Hyuuga Neji adalah salah satu dari sedikit orang yang menikmati saat ia terbangun sebelum matahari terbit. Kebiasaannya sejak dulu membawanya terbiasa untuk bangun tanpa alarm lalu melanjutkan rutinitasnya.
Langit masih gelap saat Neji meninggalkan tempat tidurnya untuk bersiap lari pagi di sekitar komplek. Ia tersenyum saat sudut matanya mendapati sosok Y/N yang masih tertidur lelap. Istrinya mengerang ketika sisi lain kasurnya terasa dingin lalu menggeliat kecil dan kembali pulas begitu selimut mengurung dirinya sambil mengubur bagian wajahnya di bantal Neji. Dengan mengenakan kaus tipis dan celana training, Neji berusaha meninggalkan kamar tanpa suara, tidak ingin membangunkan istrinya yang lebih senang tidur lebih lama.
Setelah selesai, biasanya Y/N masih tertidur. Dalam pandangan subjektifnya, Y/N tampak damai dengan seberkas cahaya matahari yang menyinari wajahnya dari sela tirai jendela. Tidak tahan dengan ekspresi menggemaskan istrinya, Neji tidak segan meninggalkan ciuman singkat di kening dan puncak kepala Y/N.
"Y/N," panggil Neji. "Sudah waktunya kau bangun."
Tidak ada respon yang berarti.
Iris lilacnya berkilat jahil. Ia duduk di samping Y/N yang memeluk bantalnya lalu mendekatkan wajahnya pada Y/N. Neji menghujani wajah Y/N dengan ciuman kecil, meninggalkan sensasi geli di setiap bagian yang dapat ia jangkau. Kekehan kecil melesak. Y/N menggeliat, mencoba melarikan diri dari Neji.
"Neji!" hardik Y/N. "Neji hentikan! Aku bangun. Aku sudah bangun!"
"Jangan tidur lagi," Neji mengingatkan. Ia meraih tangan Y/N yang mendorong bahunya. "Mandi. Setelah itu kita sarapan."
Y/N mencebik, tidak suka karena tidurnya diganggu. "Aku mau roti lapis hari ini."
"Dengan telur, keju dan daging tanpa mayonais?" tanya Neji dengan sebelah alis terangkat. Ia mengecup punggung tangan Y/N ringan. "Aku tidak akan lupa dengan rotinya sedikit dipanggang dan kau ingin tambahan sosis?"
Senyum Y/N merekah mendengar Neji mengingat kesukaannya. "Kau yang terbaik, Neji."
"Aku suamimu. Mana mungkin aku lupa kesukaanmu," Neji menyeringai kecil, senang dengan efek yang ia timbulkan pada Y/N walaupun sudah hampir setahun menikah. "Dan Y/N? Aku bisa menjadi yang terbaik karena kau istriku."
Puas dengan pekikan malu dan rona di wajah istrinya, setelah mandi tujuan berikutnya adalah dapur.
Sudah menjadi aturan tak tertulis di kediaman mereka bahwa yang memasak sarapan adalah Neji. Berkebalikan dengan Neji yang merasa lebih produktif di pagi hari, Y/N lebih sering menghabiskan waktunya untuk menyelesaikan pekerjaan hingga dini hari. Tidak heran kalau wanitanya lebih memilih untuk tidur satu jam lebih lama daripada sarapan.
Mengetahui hal ini, Neji bersikeras untuk memasak sarapan terlepas dari protes wanitanya yang berkata bahwa ia akan baik-baik saja tanpa sarapan. Namun, karena Neji adalah penganut 'sarapan adalah bagian terpenting dalam sehari', ia tidak ragu memaksa istrinya untuk menelan apapun yang ia masak hari itu. Ia sudah bersumpah di depan altar untuk menjaga dan menyayangi istrinya. Sumpahnya juga termasuk memastikan bahwa Y/N tidak melewatkan makan dan istirahatnya.
"Selamat pagi, Putri Tidur," sapa Neji seraya menaruh segelas susu hangat di depan Y/N.
"Selamat pagi," Y/N menyesap minumannya pelan. "Aku ada rapat sore nanti, mungkin akan pulang sedikit terlambat."
"Aku juga harus bertemu dengan klien untuk membahas konsep taman kanak-kanak saat makan malam," Neji menaruh sepiring roti lapis beserta sosis yang diinginkan Y/N. "Nanti pulangnya kujemput saja."
KAMU SEDANG MEMBACA
Naruto One Shots
Hayran KurguCuma kumpulan dari berbagai karakter yang ada di Naruto. (Request CLOSED)
