Part. 37

460 17 0
                                        


Happy reading 💫

********

Tok tok tok

"Iya masuk,"

Aqila berhenti dari kegiatannya membenarkan jilbab, ia melirik ke arah pintu dimana adik bungsunya muncul. Ia memberi tatapan seakan bertanya 'ada apa?'

"Kata bunda motornya udah ada,"

"Siapa yang nganterin?"

Zihni hanya mengidikan bahu, "Liat aja sendiri," Katanya sambil melenggang kembali keluar.

Dihh
Fyuhh sabar

Aqila lantas kebawah untuk mengkonfirmasi laporan adiknya barusan. Benar saja, motornya sudah terparkir dengan baik di halaman rumah.

"Kuncinya di nakas deket TV kak." Ucap Ayahnya yang tengah menyiram tanaman.

"Iya yah. Tadi yang ngantrin siapa?"

"Temen mu. Itu yang cowok siapa tu namanya. Ayah juga pernah liat kayanya pernah kesini."

Aqila mengangguk, "Rafli yah."

*****

"Heii,"

Senyum Aqila sedikit kikuk ketika menyapa sahabatnya --Ajeng. Ajeng sendiri nampak melihatnya heran. "Ngapain disini? Ayo masuk,"

"Duluan aja."

Ajeng melihat sekeliling mereka. Keadaan parkiran saat itu cukup ramai dengan orang-orang yang baru berdatangan. "Nungguin siapa si?"

Aqila hanya menggeleng sebagai jawaban. Ajeng nampak masih heran. Tatapannya lantas jatuh pada paper bag yang di tentengnya, ia menunjuk dengan dagu, "Itu ..?"

"Oh iya.. ini buat di kasih. Ini lagi nungguin orangnya," Ajeng seperti hendak menuntut jawaban lebih jelas, tapi Aqila buru-buru menyela. "Udah kamu duluan aja."

"Yaudah kalo gitu, duluan ya," Aqila mengangguk mempersilahkan.

Ia mengedarkan pandangan, melihat-lihat orang yang baru berdatangan. Mencari seseorang yang sudah mengantarkan motornya, ia berniat mengucapkan terimakasih kasih dan sedikit bingkisan yang ia buat sebagai tandanya. Tindakan kali ini sebenarnya cukup impulsif --menurutnya, tapi toh niatnya memang sepenuhnya hanya untuk berterimakasih, tidak lebih. Tapi jika memang niatnya benar-benar hanya seperti itu, lantas mengapa ia begitu  grogi ketika akan berhadapan dengan cowok itu, kenapa tadi ketika terpikir untuk membuatkan makanan yang akan di berinya ini ia begitu bersemangat? Bahkan sepanjang menyiapkan tadi bibirnya tak berhenti tertarik ke atas sampai di tegur oleh Ibunya. Aqila berdecak, ketika malah terpikir sikapnya kali ini --sedikit berlebihan.

Ketika matanya akhirnya menemukan sosok yang dicarinya --Rafli, ia langsung saja melambaikan tangan ke atas ketika Rafli juga tak sengaja melihatnya.

Aqila menurunkan tangannya kembali, tubuhnya sedikit merosot ketika dilihatnya Rafli malah kembali mengobrol dengan teman-temannya. Ah rupanya cowok itu masih mengabaikannya. Ia menunduk melihat paper bag yang di tentengnya. Menghela nafas ia memilih langsung ke kelasnya menyusul Ajeng yang mungkin menunggunya.

Tapi di pertengahan jalan tiba-tiba seseorang memanggilnya dari belakang.

"Tadi lo manggil gue?" Ucap Rafl, nafasnya sedikit tak beraturan seperti habis berlari ketika menyusulnya.

Aqila beralih melihat sekitarnya, Rafli sudah sendiri, teman-temannya sudah berjalan berbeda arah menjauh dari posisi mereka saat itu.

Aqila tersenyum kaku, "Iya.. " Ia menyerahkan paper bag yang di bawanya. "Ini.. sedikit makanan ehem sebagai ucapan terimakasih. Ngomong-ngomong makasih ya udah dianterin juga motornya."

Rafli menerimanya sedikit ragu, "Sebenarnya gak perlu repot-repot gini juga si, tapi thanks ya."

Semalam Aqila sebenarnya sudah mengucapkan terimakasih lewat WhatsApp, sekaligus menanyakan biaya memperbaiki motornya tapi Rafli berkata sudah di bereskan dan tak perlu di ganti juga. Jadi yasudah Aqila inisiatif memberi hal lain untuk ucapan terimakasihnya.

Senyum Aqila kali ini lebih tulus, ia mengangguk sebagai jawaban. "Yaudah aku duluan,"

Rafli mengangguk dan balas memberi senyuman, senyum yang sudah lama sekali Aqila tak melihatnya, Karna itu sepersekian detik Aqila sempat terdiam ketika melihatnya.

*****

Bibirnya sedikit tertarik ke atas, kemudian terkekeh kecil melihat hidangan yang tersaji di dalamnya.

Siap jadi istri yang baik huh? Gumamnya yang entah pada siapa

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Siap jadi istri yang baik huh? Gumamnya yang entah pada siapa. Ia seperti merasa jadi seorang yang di bekali oleh orang tercintanya di rumah --Ibu maksudnya.

Ia mengambil ponselnya memotret hidangannya.
___________
Rafli

Send your pict

Terimakasih ya, lucu amat ni boleh makan gak si
___________

Aqila
Kembali kasih,
Hhehee boleh dongg semoga suka ya🙆
___________

Rafli
Enak enakk boleh ni jadi
_____

Aqila
Jadi apa tu?
____

Rafli
Jadi kokii

Koki pribadi

HEHEHEE
_____

Aqila
Waduh
______

Rafli menutup ponselnya ketika suasana kelas mulai berdatangan. Ia melanjutkan menyantap makanannya. Tapi ketenangannya terusik dengan kehadiran Zidan dan Fadlan.

"Wiih makan gak bagi-bagi ni," Zidan menyeret kursi di samping mendekat hendak ikut mencicipi, begitu juga Fadlan.

"Tumben bawa bekel?" Tanya Fadlan heran. Walaupun ia tau tantenya --Ibu Rafli, Ibu yang cukup perhatian tapi ia ragu ketika Rafli mau dibekali seperti ini.

Rafli mengidikan bahu, "Pengen aja," Untung hiasan hiasan yang ada di atas nasinya tadi sudah ia singkirkan jadi tak terlihat mencurigakan.

"Boleh juga ni, tar gue bilang mama lu deh buat bikin 2."

"Dih minta aja sama nyokap lu sendiri,"

"Hadeuhh nyokap gua dah ribet duluan ngurusin adek gue."

Fadlan memang memiliki dua adik yang masih sekolah di bangku SD dan SMA. Fadlan sendiri anak pertama dari tiga bersaudara itu. Sedangkan Rafli, anak tunggal. Jadi tak heran jika mendapat perhatian penuh dari kedua orangtuanya.

"Tapi bener dah ini tumben bawa bekel," Zidan rupanya masih penasaran.

"Udah bilang mau sarapan di kampus, jadi nyokap nyiapin bekel buat dimakan disini."

Untung alibinya dipercaya. Ia sebenarnya cukup tak rela kedua sahabatnya ikut menikmati makanannya ini. Harusnya itu di nikmati olehnya seorang, tapi mau gimana lagi kalo ia ngotot tak memberi ijin sahabatnya itu akan curiga.

******
6juli2024

Line Of Destiny [On Going]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang