______
Rafli menggeser geser dua jempolnya diatas layar ponsel raut wajahnya tegang, ketika tim musuh menyerang sedangkan timnya kali ini ternyata tak begitu pro, ia bahkan sesekali memaki timnya. "Serang woy!"
"Lo yang bener anjir itu mata lo dipake, musuh lo ada disamping lo beg* lo." Ia memaki orang yang entah dimana keberadaannya, terdengar balasan untuk menyuruhnya santai dari ponselnya, santai pale lu.
"Heh heh itu di depan lo anj-" Ia mengatupkan bibirnya kedalam, menahan makiannya lantaran emosi. Pegangannya pada ponsel semakin kuat, wajahnya tegang.
"Santai napa si." Aldi, orang yang derada di sebelahnya menyahut. Kesal lantaran akibat makian yang dilontarkan membuat beberapa orang yang berada disekitar mereka menoleh, ia jelas malu karna mungkin saja tindakan Rafli ini sedikit mengganggu mereka.
Rafli nampak seperti menulikan pendengarannya, ia masih asik pada permainan yang dimainkan. Posisinya telah aman setelah tadi hampir saja kalah untung ia tak lengah.
Perempuan berjilbab dengan tote bag tersampir di bahunya terlihat berjalan kearah Rafli. Rafli yang masih sangat fokus pada permainannya jelas tak menyadari ketika perempuan itu sampai di depannya.
"Em maaf, rafli?" Panggil ragu perempuan berjilbab yang tak lain ialah Aqila.
Melihat Rafli yang sepertinya tak ada tanda tanda akan merespon panggilan itu, akhirnya Aldi di sebelahnya memberi tahu. "Raf di panggilin tuh,"
"Hmm." Rafli hanya bergumam tak jelas, fokusnya masih pada layar karna permainannya kembali memanas, membuat Aldi berdecak disebelahnya, ia menendang kaki di bawah meja untuk mengalihkan fokus.
"Ck apasi- eh woy itu awas sebelah lo."
Aldi memutar bola matanya, ia berdiri dari duduknya. "Lo duduk dulu deh, atau gak mau nunggu panggil aja terus." Ucapnya pada Aqila, perempuan itu hanya mengangguk pelan.
"Raf gue kedepan bentar, sekalian bayar." Aldi yang meski tau bakal diabaikan setidaknya ia sudah memberi tahu, dan memang Rafli hanya berdehem sebagai tanggapan tak ada waktu untuk sekedar menengok, timnya terancam.
Baru saja Aqila hendak membuka mulutnya usai kepergian Aldi tapi Rafli lebih dulu berseru. "Heh woy itu belakang lo jangan fokus depan mulu!"
Saat itu Aqila langsung mengatupkan bibirnya kedalam tapi tak lama setelah Rafli selesai dengan makiannya ia pun berujar. "Rafli,"
"Hm,"
Rafli menjawab dengan deheman singkat tapi fokusnya masih pada game.
"Rafli." Suaranya sedikit lebih keras.
"Hmm,"
Rafli masih menjawab dengan gumaman tapi kali ini nadanya sedikit tak santai, karna mungkin saja merasa terganggu, cengkraman diponselnya makin menguat, dahinya pun mengkerut menahan makiannya dalam hati.
"Raf-"
"Ck ah sial! Apaansi-" Rafli menghentikan ucapannya begitu ia mendongak, tatapan juga raut wajahnya yang tadi mengetat lantaran kesal langsung berubah jadi rasa sesal. "Aqila .. "
Aqila hanya memberi senyum kikuk. "Maaf, aku cuma mau nyampein ini titipan dari Zidan," Ia menyimpan paperbag di meja. "Sama disuruh balas chat katanya."
Rafli hanya melirik paperbag itu sekilas, kembali menatap Aqila. "Qil, sorry gue-"
Aqila mengangguk sebelum ucapannya Rafli selesai seakan berkata 'gak papa'. "Aku permisi dulu." Ia lekas menunduk sekilas sebelum pergi menjauh dari sana dengan langkah terburu buru.
KAMU SEDANG MEMBACA
Line Of Destiny [On Going]
General FictionAqila hanya seorang mahasiswa semester lima, yang menjalani kehidupan perkuliahannya tanpa keluhan, hidupnya monoton, teman-teman menyebutnya mahasiswa kupu-kupu. Pergi kuliah dan pulang tidak mengikuti satupun organisasi di kampusnya, sesekali ber...
![Line Of Destiny [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/249267760-64-k650693.jpg)