"Dia hanya becanda, seharusnya aku tertawa.
Bukan malah jatuh cinta."
_
__
Setelah kejadian tak mengenakan dikantin beberapa waktu lalu, Aqila jadi lebih menghindar ketika tak sengaja berpapasan dengan Rafli, di koridor kalo lagi lewat, dilapangan, di parkiran, atau dikantin, bahkan ketika ia bersama sahabatnya hendak makan di kantin tapi pas sampe sana dia liat Rafli juga ada disana, ia memilih pamit dengan alasan ingin ke toilet, untungnya Ajeng paham akan itu.
Dan kali ini, Aqila kembali berpapasan dengan orang yang paling ia hindari itu di mini market dekat rumahnya, mau keluar juga rasanya ... awalnya ia berniat ke bagian cemilan snack kesukaan adiknya, tapi ia malah dikejutkan dengan sosok laki laki berhoodie hitam itu, ia kembali berkeliling terlebih dahulu untuk mencari pesanan mamanya.
Beberapa menit kemudian, setelah dirasa cukup, tak ada ketinggalan, ia berjalan ke arah kasir. Menghela nafas, ketika area pembayaran itu antri.
Ia berdiri di bagian paling belakang, urutannya memang gak berjajar tapi cukup teratur karna tau giliran.
Sedang Rafli menyibukan dengan ponselnya sambil menunggu giliran mengabari teman-temannya yang menunggu. Setelah selesai bertukar pesan, ia memasukan kembali ponselnya, melihat lihat sekitar kali aja ada yang kelupaan. Tapi, saat melihat kebelakang ke orang orang yang lagi antri juga, matanya malah terpaku pada sosok perempuan berjilbab coklat yang tengah melihat-lihat belanjaan yang dipegangnya.
Ia kemudian memilih kembali menghadap kedepan, mendengus kesal. Dalam hati bertanya-tanya, mengapa akhir-akhir ini rasa-rasanya ia emang lebih sering berpapasan dengan perempuan itu? Semenjak kejadian dikantin itu, Fadlan dan Zidan memang menyuruhnya untuk meminta maaf tapi egonya menolak mentah mentah. Meski seculi rasa tak enak ada dalam hatinya.
□□
"Yah hujan." Gumam Aqila saat telah keluar dari minimarket, mau minta jemput adiknya tapi gak bawa hp, karna lagi di charger.
Ia melihat kursi yang tersedia, tapi sudah penuh semua, oleh remaja seumurannya, dan paruh baya.
Ada si kursi kosong dan satu, tapi didepannya Rafli. Tak perlu mikir dua kali, ia lebih memilih berdiri, melihat kejalanan dari pada duduk disana.
Sedang Rafli sendiri sebenernya, gak masalah kalo pun Aqila harus duduk dikursi didepannya, tapi mungkin perempuan itu ngerasa gak enak.
Masa iya dirinya harus mempersilahkan dulu, gimana caranya juga "woy duduk sini." Gitu? Kok kesannya ngajak gelud si, ia menggeleng. Atau "qil duduk." Dih apalagi kaya gitu, kalo kata temannya si sksd banget. Ia mendengus, ngapain juga memusingkan hal gak penting itu.
"Neng duduk atuh itu kursi depan masnya masih kosong, nanti pegel." Tapi, ibu-ibu yang ada disana, melihat ke arah Aqila mungkin kasian kali nanti takut kepegelan, menyarankan untuk duduk di kursi depan Rafli.
"Eh?- enggak bu gak papa."
"Nanti pegel, mau disini atuh, biar anak saya dipangkuan saya aja." Si ibu menyarankan, membuat aqila semakin tak enak. "Eh enggak bu, gak usah."
"Ih kok gitu si neng, atau gak enak sama masnya ya?" Lalu si ibu beralih menatap Rafli. "A', gak papa kan itu si teteh itu duduk disana, kasian."
Si ibu ini kayaknya orang sunda, dari logatnya bandung.
"Oh enggak papa kok bu." Rafli tau-tau memberi tanggapan tak seperti dugaan Aqila.
"Tuh neng gak papa katanya."
Akhirnya dengan berat hati Aqila duduk dikursi itu, memilih melihat ke arah jalanan, dengan belanjaan ditaro di bawah.
Suasananya cukup canggung, Aqila terlihat tak berniat membuka suara atau sekedar basa basi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Line Of Destiny [On Going]
General FictionAqila hanya seorang mahasiswa semester lima, yang menjalani kehidupan perkuliahannya tanpa keluhan, hidupnya monoton, teman-teman menyebutnya mahasiswa kupu-kupu. Pergi kuliah dan pulang tidak mengikuti satupun organisasi di kampusnya, sesekali ber...
![Line Of Destiny [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/249267760-64-k650693.jpg)