Nara Shikamaru *Modern*

6.1K 421 33
                                        

Aku mengerang kesal menatap lembaran kertas dengan kumpulan angka yang bertebaran. Kalau ada yang bertanya apa yang bisa membuatku pusing dan hampir mati adalah matematika. Demi apapun pelajaran yang satu itu benar-benar membuatku gila. Ditambah lagi Asuma-sensei memilih untuk mengerjaiku daripada membantuku dengan membuat Shikamaru yang menjadi tutorku.

Kalau ada hal lain yang membuatku kesal adalah Shikamaru. Orang itu bisa tidur selama jam pelajaran dan bisa mendapat nilai sempurna saat ulangan, ia juga orang yang selalu mengatakan kalau semuanya merepotkan tanpa melihat keadaan, siapa yang tidak kesal dengan orang seperti itu? Rasanya kami-sama tidak adil bisa menciptakan otak sepintar itu di dalam tubuh semalas itu.

Hal itulah yang membuatku terjebak bersamanya di rumahnya setelah pulang sekolah, karena menurutnya belajar di perpustakaan sekolah sangatlah merepotkan. Kalau saja aku tidak menyukainya, sudah pasti aku akan membotaki kepala nanasnya itu sejak lama. Benar, aku menyukai si kepala nanas yang jenius dan malas yang selalu mengatakan kalau semuanya merepotkan. Menyebalkan sekali bukan?

"Y/N, kenapa kau hanya melamun. Kau harus memperhatikannya dengan benar atau nilai ulanganmu akan jelek dan kalau hal itu terjadi, Asuma akan semakin merepotkanku," Shikamaru membuyarkan lamunanku tentang dirinya.

Aku menghela nafas kesal dengan gerutuannya. "Bukan hanya kau saja yang merasa repot dengan semua ini, Shika. Aku juga repot."

"Memangnya salah siapa kau repot seperti ini? Aku yakin kau sama sekali tidak belajar dan bermain dengan ponsel merepotkanmu itu kan semalaman sebelum hari ulangan?" balas Shikamaru tidak mau kalah dengan nada malasnya.

"Namanya ponsel pintar, bodoh, bukan ponsel merepotkan," semburku kesal.

Shikamaru memutar bola matanya bosan. "Aku tidak peduli, menurutku tetap merepotkan kalau sampai membuatmu lupa kalau besoknya akan ada ulangan."

Sebenarnya aku tidak lupa kalau ada ulangan matematika, tapi ponselku terlalu menggoda dengan suara notifikasi dari berbagai sosial mediaku. Ditambah lagi aku sedang gemar membaca fanfic dari beberapa anime. Jelas saja melihat tokoh anime itu lebih menggoda dan menyenangkan daripada melihat kumpulan angka yang belum tentu kupakai untuk masa depanku, kan? Kurasa para penggemar anime diluar sana juga setuju denganku.

Aku menggembungkan pipi kesal mendengar jawaban Shikamaru, lalu bungkam. Aku tahu lebih baik daripada membalas ucapannya. Shikamaru tidak akan ragu melaporkan hasil kerjaku yang berantakan dan tidak fokus pada Asuma-sensei. Maklum saja, berbohong itu sangat merepotkan untuknya karena harus merangkai kebohongan baru kalau ada yang bertanya dan pertanyaan itu membuat kepalanya pusing. Kurasa Shikamaru memang manusia paling malas yang pernah diciptakan dimuka bumi ini.

"Dengarkan aku, Y/N. Aku akan mengulangi penjelasannya sekali lagi. Kalau kau tidak mendengarkan dan salah mengerjakan, aku akan bilang pada Asuma kalau kau tidak serius," kata Shikamaru serius. Setidaknya itu dugaanku sampai ia sengaja menguap lebar di depanku.

"Baiklah," balasku.

Aku mencoba sekuat tenaga untuk memfokuskan diri pada penjelasan panjang dan membosankan yang dikatakan Shikamaru tentang Trigonometri yang melibatkan sudut istimewa beserta dengan sinus, cosinus dan tangen. Pada akhirnya aku hanya memperhatikan raut wajah Shikamaru saja. Aku memperhatikan bentuk rambutnya yang lebih mirip nanas daripada rambut orang normal, matanya yang memancarkan rasa malas dan sedikit sirat keseriusan.

"Astaga, Y/N! Sudah kubilang fokus. Kenapa kau tidak bisa fokus juga?" tanya Shikamaru geram.

Aku mengangkat bahu. "Entahlah, mungkin karena penjelasanmu sangat membosankan?"

"Aku sedang menjelaskan tentang trigonometri, Y/N, bukannya mendongeng kisah putri tidur," desah Shikamaru kesal. Ia memijat pelipisnya yang kutebak terasa sakit, aku berani bertaruh kalau kepalanya pusing dan ia akan tidur dalam waktu yang sangat-sangat singkat. Setelah itu, aku tidak harus mendengarkan penjelasannya yang membosankan lagi.

"Baiklah, akan kuubah metodenya," putus Shikamaru. "Kalau kau sanggup mendapatkan nilai diatas delapan untuk ulangan besok, aku akan memberimu hadiah. Sebaliknya, kalau nilaimu di bawah itu aku akan meminta Tsunade-sama untuk membuatmu membersihkan satu sekolah selama satu bulan bersama Naruto. Bagaimana?"

"A-apa!? Diatas delapan? Gila, kau tahu aku tidak sebaik dirimu Shikamaru. Turunkan nilainya sedikit," pintaku. Bayangan membersihkan satu sekolah bersama Naruto membuat bulu kudukku meremang. Pasalnya, Tsunade-sama sendiri yang mengawasinya dan jika beliau melihat ada yang kotor, kami harus mengulang semuanya dari awal.

"Tujuh puluh lima dan tidak ada penawaran lagi," kata Shikamaru.

Aku menghela nafas mengalah. " Kalau begitu apa hadiah yang akan kudapatkan kalau nilaiku diatas standarmu?"

Shikamaru menyeringai kecil. "Itu masih rahasia. Dapatkan nilai diatas itu atau kau tidak akan pernah tahu apa hadiahmu, Y/N."
***
Aku menunggu di depan mading bersama dengan teman-teman yang penasaran dengan nilainya. Demi rambut bob Lee, aku belajar mati-matian agar mendapat nilai yang diinginkan Shikamaru untuk tahu apa yang sebenarnya akan ia berikan padaku sebagai hadiah. Sekarang ini, aku hanya bisa berharap agar tidak di bawah standar Shikamaru, aku tidak mau berbagi nasib dengan Naruto yang menjadi incaran Tsunade-sama, tapi juga menjadi murid kesayangan nomor duanya.

Mataku terbelalak lebar saat melihat hasil ulanganku. Berkali-kali aku mengecek agar memastikan kalau aku tidak sedang berkhayal atau semacamnya. Nilaiku delapan puluh satu! Nilaiku diatas standar yang ditetapkan Shikamaru. Tandanya aku harus mengucapkan selamat tinggal dengan senang hati pada nasib Naruto, juga menagih janji pada bocah pemalas itu.

"Kulihat kau berjuang dengan keras, Y/N."

Aku langsung menoleh begitu mendengar suara yang terdengar familiar di telingaku. Ternyata Shikamaru. Ia tahu kalau dirinya kalah, tapi kenapa ia masih bisa tersenyum tipis seperti ada yang lucu atau menyenangkan untuknya?

"Nah, sekarang mana hadiahku?" tagihku.

Shikamaru tidak membalas. Ia mempersempit jarak kami sampai hidungku dan hidungnya hampir bersentuhan. Aku akan memundurkan diri kalau saja lengannya tidak berada di pinggang dan memaksaku untuk tetap berdiri di hadapannya dengan canggung.
Hampir saja aku memekik saat Shikamaru mendekatkan wajahnya ke arahku. Aku melotot saat merasakan sesuatu yang lembut menyentuh pipiku, yang ternyata adalah bibir Shikamaru!!

"A-apa yang kau lakukan, Shikamaru!?" tanyaku masih kaget dengan apa yang baru ia lakukan.

"Mencium pipimu, memangnya apa yang kelihatannya kulakukan?" gerutu Shikamaru pelan. "Oh ya, kau akan menjadi kekasihku mulai saat ini."

"Sebenarnya apa maksudmu? Apa yang kau lakukan barusan?" kataku panik. Ini bukan seperti Shikamaru yang kukenal. Jangan bilang kalau ternyata sosok ini adalah Naruto atau Kiba yang sedang mengerjaiku.

"Memberi hadiahmu, tentu saja," jelas Shikamaru. "Aku tahu kau sudah lama menyukaiku, aku juga tahu kalau kau sering memperhatikanku diam-diam saat kau berpikir kalau aku sedang tertidur. Begitu juga denganku yang memiliki perasaan yang sama denganmu, dan terakhir kali kulihat kedua orang yang saling menyukai bisa menjalani hubungan sebagai pasangan kekasih."

"E-eh? Kau tahu kalau aku sering memperhatikanmu? Bagaimana bisa?"

"Memberitahumu tentang perasaanku sudah cukup merepotkan, Y/N. Aku tidak ingin menjelaskan apapun lagi. Lebih baik kau ikut denganku ke atap sekolah," Shikamaru langsung menarik tanganku begitu menyelesaikan kalimatnya.

"Untuk apa?"

"Kau lihat saja nanti."

Nah... Yang hari senin mau UTS ganbatte ya!!

Naruto One ShotsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang