Dulu saat badai datang dan petir menyambar langit seakan ingin membakar siapapun yang berani menantangnya, ia selalu ada di sampingku. Ketika ada tangan yang siap melukaiku seperti sambaran petir, ia selalu menahannya dengan tatapan tajam. Entah sejak kapan aku mulai bergantung padanya, mulai terbiasa dengan sosoknya, mulai terbiasa dengan perlindungannya.
Saat masih kecil, aku adalah satu dari sedikit orang yang menyukai petir karena saat muncul ia meninggalkan secercah cahaya yang menghiasi langit gelap. Semua itu berubah saat umurku tujuh tahun. Seseorang yang kupercayai, yang kusayangi, tiba-tiba saja menamparku keras, menyiksaku saat badai datang, mengurungku di kamar yang gelap saat suara guntur memekakan telinga. Mulai saat itu aku membenci petir, tidak hanya benci, aku juga takut padanya.
Biasanya saat badai datang, Sasuke sudah berada di apartemenku. Walaupun ia datang hanya untuk menggangguku atau hanya diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun, tapi kehadirannya mampu membuatku tidak menjerit ketakutan selama badai berlangsung. Kuberitahu satu hal tentang Sasuke, ia pandai bermain piano. Kalau sedang menginap, ia pasti memainkan banyak lagu untukku dengan piano yang memang ia tempatkan di apartemenku karena ia lebih sering menghabiskan waktunya di tempatku daripada di rumahnya, masih dengan jawaban khasnya saat aku meminta lebih banyak lagu yang ia mainkan.
Pernah sekali waktu, badai datang dengan ganasnya, sementara Sasuke tidak bisa datang ke apartemenku karena masih ada rapat OSIS dengan anggotanya. Sebagai ketua ia tidak bisa mengabaikan tanggung jawabnya yang besar itu. Berulang kali aku menahan keinginan untuk meraih ponsel dan menelponnya sambil merengek yang menurutku tidak elit sama sekali, tapi sebelum melaksanakan keinginanku itu entah bagaimana caranya ia bisa memelukku dengan tubuh basah kuyup saat badai sudah berlangsung selama lima belas menit. Saat aku menanyakannya ia hanya menjawab.
"Kau tidak perlu tahu, Y/N. Yang terpenting, aku bisa datang saat kau membutuhkanku," katanya sambil meraih salah satu handuk untuk mengeringkan rambutnya. Bajunya yang setengah terbuka dan memperlihatkan tubuhnya membuat perhatianku teralihkan dan tidak memaksa meminta penjelasan lebih jauh.
Sampai sekarang pun aku tidak mengerti ucapannya itu, tapi yang kutahu ia selalu ada untuk menolongku, kapanpun itu. Saat ia pergi bersama dengan teman-temannya dan meninggalkanku, ia selalu menelponku dua jam sekali hanya untuk menanyakan hal yang sepele, seperti sudah makan atau sedang apa, lalu memutuskan percakapan. Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiran pemuda itu.
Sekarang, untuk pertama kalinya Sasuke tidak bersamaku saat badai berlangsung. Tidak mungkin juga untuk memintanya berada di dekatku karena ia sendiri berada di seberang dunia untuk berlibur ke Amerika. Aku menolak untuk ikut dengannya karena tidak terbiasa dengan bahasa yang tidak terlalu kupahami. Jadilah aku sendirian di kamar dengan guling yang menutupi kedua telingaku untuk meredam suara petir sambil berdoa kalau badai kali ini tidak akan lama, tanpa kusadari air mataku sudah mengalir saat mengingat kejadian mengerikan saat masih kecil.
Hampir saja suara petir mengalahkan dering ponselku. Saat kulihat ID penelpon, tidak bisa kutahan lonjakan senang dalam hati.
"Halo, Sasuke?"
"Y/N, kau baik-baik saja?" tanyanya. Aku bisa mendengar sirat nada khawatir di suaranya yang mau tidak mau membuatku tersenyum.
"Saat kau menelponku, aku merasa lebih baik. Bagaimana denganmu, Sasuke?" aku bisa mendengar suara berisik dari seberang tanpa ada suara Sasuke. Saat petir kembali menjerit, aku ikut menjerit takut.
"Hey, tidak perlu mendengarkan suara petir. Cukup fokus pada suaraku, oke Y/N?" suaranya terdengar jauh, nafasnya seperti terengah, mungkin ia habis berlari?
"Baik."
Kalau ada yang berkata Sasuke adalah orang yang cuek dan dingin, aku akan berkata sebaliknya. Tidak mungkin ada orang yang cuek, tapi begitu mempedulikan seseorang yang ketakutan seperti yang ia lakukan padaku sekarang. Tidak mungkin juga ada orang dingin yang mencoba untuk menenangkanku dari rasa takut.
Kutajamkan indra pendengaranku agar mendengar suara Sasuke. Alih-alih suara Sasuke, suara dentingan pianolah yang terdengar. Lagu instrumental yang dimainkannya terdengar familiar untukku, terlalu familiar saking seringnya ia mainkan untukku.
"Kau ingat lagu ini, Y/N?" suara Sasuke terdengar saat alunan piano berhenti. Aku yakin bisa melihat seringaian hanya dengan mendengar suaranya barusan.
Aku memekik senang. "Mainkan lagi, Sasuke. Mainkan lagi."
Lagu yang ia mainkan adalah First Love milik Utada Hikaru. Inilah lagu pertama yang membuatku jatuh cinta padanya, lagu pertama yang ia mainkan untukku dan lagu yang selalu membuatku teringat padanya. Aku memejamkan mata, mencoba menghayati permainan piano Sasuke yang tanpa cela. Ketika lagu habis dan mataku kembali terbuka, suara langkah kaki yang terdengar olehku.
"Kau suka?" suara Sasuke terdengar lebih keras dari sebelumnya.
"Tentu saja, aku suka. Aku selalu menyukai permainanmu, Sasuke," jawabku sambil mengernyit samar. Suara langkah kaki itu semakin terdengar dan ada bayangan di bawah pintu kamarku. Rasa takut mulai menyerang, bahkan suara petir saja tidak terdengar olehku saat ini.
"Baguslah. Seperti kau yang selalu menyukai permainanku, aku juga selalu mencintaimu, Y/N," bersamaan dengan kalimat itu diucapkan, pintu kamarku terbuka menampakkan sosok Sasuke yang berdiri dengan baju biru yang basah, rambut yang biasanya menarik begitu banyak perhatian para gadis itu terlihat kuyup, bibirnya menyunggingkan seringaian yang sangat kukenal. Melihatnya sekarang, membuatku teringat dengan kejadian beberapa tahun lalu.
"Eh, bagaimana kau bisa ada di sini, Sasuke?" tanyaku kaget hampir saja ponsel yang kupegang jatuh. Sasuke hanya menyeringai tipis, ia menghampiriku dengan langkah besar, lalu berjongkok saat berada tepat di hadapanku.
"Bukankah sudah kubilang? Kau tidak perlu tahu, yang terpenting aku bisa ada saat kau membutuhkanku," katanya mengulang ucapan beberapa tahun lalu. Ia mengusap pipiku, menghapus sisa air mataku, lalu tersenyum. Bukan seringai tipis atau senyum paksa seperti biasa, tapi ia benar-benar tersenyum padaku. Tanggal berapa ini? Peristiwa seperti ini harus diabadikan dan di rayakan setiap tahunnya.
"Apa kau serius dengan ucapanmu barusan, Sasuke?"
"Tentang aku mencintaimu? Tentu saja. Karena itu aku berjanji untuk ada setiap kali kau membutuhkanku, kau bisa membunuhku kalau aku mengingkari janjiku sendiri."
Aku tidak mengatakan apapun, hanya memeluknya erat. Berbeda dengan yang kupikirkan, saat memeluknya sama sekali tidak terasa dingin malah hangat, senyumku semakin melebar saat kurasakan lengannya melingkari pinggang dan bahuku. Senyumnya masih terasa di bahuku saat ia menyembunyikan wajahnya di sana. Katakan saja, karena dirinya aku tidak takut lagi pada petir.
KAMU SEDANG MEMBACA
Naruto One Shots
FanfictionCuma kumpulan dari berbagai karakter yang ada di Naruto. (Request CLOSED)
