*********
Hubungan Aqila dan Rafli membaik setelahnya. Walaupun masih jarang bertemu atau berpapasan secara tak sengaja— Karna Aqila lebih memilih menghindar, tapi mereka jadi lebih sering berhubungan lewat Chat. Semenjak Aqila yang memberikan bekal itu, setelahnya ia jadi lebih menghindar, alasannya Karna Aqila masih malu untuk berhadapan langsung semisal mereka bertemu atau tak sengaja berpapasan.
Rafli sudah hendak mengembalikan kotak bekalnya, tapi Aqila bilang tak usah, seandainya tak di kembalikan pun tak masalah.
Hari ini Ajeng tak masuk kuliah, ada acara keluarga katanya, Adik sepupunya menikah dan Ajeng menjadi salah satu Bridesmaid-nya. Ketika selesai mata kuliah hari itu, Sinta --Salah satu teman kelasnya, yang tak melihat kehadiran Ajeng pun mengajak Aqila untuk minta di temani ke Gor tempat futsal, menemui pacarnya entah ada keperluan apa. Awalnya Aqila menolak Karna bosan selalu di jadikan kacung oleh teman-temannya yang berpacaran, tapi Sinta memaksa katanya urusannya hanya sebentar.
Sebentar apanya, Aqila mendumel dalam hati, ketika melihat Sinta yang tengah mengobrol di sisi lapangan dengan pacarnya.
Ketika pandangannya beralih melihat orang-orang yang baru beristirahat dari bermain bola, pandangannya bersirobok dengan cowok di ujung lapangan, dengan kaos tanpa lengan yang bagian perutnya seperti sengaja di singkap ke atas, mungkin mengusir gerah, Karna seluruh tubuhnya banjir berkeringat.
Rafli tersenyum kecil ketika Aqila memutuskan pandangan mereka, tindak tanduknya seperti salah tingkah. Rafli tau cewek itu memang pemalu, apalagi ketika di sekeliling mereka ada teman-temannya. Tapi Rafli mana peduli, ia malah sengaja berdiri menghampirinya.
Aqila yang menyadari cowok itu berjalan menghampirinya, ia menahan nafas. Lantas memilih berpura-pura menyibukkan diri dengan gawai di tangannya, sekaligus mengalihkan gugup.
Rafli duduk di sebelahnya dengan memberi sedikit jarak. "Tumben kesini ngapain?"
Aqila menatapnya Sekilas, dan menunjuk Sinta dengan dagunya. "Nganter Sinta,"
Rafli mengangguk, "Temen yang satunya lagi kemana?"
"Gak masuk, ada acara keluarga katanya."
Rafli hanya mengangguk seraya ber-oh mengerti.
"Nanti sore kemana? Ada acara gak?"
Aqila melihat jam di ponselnya, jam 14.50 udah mau sore. Rafli yang juga melihat itu meringis kecil tak sadar waktu sudah hendak sore.
"Gak ada si, paling abis ini pulang katanya Sinta mau nganterin." Aqila yang kebetulan sedang tak membawa kendaraan hari itu meng-iyakan, ketika Sinta menawarkan untuk mengantarnya pulang.
Rafli melihat kearah Sinta yang sepertinya selesai mengobrol dengan pacarnya. "Sama gue aja gimana?"
Aqila melihatnya bingung, ia terlanjur meng-iyakan ajakan Sinta. Tak enak jika tiba-tiba ia membatalkan, tapi bibirnya juga entah kenapa sulit sekali menolak ajakan cowok ini.
"Kamu tunggu aja di parkiran, ini mau ganti baju dulu, gak enak banget lengket, bentar kok." Ucap Rafli ketika melihat raut kebingungan Aqila.
Bukannya mendengarkan kalimatnya, Aqila malah salah fokus pada salah satu kata yang laki-laki itu gunakan. Kamu. K.a.m.u.
Aqila mengangguk sedikit ragu. Rafli berdiri dari duduknya mengangguk pada Sinta sebagai tanda menyapa sebelum akhirnya pergi dari sana. Sinta melihat mereka dengan tatapan curiga. Lalu beralih menatap Aqila menuntut jawaban, tapi cewek dengan jilbab pashmina itu malah mengidikan bahu.
"Yaudah yuk,"
Aqila mengangguk, berjalan keluar dari GOR. Belum memberitahu Sinta bahwa ia pulang dengan Rafli nanti. Baru ketika mereka sampai di parkiran Aqila memanggil Sinta ketika cewek itu hendak memarkirkan motor.
KAMU SEDANG MEMBACA
Line Of Destiny [On Going]
General FictionAqila hanya seorang mahasiswa semester lima, yang menjalani kehidupan perkuliahannya tanpa keluhan, hidupnya monoton, teman-teman menyebutnya mahasiswa kupu-kupu. Pergi kuliah dan pulang tidak mengikuti satupun organisasi di kampusnya, sesekali ber...
![Line Of Destiny [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/249267760-64-k650693.jpg)