakin?

Jingga mengangguk.

"Yaudah kalo gitu aku mau cek anak-anak udah tidur atau belum"

Senja keluar dari kamar untuk mengecek apakah anak-anaknya sudah tidur dengan mendatangi kamar mereka satu per satu. Senja mulai dari kamar si Bungsu. Ia mengetuk pintu kamar Kenta lalu membukanya perlahan. Ia dapati Kenta yang sudah tertidur lelap.

Selanjutnya, ia mendatangi kamar Kayla dan juga mendapati si Sulung yang sudah tertidur. Terakhir, ia mendatangi kamar Kenzo. Berbeda dengan pintu kamar Kayla dan Kenta yang sudah tertutup, pintu kamar Kenzo justru sedikir terbuka. Daripada mengetuk, Senja memilih untuk mengintip saja dari sana dan ia mendapati Kenzo belum tidur.

Kenzo terlihat duduk di kursi belajar. Pandangannya lurus ke depan lalu tiba-tiba ia menundukkan kepalanya dan tangannya bergerak mengusap wajahnya. Itu membuat Senja curiga terjadi sesuatu yang tidak ia ketahui tentang Kenzo. Ia memutuskan untuk perlah masuk ke dalam kamar Kenzo.

"Abang kenapa belum tidur?" Tanya Senja dengan suara lembutnya, tak ingin terlalu mengejutkan Kenzo.

Kenzo menggeleng cepat sambil memungggungi Senja.

Senja tahu ada yang Kenzo sembunyikan darinya. Ia menarik tangan Kenzo perlahan, membawanya duduk bersama di pinggir ranjang. Walau begitu, Kenzo masih saja menundukkan kepalanya.

"Abang, lihat Mama"

Kenzo masih menundukkan kepalanya. Senja menghela nafas kemudian mengusap pelan pipi Kenzo hingga akhirnya Kenzo memberanikan diri untuk menatap Senja.

Senja tampak terkejut melihat wajah Kenzo seperti baru saja menangis dan mata Kenzo terlihat sedikit memerah. "Abang... habis nangis?"

Kenzo mengangguk pelan.

Senja mengusap pelan kepala Kenzo. "Kenapa Abang nangis? Cerita aja sama Mama"

Kenzo menurunkan pandangannya. Tangannya mulai sedikit bergetar. Ia tampak ragu dan takut untuk bercerita ke Senja. Respon Kenzo membuat Senja merasa khawatir. Ia genggam tangan Kenzo erat. "Yasudah kalau Abang gamau cerita sekarang ga--"

"Abang takut" Kenzo akhirnya membuka suara.

"Takut kenapa?"

"Hasil Try Out yang kemarin, Abang dapat peringkat dua dan Kayla ada di nomor satu. Peringkat tertinggi yang Abang dapetin setelah biasanya diantara lima sampai sepuluh. Itu terlalu tinggi dan Abang takut, Ma"

Untuk pertama kalinya Senja mendengarkan ketakutan yang Kenzo alami karena tertekan dengan nilai yang ia dapatkan.

"Apa yang bikin Abang takut? Semakin tinggi peringkatnya berarti semakin banyak soal yang bisa Abang jawab. Itu artinya peningkatan yang bagus kan?"

You Better With MeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang