"Loh beneran belum ada yang dateng? Gue kira lo bercanda, Cil" ujar Feby saat memasuki kamar Cilla. Ia tadinya tak percaya belum ada satupun teman sekelompoknya yang datang.
Sore ini, Feby dan Cilla -yang kebetulan satu kelompok- akan melakukan kerja kelompok di rumah Cilla. Feby yang mengira dirinya terlambat rupanya justru menjadi orang pertama yang datang.
"Pada ijin telat semua dan alasannya masuk akal semua," ujar Cilla.
"Oh yaudah kita mulai dulu aja gimana?"
"Oke"
Feby segera duduk di lantai lalu meletakkan laptopnya diatas meja bundar. Cilla juga melakukan hal yang sama. Tanpa babibu, keduanya langsung membuka aplikasi browser dan mencari berbagai artikel sebagai referensi untuk tugas mereka.
Setengah jam berlalu, masih belum ada tanda-tanda teman sekelompok mereka lainnya akan datang. Feby membuka ponselnya, barangkali ada pesan daribtemannya memberi kabar. Namun yang ia dapatkan justru pesan dari Kananta. Membaca nama Kananta saja sudah mampu membuat bibir Feby melengkung.
"Nanta?" Tanya Cilla membuat Feby terkejut.
"Hah? Enggak lah" Feby menggeleng cepat lalu meletakkan ponselnya dan kembali menatap layar laptopnya.
Cilla terdiam sambil mengamati gerak-gerik Feby. Ia tahu Feby berbohong. Ia lalu menutup laptopnya dan juga laptop Feby.
"Loh? Kenapa?" Tanya Feby kebingungan.
Cilla menghela nafas. "Mumpung yang lain belum dateng dan mumpung kita cuma berdua, gue rasa ini saatnya kita bicara, Feb"
Feby mengerutkan dahinya. Ia tak mengerti mengapa tiba-tiba situasi terasa begitu serius diantara dirinya dan Cilla. "Mau bicara tentang apa?"
"Nanta"
Feby terdiam sesaat mendengar nama Kananta keluar dari mulut Cilla. Kini isi kepalanya dipenuhi dengan pertanyaan mungkinkah Cilla tahu apa saja yang terjadi diantara dirinya dan Kananta. Atau mungkin Cilla membicarakan sesuatu tentang Kananta yang tak diketahui Feby.
"Gue rasa sebaiknya lo mengakhiri apapun yang udah lo lakuin sama Nanta," ujar Cilla.
Ucapan Cilla membawa Feby teringat berbagai hal yang tlah ia lakukan bersama Kananta belakangan ini. "Gue... nggak ngelakuin apa-apa kok sama Nanta," ucap Feby mengelak.
"Lo sadar kan kalo lo cuma dijadiin pelampiasannya Nanta?"
Feby mendengus kesal. Ia sadar betul tapi mendengar kalimat seperti itu langsung dari Cilla membuatnya emosi. "Lo juga harusnya sadar diri lah. Dulu lo juga berawal dari pelampiasannya Kenzo karena gue tolak kan?"
Cilla menatap Feby dengan penuh amarah karena menyinggung hubungannya dengan Kenzo. "Itu lain cerita. Gaperlu bawa masa lalu deh"
"Kasusnya sama kok. Gabisa move on dan nyoba jatuh hati sama orang lain"
"Kasusnya sama bukan berarti ending-nya juga bakal sama kan?"
Feby menghela nafas. "Kalo lo bisa, kenapa gue nggak bisa?"
"Lo mau ngorbanin persahabatan lo dan Kayla demi Nanta?" Cilla kini kembali membuat Feby terdiam dengan menyebutkan nama Kayla.
"J-jangan sebut nama dia," kata Feby dengan suara kecil.
"Dulu Kenzo jadiin gue pelampiasan karena dia mau nunjukin ke lo kalo dia nggak masalah lo tolak, masih bisa dapet cewek lain. Nggak sampai sebulan sejak kita jadian, dia jujur dan minta maaf ke gue karena merasa bersalah.
Tentu gue marah lalu dia bilang kalo dia mulai ada rasa sama gue. Dia berusaha untuk menebus kesalahannya dan mau buktiin kalo dia layak sama gue. Gue bisa ngerasain ada ketulusan di tiap kata yang dia ucapin.
KAMU SEDANG MEMBACA
You Better With Me
Romance[Budayakan membaca deskripsi & tags] -GxG Story- (Setelah JuS) Setiap dari kita memiliki bahasa cinta masing-masing yang berbeda. Dari bahasa cinta itulah kita belajar bagaimana dicintai dan mencintai termasuk berusaha membuktikan siapa yang lebih l...
