part 16.

1.2K 65 1
                                        

(Boncengan?)

______
"Bangga sama diri sendiri itu emang baik, tapi inget! Jangan sampai menjatuhkan orang lain hanya untuk mengangkat derajat diri sendiri."
________

"Ada apa si kaya rame banget." Aqila bertanya, matanya melihat keadaan kantin yang sangat ramai ada satu kelompok meja yang sepertinya sedang berdiskusi.

"Ohh itu kayanya lagi bahas buat acara lusa deh." Sinta menjawab.

Kali ini aqila berkumpul dengan sinta dan rena salah satu teman kelasnya juga, karna kebetulan sahabatnya--ajeng, tak masuk hari ini.

"Oh yang lomba lomba tingkat SMA kaya taun kemaren itu ya?" Tanya aqila dibalas anggukan oleh sinta.

"Katanya taun sekarang bakal ngundang band dari luar juga,  biar gak bosen juga."

"Wah bagus dong." Rena menggubaskan rambutnya kebelakang. "Harus perawatan dari sekarang nih, ya siapa tau bisa ehem." Rena berucap sambil bercermin pada ponselnya.

Sinta memutar bola matanya, lalu melempar kulit kacang ke arah rena. "Gak usah ganjen lo!"

"Ish sirik aja lo, kan siapa tau jodoh gak ada yang tau ya gak qil?"

"Iya ren iya, tapi inget dekatkan dulu penciptanya baru makhluknya." Ujarnya diakhiri dengan kerlingan matanya.

Sinta tertawa melihat rena yang terbungkam. "Ha ha ha shalat aja lo bolong bolong."

Rena menggaruk jidatnya. "Yaa gimana ya qil, setan di tubuh gue tuh kayanya permanen gitu jadi gak bisa lepas."

"Alaah lo nya aja yang lebih nurut sama setan dari pada malaikat. Giliran kena adzab lo bilangnya tuhan gak adil, sehat wahai manusia?" Serkas sinta.

Aqila terkekeh. "Bener tuh yang dibilang sinta."

"Iya iya deh doain aja doain." Ujar rena sambil menyeruput minuman didepannya.

□□□

"Mang kuey teownya satu ya."

"Siap neng." Aqila berdiri di samping gerobak penjual kuey teow itu sambil melihat si abang yang tengah memasak.

"Bang kuey teownya tiga bungkus." Suara itu berasal dari belakangnya, aqila lantas melihat kebelakang. "Eh?" Refleknya saat melihat pemuda yang dibelakangnya.

Sedangkan pemuda didepannya yang tak lain ialah, rafli nampak berdecak. "Lo lagi."

Aqil lantas menggeser posisinya ke kiri sekedar menjaga jarak tapi, sebuah tangan menarik pergelangan  tangannya untuk kembali pada posisi semula. "Lo bosen hidup apa gimana? Liat posisi." Ujar rafli sambil menunjukan dengan dagunya ke arah kiri mereka yaitu jalanan yang nampak ramai jika saja tadi rafli tak menariknya, tak menampik kemungkinan aqila bisa terserempet.

"O-oh iya sorry." Ucap aqila kemudian menghela napas, kembali pada posisinya.

"Kalo ngingetin perempuan jangan kasar mas, kasian tuh si nengnya malah takut." Ujar si abang penjual yang tengah membungkus pesanan mereka, rafli hanya bergumam sebagai tanggapan.

Aqila mengambil pesanannya dan membayar, kemudian beranjak dari sana setelah mengucap terima kasih, menatap rafli memberi senyum sedikit sangat sedikit ya tak lebih hanya sebagai formalitas.

Saat setengah dari perjalanannya, terdengar bunyi klakson motor sebelum akhirnya berhenti di sampingnya. "Mumpung hari jumat, gue mau berbuat berkah, mau nebeng gak?" Ujar rafli.

Aqila sempat terkejut untuk sesaat. "Gak usah." Ujarnya berusaha tak menampilkan raut keheranannya.

"Ck, gede gengsi." Rafli kemudian beralih menatap depan bersiap. "Nyesel ber-"

"Yaudah kalo maksa." Ujar aqila memotong ucapa rafli, dan berjalan mendekati motor.

"Dih? Lawak lo?" Ujar rafli melirik sedikit kebelakang dimana aqila baru saja duduk dibelakangnya.

Untungnya kali ini rafli menggunakan motor matic. "Ya kan." Aqila mengalihkan pandangannya kearah lain. "Rejeki gak boleh ditolak." Lanjutnya dengan suara pelan atau mungkin berupa gumaman.

Rafli menggelengkan kepalanya, meski tak mendengar gumaman terakhir aqila, tapi dapat disimpulkan bahwa cewe dengan segudang gengsinya yang tinggi. Tanpa aba aba terlebih dahulu ia melajukan motornya dengan kencang membuat aqila reflek memegang jaket denim yang ia kenakan, kemudian sebuah tangan memukul punggungnya tidak keras namun cukup berasa.

"Gak usah modus!" Ujar aqila setelah melepaskan pegangannya.

Rafli mengatup bibirnya kedalam, menahan tawa yang siap keluar melihat raut aqila dari kaca spion yang nampak menekuk disertai bibir yang berkomat kamit sepertinya cewek itu nampak menggerutu.

Rafli memberhentikan motornya disebuah rumah berlantai dua. "Ini kan?"

"Iya." Aqila kemudian turun dari motor. "Makasih." Ucapnya, dibalas deheman singkat dari rafli dan kembali melajukan motornya.

Aqila berbalik membuka gerbang rumahnya, dan kembali menutupnya saat kembali berbalik. "HAYOO DIANTERIN SIAPAAA?" sebuah suara adik laki lakinya mengagetkannya.

"IIH Abang apaan deh, ngagetin aja." Ucap aqila, kembali berjalan tanpa memperdulikan adiknya.

Adik aqila--fahmi mencolek pundak sang kakak. "Hayooo kakak pacaran ya?" Tuduhnya dengan mata memicing.

"Nggak."

"Bohong!"

"Yaudah." Aqila nampak tak peduli.

"Tuh kan! MAMAA." Aqila reflek menginjak kaki adiknya cukup keras. "Aakhh, kakak apaansi." Fahmi masih meringis sambil memegangi kakinya yang nampak berdenyut terutama jempol.

"Kamu yang apaan? Maen fitnah orang aja."

"Dih orang kakak tadi yang ngaku."

"Ngaku apa? Bilang yaudah karna males ngeladenin bukan nge-iyain." Aqila mencubit tangan fahmi karna gemas.

"Aaakh ssh, kak sumpah sakit tau ini." Fahmi memasang wajah menekuk.

Aqila nampak acuh, dan kembali melangkah kedalam rumahnya, untung saja adeknya tadi tak menyadari plastik berisi kuey teow ditangannya.

□□□
Tbc!
11feb2021

Line Of Destiny [On Going]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang