Baca part sebelum ini dulu ya, takut lupa:)
__________
Sehari ini sepertinya nasib buruk terus menimpanya. Aqila memang ingat kalo tidak ada hari yang sial ataupun keberuntungan, apalagi itu menurut zodiak, tidak Aqila tidak percaya itu.
Tapi, hari ini benar benar apes. Dari pagi yang di awali ban kempes saat ia menuju kampus hingga sampai saat ini jam menunjukam pukul delapan malam, moodnya tak kunjung membaik. Puncaknya, yang paling membuatnya sampai ingin menangis ialah sekitar satu jam yang lalu, selepas magrib, kedua orang tuanya mengajak berbicara serius dengannya, yang ternyata menasehatinya untuk tidak boleh berpacaran, ataupun berhubungan dengan laki laki yang bukan muhrim. Yang ternyata juga orang tuanya berbicara seperti itu berkat laporan kedua adiknya yang mengadu pada mereka persoal Rafli yang menitipkan martabak untuknya, entah keduanya atau pun salah satu adiknya yang mengadu yang jelas ini semua salah paham!
Beberapa kali pun ia menyangkal bahwa ia sungguh tak menjalin hubungan apapun dengan laki laki, kedua orang tuanya tetap saja menasehatinya panjang lebar sampai memojokkannya, katanya lagi "benar atau enggaknya kamu tetep harus hati hati, jangan terlalu dekat sama laki laki mau teman sekali pun sebisa mungkin jangan berduaan, inget istiqomah, katanya mau berubah" gitu katanya.
Ia tak masalah sebenarnya kalo orang tuanya menasehati panjang lebar seperti itu, tapi tapi tapii masalahnya saat ini moodnya sedang dalam kondisi buruk, ditambah bawa bawa istiqomah, ia juga tau istiqomah itu susah tapi bukan berarti tekadnya tak kuat juga sampai mau menjalin hubungan yang jelas dilarang.
Selepas salat isya, ia mengambil ponselnya, ada pesan masuk dari beberapa temannya hanya menanyakan perihal tugas mata kuliah, ia membalas pesan itu satu persatu, sampai semua pesan dari teman temannya yang menanyakan tugas sudah ia balas semua, barulah ia membuka pesan dari bawahnya-- dari Rafli-- yang dikirim empat jam yang lalu.
________
Rafli
Qila?
Gue minta maaf soal yang tadi siang
Qil, tadi gue nitip sama adek lo ada gak? Anggep aja sebagai permintaan maaf.
________
Aqila mendengus, bagaimanapun Rafli ikut berkontribusi membuat harinya nambah apes udah mah ngebentak eh nyebabin ia di sidang oleh kedua orang tuanya-- meskipun sebenarnya niatnya baik.
Sebenarnya ia tak berniat membalas karna pesan itu dikirim tadi sore, tapi mengingat Rafli sudah memberinya makanan yang tentu seharusnya ia berterima kasih meski-- katanya itu sebagai permintaan maaf-- tetap saja tak enak kalo ia mengabaikan begitu saja, jadilah ia memilih membalasnya.
______
Saqila
Iya gakpapa
Iya ada, makasih
Lain kali gak usah gitu lagi🙏
_______
Sekitar dua menit pesan itu terkirim, barulah ada balasan dari Rafli.
_____
Rafli
Kaya gitu gimana?
Yang ngebentak? Sorry sekali lagi gue bener bener gak tau, iya nanti gak gitu lagi☺
_______
Saqila
Bukan itu, jangan nitip pesan atau apapun itu sama adek aku
_______
Rafli
Oohh itu
Kenapa emang?
_______
Saqila
Pokonya jangan gitu lagi
________
Rafli
Iya deh nanti gak gitu lagi
Abisan tadi gue gak liat lo-
________
Puk! "Anjir," Rafli mengalihkan atensi dari ponselnya ke arah Fadlan yang melempar kepalanya dengan bantal. "Apaansi lo?!"
"Elo apaan, kenapa lo keluar gitu aja, gak liat tadi kita hampir menang?" Ucap Fadlan dengan raut kesal, ya gimana enggak, ditengah permainan yang mulai memanas si kampret malah keluar seenaknya, ya mati lah ia diserbu musuh. Dilihatnya rautnya, Rafli seperti baru menyadari sesuatu.
Rafli mendengus pelan, "Ya sorry, lupa." Ucapnya tanpa melihat sang lawan bicara.
"Dihh bisa lupa sama game lo?" Tanya Fadlan sarkas. Ia menyenggol Zidan yang tengah bertukar pesan dengan pacarnya, "Temen lo napa dah."
Zidan menyeringai, ia mengerti kekesalan Fadlan, ia juga tak sengaja melihat Rafli tengah bertukar chat dengan sahabat pacarnya. "Lagi pedekate dia," Jawabnya.
"Sama siapa? Adik tingkat itu?"
"Adik tingkat siapa dah anjir, so' tau banget." Ucap Rafli sewot.
"Ya si Indri anggota BEM, siapa lagi?" Fadlan, menjawab seperti itu bukan tanpa alasan, adik tingkatnya-- Indri memang sering menanyakan perihal Rafli ketika tengah perkumpulan organisasi.
"Bukan dia, tapi si Aqila, sahabat pacar gue," Zidan menjawab.
Alis Fadlan tertarik keatas, "Lah lo beneran mau deketin dia?"
Sekarang Rafli melihatnya, dengan pandangan tak sesantai tadi, sedikit waspada, "Emang kenapa?"
Fadlan menyadari raut Rafli yang mulai berbeda, sepersekian detik ia mengatup bibirnya. Bukannya takut atau waspada ia malah ngakak, Entahlah raut Rafli yang seperti menurutnya malah minta ditertawakan, komuknya tak sesuai dengan pribadinya, "Yaa .. gak papa, kek emang dia mau sama lo?"
"Pppfftftt," Zidan disebelahnya tak sengaja mengeluarkan bunyi tawa tertahan.
Rafli mendengus, kesal melihat kedua temannya yang seakan akan menyepelekannya, padahalkan ia ganteng, emang gak terlalu pintar si tapi tak bodoh juga, soal materi ia emang bukan anak konglomerat atau pejabat, tapi ia merasa cukup, ibunya punya usaha sendiri sedang ayahnya punya jabatan yang menjamin di perusahaan tempat kerjanya.
"Liat aja nanti." Gumamnya yang masih bisa di dengar oleh kedua temannya.
Fadlan dan Zidan saling pandang sepersekian detik keduanya menganggukan kepalanya dengan senyum tertahan seakan mempunyai pikiran yang sama.
Rafli memang bukan tipe orang yang humoris atau gemar bercanda, ia juga tau kalo adik sepupunya ini sering berantem apalagi ketika mereka masih duduk dibangku SMA, awal kuliah juga masih, tapi tak begitu sering, tapi nakal sewaktu awal kuliah itu menurutnya agak rawan karna bukan lagi adu jotos yang dilakukannya melainkan juga sering pergi ke club, minum minuman keras sampe teler.
Walaupun memang kenakalan kenakalan itu tak ada mendingnya, tapi dengan pergi ke club tak menutup kemungkinan juga Rafli bisa terjerumus dengan zina, yang sering meniduri setiap wanita walaupun tak saling kenal bahkan mungkin tau nama pun tidak, lebih buruk lagi ibunya tau kelakuan anaknya naudzubillah. Untunglah menurutnya Rafli masih tak begitu telat untuk berubah.
Memang si melakukan kenakalan seperti itu terdengar serem, mungkin itu juga yang membuat Rafli bisa melakukan kenakalan itu agar dinilai macho. Padahal kalo dirumah tetap saja tak bisa melawan ibunya, apa yang dikatakan ibunya, Rafli hanya bisa menggangguk, manja juga, dan lagi ini hanya segelintir yang tau, kalo Rafli itu penakut terlebih pada hal hal berbau horor bahh. Masih ingat ketika itu, tantenya sering bercerita ketika listrik rumah padam, Rafli sering berteriak memanggil ibunya padahal jam masih menunjukan pukul setengah sembilan. Belum lagi ia sering menjailinya dengan Zidan, seperti sengaja menonton film horor dengan volume besar, atau juga ketika mereka tengah berjalan dimalam hari, dan keadaan tengah sepi, ia dan Zidan dengan sengaja mempercepat langkahnya atau bahkan lari hanya demi melihat Rafli ketakutan.
________
7agustus2021
Ig :@pluvi31
KAMU SEDANG MEMBACA
Line Of Destiny [On Going]
Fiksi UmumAqila hanya seorang mahasiswa semester lima, yang menjalani kehidupan perkuliahannya tanpa keluhan, hidupnya monoton, teman-teman menyebutnya mahasiswa kupu-kupu. Pergi kuliah dan pulang tidak mengikuti satupun organisasi di kampusnya, sesekali ber...
![Line Of Destiny [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/249267760-64-k650693.jpg)