"Lalat memang lebih menyukai bangkai daripada bunga."
____
"Coba tanyakan lagi pada hatimu
Apakah sebaiknya kita putus atau terus
Kita sedang mempertahankan hubungan
Atau hanya sekedar menunda perpisahan." Penonton nampak mengikuti nyanyian dari pertunjukan band yang di undang diacara itu.
Aqila sesekali mengusap telinganya yang terasa terusik dengan teriakan superr nyaring di sebelahnya, apalagi lagu yang dinyanyikan saat ini lagu kesukaan ajeng, semakin membuat semangat cewek itu menggebu.
Aqila mencubit lengan ajeng, dan mendekatkan mulutnya pada telinga sahabatnya itu. "Aku kebelakang ya, kamu sama sinta aja." Ucapnya dengan suara berteriak supaya suaranya bisa didengar, karna suasana disana benar benar berisik.
Setelah ajeng menoleh, dan mempersilahkan, aqila pun undur dari sana berjalan dengan sedikit hati hati. Huh, salahkan ajeng yang tadi menyeretnya tepat didepan panggung, akibatnya sekarang kesulitan keluar.
Suasananya memang nampak ramai sekali, tapi sayangnya aqila tak bisa menikmati dengan posisi yang terlalu berdesakan, padahal jika menonton dibelakangpun masih kelihatan.
Niatnya sekarang hendak ke toilet terlebih dulu, tapi ditengah jalan bahunya bertabrakan dengan seseorang yang berjalan berlawanan arah.
"Duh sorry sorry." Ucap seorang pemuda yang menabrak bahunya.
"Ah ya gak papa." Aqila memudurkan langkahnya sedikit dan menggeser untuk memberi jalan. Dihadapannya ini dua orang pemuda dengan seragam SMA.
"Kebetulan kak mau tanya, toilet cowok dimana ya."
"Ohh itu lurus dikit terus belok kanan, terus belok lagi ke kiri buat toilet cowok." Kedua pemuda itu mengangguk.
Pemuda yang tadi menabraknya nampak melihatnya atau lebih tepatnya menatap dengan pandangan yang membuat aqila tak nyaman. "Oke makasih, em kenalin." Pemuda yang tadi menabraknya itu mengulurkan tangan.
Aqila menangkup tangannya didepan dada.
Sedangkan pemuda yang satunya lagi nampak menertawakan temannya. "Hahahaa mampus lo gak mau disentuh."
Pemuda itu nampak menggaruk belakang kepalanya. "Bersih kok kak udah pake handsanitizer juga."
Aqila hanya menggelengkan kepalanya pelan. "Maaf ya."
Pemuda itu nampak menghela napas, dan beralih mengambil ponsel disakunya. "Yaudah minta nomor kakak atau line gitu, boleh dong, buat tanya tanya tentang kampus ini juga, ya siapa tau." Teman di sebelahnnya nampak menganggukan.
Aqila tetap menggeleng disertai senyum tak enak. "Maaf ya, sama yang lain aja kalo itu."
"Yah kakak, tapi kita mau sama kakak gimana dong." Pemuda disebelahnya nampak tersenyum jenaka.
Aqila nampak ingin segera menghilang dari sana sialnya suasana koridor itu nampak sepi. Kala pemuda itu semakin gencar memaksa Aqila memudurkan sedikit sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Ayo dong kak kita gak akan macem macem kok, cuma mau kenalan sedikit lah." Mata aqila mengedar kesekeliling, untuk mencari bantuan karna situasi benar benar membuatnya tak nyaman.
KAMU SEDANG MEMBACA
Line Of Destiny [On Going]
Fiction GénéraleAqila hanya seorang mahasiswa semester lima, yang menjalani kehidupan perkuliahannya tanpa keluhan, hidupnya monoton, teman-teman menyebutnya mahasiswa kupu-kupu. Pergi kuliah dan pulang tidak mengikuti satupun organisasi di kampusnya, sesekali ber...
![Line Of Destiny [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/249267760-64-k650693.jpg)