(Pertolongan)
.
.
.
Rafli duduk di atas motornya seraya bermain ponsel, untuk membalas beberapa pesan yang masuk. Saat ini, ia sedang berada di warung pinggir jalan depan kampusnya, ia menunggu temannya yang masih ada kelas.
Ia melihat sekitaran karna bosan, tapi matanya malah terpaku pada perempuan berjilbab hitam yang tengah berjongkok sambil memunguti buku yang berjatuhan di jalan.
Karna memang buku-bukunya cukup banyak, dan mungkin Aqila kerepotan jadi terduduk agak lama sambil membenarkan posisi buku dipegangannya, tak sadar bahwa posisinya masih di jalan meski tak terlalu tengah tapi posisinya masih membahayakan karena keadaan jalan raya cukup ramai.
Rafli reflek menegakkan badannya ketika melihat truk yang melaju cukup kencang. Ia berlari seiring truk itu mendekat ke arah Aqila. Segera merengkuh pundak Aqila membawanya ke tepi jalan.
Sedangkan Aqila, tersentak. jantungnya berdetak tak beraturan. Sampai suara tinggi Rafli menyadarkannya. "Lo gila?! Mau mati lo heh?!" Bentak Rafli tanpa sadar.
Aqila yang masih dalam keadaan shok, mendengar itu malah membuatnya nampak ketakutan. Ia terduduk berjongkok disana, menetralkan degup jantungnya yang berdetak tak karuan.
Rafli menghela napas. "So-sorry, kelepasan." Tak ada jawaban dari Aqila, perempuan itu masih terus berjongkok, dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Dalam posisi itu, Rafli seperti seorang pacar yang tengah menyakiti perempuannya hingga menangis seperti itu.
Rafli menghela napas, ia kemudian mencoba menarik pelan pergelangan tangan Aqila dengan sedikit ragu. "Yuk ke warung itu, buat minum biar tenang." Rafli berujar dengan suara lembut, berharap Aqila mau menuruti.
Dan untungnya Aqila berdiri, menghapus air matanya yang ternyata keluar. Dan berjalan dengan Rafli ke arah warung kecil disana.
"Mbo air mineralnya satu."
Setelah penjual itu memberi pesanannya, ia menyerahkan pada Aqila yang duduk dikursi yang tersedia. Aqila menerimanya tanpa kata, setelah selesai minum barulah ia berucap. "Makasih."
Setelahnya hening. Sampai mata Aqila menatap buku-buku yang berserakan ditempat ia tadi hampir tertabrak. "Buku." Lirihnya yang masih bisa didengar oleh Rafli.
"Ck. Biar gue ambil." Rafli berjalan ke arah dimana buku-buku berceceran dipinggir jalan.
Rafli menyimpan buku-buku itu di tempat duduk yang kosong. "Lo mau jual buku apa gimana? Banyak bener."
Aqila meringis tak enak. "Itu titipan, ehem maaf dan ... makasih."
"Hmm."
Beberapa detik hening. "Ehem gue juga ... minta maaf buat kejadian dikantin waktu itu." Rafli mengalihkan pandangannya ke arah berlawanan, rasanya menggelikan ia mengucap kata itu.
Aqila menangguk. "Gak papa."
□□□
"Qil."
Aqila yang tengah duduk di kursi luar kelasnya sambil memainkan ponsel, menengok pada Ajeng yang baru keluar.
"Hm?"
"Lo udah tugas pak puji belum?"
"Udah tadi sebelum masuk."
"Duh, anter yuk gue baru mau nganterin sekarang." Aqila mengangguk, berdiri dari duduknya.
"Yuk."
"Eh iya, lo tau gak kalo si Rafli itu ternyata sepupunya si Fadlan."
Aqila menengok pada Ajeng ditengah perjalanannya. "Fadlan yang dikantin waktu itu?"
Ajeng mengangguk meng-iya kan. "Pantesan akrab. Gue juga kaget pas awal tau si rafli temenan juga sama modelan kaya si fadlan sama zidan."
Iya, Aqila juga kaget awalnya. Meski ia tak begitu mengenal mengenal Fadlan dan Zidan, tapi ia sempat beberapa kali melihat mereka berdua di masjid kampus ketika waktu shalat.
"Dan lo tau apa? Nyokapnya si rafli itu penampilannya kaya bener bener muslimah, walaupun gak pake cadar si, tapi tetep aja jilbabnya sampe nutupin pantat."
Aqila menaikan alisnya, bingung, takjub, dan heran. Ia memicingkan matanya. "Darimana kamu tau?."
Ditanya seperti itu, Ajeng menunjukan gerak-gerik salah tingkah. Cewek itu berdehem sebelum menjawab, setelahnya cengengesan. "Gue kemarin jalan sama zidan, terus mampir ke cafe dan ternyata kata zidan itu kafenya nyokap si rafli, terus sempet ketemu juga sama nyokapnya dia disana, ditunjuk gitu sama zidan." Jelas Ajeng.
Aqila mengangguk mengerti. "Banyak si yang sekarang, kaya orang tuanya ustadz anaknya preman atau sebaliknya."
Ajeng tertawa pelan. "Bener bener."
Panjang umur, kata itulah yang pantas diucapkan saat itu, ketika baru saja mereka membicarakan orang, orang yang dibicarakan mereka berada dijangkauan beberapa langkah dari mereka.
Mereka baru sampai di ruangan dosen yang dituju, tapi saat sampai sana mereka melihat Rafli keluar dari ruangan itu dengan wajah tak mengenakan. "Anjir baru juga di omongin." Ajeng berbisik dengan suara pelan, Aqila mengatup bibirnya kedalam, mengiyakan dalam hati.
"Eh?" Ajeng so' terkaget. "Pak pujinya ada?" Tanyanya pada Rafli.
"Hm? Oh ada." Jawab Rafli. Saat matanya melihat ke arah Aqila, perempuan itu malah menundukan pandangannya kebawah. Katanya udah saling maaf maafan, gimana si. Rafli berdesis dalam hati.
Ajeng mengangguk. "Yaudah gue kedalem dulu, lo mau ikut kedalem juga?" Tanyanya pada Aqila.
"Enggak deh, aku tunggu disitu aja." Aqila menunjuk tempat duduk disana.
"Oh yaudah kalo gitu."
Aqila mengangguk, berjalan kearah bangku yang ia tunjuk, melihat ke arah Rafli sejenak yang ternyata tengah melihatnya juga, keduanya langsung mengalihkan pandangan kearah lain.
■■■
30jan2021
KAMU SEDANG MEMBACA
Line Of Destiny [On Going]
General FictionAqila hanya seorang mahasiswa semester lima, yang menjalani kehidupan perkuliahannya tanpa keluhan, hidupnya monoton, teman-teman menyebutnya mahasiswa kupu-kupu. Pergi kuliah dan pulang tidak mengikuti satupun organisasi di kampusnya, sesekali ber...
![Line Of Destiny [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/249267760-64-k650693.jpg)