_______
"Dri ... sebelumnya guee minta maaf, kita .. kayanya gak bisa lanjut." Rafli akhirnya bisa mengutarakan tujuan utamanya pertemuan ini, setelah makanan mereka habis.
Setelah seminggu ini ia bergelut dengan pikirannya sendiri, ia memilih untuk tidak melanjutkan kedekatan mereka ke tahap hubungan, ia merasa tak siap, hatinya seperti tak lagi merasa ketertarikan yang berarti, selama ini ia memang cukup nyaman ketika mereka mengobrol, atau bahkan ketika mendengar berbagai cerita Indri, tapi mungkin hanya sekedar itu, sekedar rasa nyaman untuk teman mengobrol, tapi ia merasa, nyaman saja tak cukup.
Indri pada awalnya nampak keberatan, hendak memprotes tapi tak tau cara mengutarakannya, jadilah ia hanya bertanya dengan suara sedikit tercekat. "Tapi kenapa?"
Rafli hendak menggenggam tangan Indri tapi perempuan itu segera menyembunyikan tangannya dibawah meja, seolah untuk saat ini ia tak butuh sentuhan penenang.
Rafli menggeleng atas pertanyaan itu. "Gue ... gak tau, tapi yang jelas gak ada yang salah sama lo, gue juga cukup nyaman ngobrol sama lo, tapi buat gue nyaman aja belum cukup."
Rafli tak bohong, menurutnya Indri memang termasuk orang yang enak diajar bicara tak hanya membicarakan satu hal, banyak hal-hal menyenangkan yang mereka bicarakan, belum lagi Indri termasuk pribadi yang cukup terbuka dan menyenangkan, saat itu untuk alasan itulah Rafli merasa ketertarikan pada cewek didepannya, ia kira setelah rasa ketertarikan itu ada, rasa-rasa yang lebih mengikat akan lebih mundah timbul.
Belakangan ini, Indri banyak memberikan kode-kode untuk peresmian hubungan mereka, mungkin bosan juga hampir dua bulan dekat tapi belum ada kejelasan. Untuk itu juga Rafli lebih memperhatikan dirinya sendiri, pertanyaan sederhana seperti 'apa lo jatuh cinta sama indri?' Kerap kali muncul di kepala. Setelah ditelaah dan di rasakan lebih dalam lagi sepertinya tidak. Hatinya tidak sampai berbunga-bunga atau berdesir hebat ketika berdekatan dengan Indri. Singkatnya ia tidak merasakan lebih dari sekedar perasaan nyaman pada perempuan didepannya ini.
"Sorry banget, gue gak maksud ... " Rafli sulit menjelaskan, kepalanya sedikit menunduk.
Didepannya Indri menatapnya tak percaya, perasaan sakit, kecewa, dan merasa dipermainkan semuanya menyatu diwaktu bersamaan sampai membuatnya kesulitan menghadapinya seperti apa.
"Oke .."
Akhirnya, setelah dua menit berselang Indri bersuara walaupun sangat singkat.
Entah apa arti 'oke' yang diucapkannya itu, yang Rafli tangkap mungkin seperti ungkapan pasrah, Indri juga mungkin paham bahwa perasaan tak bisa dipaksakan jadi yasudah. Walaupun sebenarnya Rafli merasa tak enak hati, ia memang tak berpikir bahwa Indri akan meledak ledak karna merasa tak terima tapi setidaknya mungkin akan menuntut meminta penjelasan atau alasannya memutuskannya seperti ini-- walaupun hubungan mereka belum resmi.
Rafli lantas memanggil waitress untuk membayar pesanan mereka. Setelah pembayaran selesai, ia kembali beralih melihat Indri. "Lo mau langsung pulang?"
"Hah?- oh engga, aku mau ke rumah temen dulu,"
"Yaudah ayo gue anter."
"Gak usah aku-"
"Dri, please .. "
Rafli memberi tatapan memaksa, tak ada pilihan lagi, Indripun mengangguk.
Sekitar lima belas menit setelahnya, mereka sampai di depan rumah bercat putih, pagarnya masih tertutup.
"Makasih ya," Rafli hanya mengangguk, awalnya ia menunggu Indri masuk kedalam rumah barulah ia akan pergi dari sana tapi sampai beberapa detik berselang Indri masih berdiri di samping motornya.
"Kenapa?" Tanya Rafli seraya membuka kaca helmnya.
"Ee .. aku boleh peluk kakak? Anggep aja sebagai salam perpisahan?" Ia bertanya dengan sedikit keraguan, di genggamlah ponsel yang ada ditangannya erat-erat sebagai lampiasan kegugupannya.
Rafli terkekeh pelan, merasa permintaan Indri bukan suatu hal berat, "Boleh dong, lagian santai aja kali." Setelah melepas helm dikepalanya ia pun turun dari motor.
Mereka berpelukan cukup lama walaupun tak sampai satu menit, ketika ia merasakan tangan Indri sudah tak lagi memeluknya ia pun melepas pelukan. Tapi, tindakan Indri setelahnya membuatnya terkejut bukan main.
Indri menarik kerah bajunya, dan menciumnya. Indri-menciumnya-dibibir-bukan-di jidat- ataupun pipi- mereka-ber-ciuman. Cukup lama.
Indri menjauhkan wajahnya dengan pipi memerah, barulah setelahnya Rafli tersadar dari keterkejutannya. Degub jantungnya berpacu lebih cepat, kejadian barusan tak terbersit sedikitpun dikepalanya, ia melihat sekelilingnya, bagaimanapun mereka tengah berada di tempat umum, takut-takut jika ada warga yang melihat, mereka disangka pasangan mesum tak tau tempat.
"Maaf," Indri berucap pelan kepalanya sedikit menunduk, kedua tangannya saling bertaut dibelakang punggungnya.
"O-oke." Rafli mengangguk kaku, "Kalo gitu gue balik dulu."
Indri mengangguk, "Hati-hati."
□□□□
3maret2022
Udah setaun aja gue nulis cerita ini, ya kurang lebih setaun lah ya, (walaupun belum selesai juga sampe sekarang HA-HA)
Tapi makasih loh ya buat yang masih nunggu dan nyimpen ini cerita di perpustakaannya apalagi yang suka ngasih vote, Terimakasihh<3.
KAMU SEDANG MEMBACA
Line Of Destiny [On Going]
General FictionAqila hanya seorang mahasiswa semester lima, yang menjalani kehidupan perkuliahannya tanpa keluhan, hidupnya monoton, teman-teman menyebutnya mahasiswa kupu-kupu. Pergi kuliah dan pulang tidak mengikuti satupun organisasi di kampusnya, sesekali ber...
![Line Of Destiny [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/249267760-64-k650693.jpg)