.
.
Aqila menatap buku yang ia pegang dengan bibir tertarik ke atas, pikirannya tenggelam pada dunia fiksi, bahkan ia tak merasa terusik dengan keramaian disekitarnya.
Sampai -
"Gue baru tau kalo orang yang punya gangguan kejiwaan bisa masuk kuliah juga." Suara itu terdengar tepat di telinga kanannya.
Aqila menghela nafas, kalo sudah diganggu langsung seperti ini, mana bisa ia kembali fokus. Saat ia mengangkat kepalanya, tiba-tiba ia sudah di kelilingi oleh para Laki-laki songong, astagaa bahkan ia tak mendengar suara ribut atau langkah kakinya.
Ia beranjak hendak pergi dari sana. Tapi lagi-lagi pemuda dengan tampang songong itu tak membiarkannya pergi begitu aja.
Aqila menghela nafas sebelum berujar. "Please, kali ini biarin aku pergi, aku ada kelas," Ucapnya lembut berusaha sabar.
Baru saja Rafli hendak membuka mulut, tapi Temannya sudah lebih dulu berbicara, "Udahlah biarin dia pergi, kita lagi kumpul ni."
Rafli mendengus, setelahnya ia kembali menatap Aqila dengan tatapan tajam. "Pergi lo!"
"Dari tadi kek." Gumamnya sebelum benar-benar pergi dengan langkah gontai.
"Dari mana aja si lo? Untung pak fuzi belum dateng." Belum sempat Aqila mendudukan bokongnya di kursi kelas, Ajeng sudah mengeluarkan gerutuannya.
"Kantin." Jawabnya sambil mengeluarkan buku dari dalam tasnya.
■■■
Aqila keluar dari mushola di kampusnya, setelah menunaikan Salat Ashar. Tadi, kebetulan kelasnya selesai sebelum Adzan ashar berkumandang, jadi ia memutuskan untuk shalat terlebih dahulu, sedangkan Ajeng, sahabatnya itu kebetulan sedang halangan dan ketika pulang tadi pun terlihat buru-buru entahlah Aqila tak mau banyak bertanya soal urusan sahabatnya.
Ia berjalan kearah parkiran dekat mushola, tapi langkahnya terhenti. Kala ia melihat motornya dikerubuni oleh segerombolan laki-laki, oh, bukan motornya yang dikerubuni lebih tepatnya anak laki-laki sedang mengobrol di tempat motonya terparkir dan-
Oh astaga ...
Motornya juga diduduki oleh salah satu dari mereka. Tapi, yang lebih mengejutkan - gerombolan itu rupanya laki-laki songong and the geng, ia meringis, membayangkan ia nekat kesana dengan kata permisi. Ah tidak tidak! Bahkan ia sudah membayangkan betapa risih nya nanti ketika segerombolan cowok itu menggodanya.
Jadi lebih baik ia memilih opsi putar balik, menunggu gerombolan itu bubar ditempat.
Saat ia sudah duduk, ia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Ibunya perihal dirinya pulang agak telat dengan memberi tahu ada kendala, ia tak menjawab kala Ibunya bertanya kendala apa. Dan untungnya Ibu mengerti dengan tak menuntut jawaban lebih logis, karna orang tuanya juga bukan tipe yang posesif padanya jadi ia memang jarang berbohong untuk masalah apapun.
10 menit
Masih ada
Ia kembali melihat bukunya ditangannya kala tadi melihat ke arah parkiran sejenak.
20 menit
Masih ada
30 menit
Dan tetap masih ada.
Aqila menghela nafas, bukunya ia tutup, percuma ia sudah panik mana bisa fokus.
Ia melirik jam di ponselnya yang sudah menunjukan pukul setengah lima. Melirik ke area mushola juga sudah sepi. Tapi sekumpulan cowok itu masih terlihat asik dengan obrolannya, ia pun memilih menyibukan dengan bermain media sosialnya.
20 menit.
Aqila menghela nafas lega, kala sekumpulan cowok songong itu sudah bubar, walaupun masih ada satu orang yang menduduki motornya, dengan posisi membelakangi, itu tak masalah, ia bisa mengusirnya secara halus.
"Ehem assalamualaikum? Kak?"
Pria yang menduduki motornya sambil bermain ponsel itu mendongak kala Aqila memanggilanya.
Untuk sesaat Aqila melebarkan matanya kala mengetahui pemuda yang menduduki motornya.
"Ck. Lama banget si lo, mana kunci motornya."
Aqila mengerutkan kening, ini maksudnya gimana ya?
Rafli memutar bola matanya, melihat tatapan kebingungan Aqila. "Kuping lo conge apa gimana si, cepetan mana kuncinya."
"Buat apa?"
Pemuda dengan jaket denim itu memalingkan wajahnya kedepan kemudian berujar. "Gue anterin lo balik."
Gue anterin lo balik?
Gue. Anterin. Lo. Balik?
Aqila tak mengeluarkan suara kembali, melainkan, menatap Rafli datar.
Rafli yang tak mendengar sahutan dari Aqila pun menoleh kesamping, melihat gadis disampingnya yang sedang melihatnya tanpa ekspresi, Rafli menghela nafas. "Gue ulangi sekali lagi, siniin.kunci.motor. lo."
Dengan berat hati dan tangan yang tiba-tiba terasa berat, Aqila mengambil kunci motor di saku blizernya.
Selain songong dan semena-semena, sifat lelaki jangkung ini rupanya mempunyai setumpuk gengsi segede badag.
Cuma bilang 'anterin gue balik' aja pake di puter balikan dengan 'gue anterin lo balik'.
"Cepetan naik!" Ujar Rafli setelah memarkirkan motornya.
Aqila menaiki motornya dengan duduk menyamping. —duduk khas perempuan kalo pake rok span.
Sepanjang perjalanan, tak ada percakapan antara keduanya. Lagian, topik apa yang diharapkan dari kedua manusia itu, damai enggak gelut iya.
Sampai di pertengahan jalan, motornya tiba-tiba berjalan lambat.
Makin lambat. "Eh kenapa ni motor?" Tanya Rafli yang tak dapat sahutan sampai akhirnya, Motornya berhenti dengan sendirinya.
"Ah sial! Motor butut kaya gini kenapa masih di pake si?!" Rafli menggerutu setelah mereka turun dari motor.
Terlihat Rafli sedikit merundukan badannya kemudian menendang ban motornya. "Sial! Mana mogok, ban bitu lagi." Rafli beralih menatap Aqila yang ternyata sedang menatapnya dengan tatapan malas, Rafli mendengus. "Lagian motor butut gini masih aja di pake."
Aqila memilih tak menghiraukan manusia songong di sampingnya ini. Ia terlihat mengotak atikan ponselnya untuk menghubungu seseorang.
"Ck. Terus ini gimana?! Lo jangan diem aja dong! Mana bengkel jauh lagi dari sini."
"Ehem sorry, kamu kalo pulang bisa pesen gojek aja."
"Ya gak bisa!"
"Hah?"
Rafli mendengus, memalingkan wajahnya kedepan, kemudian menjawab. "Hp gue mati."
Mati? Seingetnya tadi Rafli bermain game waktu dia menunggunya di parkiran.
"Tuh! kalo lo gak percaya." Rafli menyodorkan ponselnya yang mati ke hadapannya.
Aqila menganggukan kepalanya. "Yaudah, nih pake hp ku aja."
Rafli langsung mengambil ponsel Aqila. "Ck, hp apaan lagi ni, kentang gini." Rafli berucap sambil terus mengotak atik ponselnya. "Motor butut, hp kentang, muka apalagi, hadeuuhh ... "
Aqila tak menghiraukan ucapan penghinaan itu, buang-buang waktu saja ia meladeni mulut kotornya itu.
■■■
Tbc!
KAMU SEDANG MEMBACA
Line Of Destiny [On Going]
General FictionAqila hanya seorang mahasiswa semester lima, yang menjalani kehidupan perkuliahannya tanpa keluhan, hidupnya monoton, teman-teman menyebutnya mahasiswa kupu-kupu. Pergi kuliah dan pulang tidak mengikuti satupun organisasi di kampusnya, sesekali ber...
![Line Of Destiny [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/249267760-64-k650693.jpg)