part 5.

1.9K 101 1
                                        

Kali ini Aqila berangkat kuliah diantar oleh Adiknya yang kebetulan akan berangkat sekolah, karna hari ini ia sedang malas membawa kendaraan, ya hitung-hitung mengurangi polusi asap kendaraan.

Sesampainya di depan kampusnya, tiba-tiba saja tak tau debu atau apa karna matanya serasa ada yang masuk, membuat matanya susah terbuka.

"Aduh ... aduh bang bentar." Ucap Aqila dengan menepuk-nepuk pundak Fahmi--adiknya.

"Apaan si kak?!" Fahmi bertanya dengan raut kesal mungkin karna tepukan di pundaknya cukup keras.

Aqila yang sedang mengucek mata pelan itu menunjuk matanya. "Ini .. tiupin perih."

Fahmi pun menyingkirkan tangan Aqila yang menutupi matanya dan meniupnya beberapa kali, Aqila mungkin tak sadar dengan posisi seperti ini orang-orang yang melihatnya akan salah paham.

Setelah Fahmi menjauhkan kembali kepalanya, Aqila mulai mengerjepkan matanya menyesuaikan cahaya.

"Kenapa?" Tanya Aqila yang melihat Fahmi malah terus menatapnya tanpa berniat melajukan kembali motornya.

"Ck. Itu .. minta ehm .. duit." Ujar Fahmi dengan memelankan kata 'duit'

Aqila merubah raut wajahnya datar. "Kamu gak ikhlas anterin kakak?" Tanyanya dengan suara pelan.

Fahmi menggaruk belakang kepalanya, meringis dalam hati. "Ehee bukan gitu."

Seakan teringat sesuatu, Aqila merogoh saku kulotnya, setelah ketemu ia memberikan pada adiknya. "Nih, udah ya."

Fahmi melongo melihat satu lembar uang di tangannya. "Kak yang bener aja ngasih abang uang dua rebu? Cabe aja minimal tiga atau lima rebu kak."

"Kata siapa? Kalo mau cabe dua rebu belinya di warung, jangan di abang abang sayur."

Fahmi mendengus, tapi tak urung ia memasukan uang itu ke dalam saku celana, dan menyalakan motornya kembali. "Assalamualaikum!"

"Waalaikumsalam."

■■■

Setelah menyelesaikan mata kuliahnya, di perjalanan menuju kantin Aqila merasa beberapa orang melihat kearahnya dengan pandangan mencurigakan, membuatnya cukup risih, awalnya ia tak memusingkan tapi lama-kelamaan orang-orang itu terlihat terang-terangan menggosipkannya. Aqila memilih menahan rasa penasarannya.


Dan sesampainya di kantin. "Eh bentar." Aqila menahan Ajeng yang hendak pesan makanan.

"Itu ... eh gak jadi deh, kamu pesen dulu punyaku samain aja."

"Dih? Yaudah bentar."

Setelah beberapa saat, Ajeng kembali dengan pesanan mereka. Hanya batagor dengan minuman.

"Tadi lo mau ngomong apa?" Tanya Ajeng dengan tangan mengaduk ngaduk makanan.

"Kamu ngerasa gak kalo orang orang kayak lagi gosipin aku?"

"Hah? Orang orang siapa?"

"Ya orang orang, keliatan tadi pas mau kesini."

Ajeng menganggukan kepalanya mengerti. "Tapi gue gak tau si, gak merhatiin." Aqila mendengus mendengar jawaban Ajeng.

Selesai makan, Aqila melirik jam di ponselnya pukul 10 : 00 masih ada waktu. "Kamu abis ini mau kemana?"

"Ke kelas lagi maybe, nonton drakor." Aqila mengangguk. "Kenapa emang?"

"Enggak, yaudah yuk. Udah bayar kan? Aku mau duha dulu."

"Gak papa lo sendiri?"

"Udah biasa kali."

Setelah keluar dari area kantin, mereka berpisah karna mushola kampusnya kalo dari kantin tak searah dengan kelasnya.

Tapi dipertengahan jalan, aqila berpapasan dengan Rafli dkk, sebisa mungkin Aqila berjalan senatural mungkin.

Ia kira, tak akan berkendala melihat mereka memang sepertinya sedang mengobrol asik, hingga menghiraukan orang-orang sekitar. Tapi, tidak dengan satu cowok yang berjalan sambil memainkan ponsel--Rafli, dengan masih melihat jalan lewat ekor matanya sehingga tak ada adegan tabrak menabrak. Tapi saat Aqila akan melewatinya, Rafli seakan menghalangi jalan bukan, bukan disengaja tapi mungkin saja Rafli juga merasa orang didepannya menghalangi jalan, sehingga saat ia bergeser ke kanan orang didepannya juga kekanan, kekiri ikut kekiri.

Aqila yang jengah, memilih menepi untuk mempersilahkan. Rafli yang tadi hanya bisa melihat bagian kaki si penghalang, memilih mendongak mengalihkan atensinya pada cewe didepannya, matanya melotot melihat siapa si penghalang jalannya. Tapi, pikiran Aqila bahwa Rafli akan menyentaknya lenyap, kala cowok itu hanya berdecak dengan menatapnya jengah dan kembali berjalan.

Syukurlah.

■■■
T

BC!

Line Of Destiny [On Going]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang